Baca Qur’an di kuburan 

Hukum Baca Al-Qur’an di Kubur

Copy dr http://www.solusiislam.
Banyak diantara kaum muslimin yang belum mengetahui tentang Hukum membaca Al Quran di kuburan.Apakah membaca al Quran di kuburan itu dibolehkan, ataukah malah dilarang dalam agama kita.
Meskipun telah kita ketahui bahwa membaca al Quran adalah suatu ibadah yang mulia,tetapi dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat ulama tentang hukum membaca Al Quran di kuburan, ada ulama yang membolehkannya, namun tak sedikit dari para ulama yang tidak membolehkan membacanya di kuburan.
Bagi kita selaku orang awam, yang terpenting adalah melihat dalil-dalil dari kedua pendapat tersebut, karenadalam masalah khilafiyah, kita tidak boleh berhujjah dengan pendapat ulama saja, atau bahkan pendapat ‘kyai dan mbahku’. tapi hujah kita yang paling utama adalah Alquran dan sunnah.
Dalil-dalil pendapat yang membolehkan adalah sebagai berikut:
Pertama: Hadits Ibnu Abbas yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua buah kuburan, lalu Nabi mengabarkan bahwa penghuni kuburan tersebut sedang di ‘adzab, kemudian beliau mengambil pelepah kurma dan menyobeknya menjadi dua, lalu menanamkannya pada dua kuburan tadi, beliau bersabda: “Semoga diringankan adzabnya selama kedua pelepah itu belum kering”
Imam An-Nawawi mengatakan bahwa hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bolehnya membaca Alquran di sisi kuburan, karena menurut beliau apabila diharapkan adzabnya diringankan karena tasbihnya pelepah, maka membaca Alquran lebih utama lagi. (Syarah Shahih Muslim, 3/202).
Kedua: Hadits yang artinya, “Barang siapa yang melewati perkuburan lalu membaca qul huwallahu ahad sebelas kali, kemudian memberikan pahalanya kepada para mayat, maka akan diberikan pahala sesuai dengan jumlah mayat”. (HR. Al-Khallaal).
Ketiga: Hadits yang artinya, “Apabila seseorang dari kamu meninggal, maka janganlah ditahan, dan bersegeralah untuk dikuburkan, dan bacakan di sisi kepalanya Al-Fatihah dan di sisi kakinya akhir surat Al-Baqarah dikuburnya”. (HR. Ath Thabrani 12/445 no 13613) dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 9294. Dari jalan Yahya bin Abdullah Al-Babalti dari Ayyub bin Nahik Al-Halabi dari ‘Atha bin Abi Rabah dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Keempat: Perbuatan Ibnu Umar, dari jalan Mubasyir mengabarkan dari Abdurrahman bin Al-’Alaa bin Al-Lajlaaj dari ayahnya bahwa ia mewasiatkan apabila telah dikubur, agar dibacakan di kepalanya permulaan surat Al-Baqarah dan akhirnya, dan berkata, “Aku mendengar Ibnu Umar berwasiat demikian”. Sebagaimana telah berlalu.
Kelima: Asy-Sya’bi berkata, “Adalah kaum Anshar apabila seseorang meninggal, mereka pergi bergantian ke kuburannya untuk membacakan Alquran”. Dikeluarkan oleh Al-Khallaal dalam kitab Al Qira’ah ‘Indal Qubuur (1/8 no 7) dari jalan Mujalid bin Sa’id dari Asy-Sya’bi.
Keenam: Alquran adalah berkah, maka bila dibacakan di kuburan, diharapkan dengan keberkahan Alquran dapat memberikan manfaat kepada penghuni kubur.
Jawaban dan Bantahan terhadap dalil-dalil yang membolehkan:
Bila kita perhatikan, dalil-dalil yang telah disebutkan diatas sebenarnya tidak dapat dijadikan hujjah,
Penjelasannya sebagai berikut:
Dalil pertama, tentang kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanam pelepah kurma yang telah disobek menjadi dua, alasan dijadikan hujjah untuk membolehkan adalah karena pelepah itu bertasbih sebagaimana Allah menyebutkan di dalam Alquran bahwa segala sesuatu di bumi dan di langit bertasbih memuji-Nya, sehingga bisa dijadikan dalil bolehnya membaca Alquran di kuburan.
Namun alasan ini amat lemah dari beberapa sisi:
Bila alasannya karena tasbih pelepah, tentu nabi tidak akan menyobeknya agar menjadi cepat kering, karena semakin lama kering berarti semakin lama diringankan adzabnya.Bila alasannya demikian, tentu nabi tidak akan menanam pelepah,akan tetapi beliau menanam pohon agar lebih lama lagi diringankan adzabnya.Bila demikian, maka mayat yang paling bahagia adalah mayat yang paling banyak, karena dedaunannya lebih banyak bertasbih, dan ini aneh dan batil.
Yang shahih, alasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanam pelepah tersebut adalah dalam rangka memberikan syafaat kepadanya, dan ini kekhususan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu para ulama shahabat tidak ada yang memahami seperti apa yang dipahami oleh Imam An-Nawawi rahimahullah. Dan tidak ada satupun shahabat yang memahami dari hadits tersebut bolehnya membacakan Alquran di sisi kubur, kalaulah itu baik, tentu mereka yang pertama kali melakukannya.
Adapun dalil yang kedua, adalah hadits yang palsu, berasal dari naskah Abdullah bin Ahmad bin ‘Amir dari ayahnya dari Ali Ar Ridla dari ayah-ayahnya, dipalsukan oleh Abdullah atau ayahnya sebagaimana dikatakan oleh Adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal, dan diikuti oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan (3/252), juga As-Suyuthi dalam Dzail Al Ahadits Al Maudlu’ah dan beliau menyebutkan hadits ini, dan diikuti juga oleh Ibnu ‘Arraaq dalamTanzih Asy Syari’atil Marfu’ah. (Lihat Ahkaam Janaiz, hal 245).
Adapun dalil yang ketiga adalah hadits yang sangat lemah, karena di dalamnya terdapat dua perawi yang lemah, yang pertama adalah Yahya bin Abdullah Al-Babalti, ia perawi yang lemah. Al Azdi berkata, “Kelemahan padanya sangat jelas”. Dan Abu Hatim berkata, “Tidak dianggap”. (Al-Mughni fi Dlu’afa, 2/739). Dan yang kedua adalah Ayyub bin Nahiik Al Halabi ia dianggap lemah oleh Abu Hatim, dan Al Azdi berkata, “Matruk”. Dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat dan berkata: “Yukhti (suka salah)”. (Lisanul Mizan,1/490).
Adapun dalil yang keempat, yaitu atsar Ibnu Umar adalah lemah juga. Karena ia berasal dari periwayatan Abdurrahman bin Al ‘Alaa bin Al Lajlaaj, ia perawi yang majhul karena tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Mubasyir. Dan Al Hafidz berkata dalam taqrib-nya: “Maqbul”. Artinya diterima apabila di-mutaba’ah, dan jika tidak maka haditsnya lemah. Dan di sini ia tidak di-mutaba’ah.
Adapun dalil yang kelima, yaitu atsar Asy Sya’bi adalah lemah juga, karena ia dari periwayatan Mujalid bin Sa’id, Al Hafidz berkata dalam taqrib-nya: “Laisa bil qawiyy (tidak kuat), berubah hafalannya di akhir umurnya”. Imam Ahmad berkata: “Laisa bisyai (tidak ada apa-apanya)”. Ibnu Ma’in berkata: “Tidak bisa dijadikan Hujah”. Dan Ad Daraquthni berkata: “Dla’if”. (Al Mughni fi Dlu’afa, 2/542).
Adapun dalil yang keenam adalah dalil yang membutuhkan dalil, artinya memang benar bahwa Alquran itu berkah, namun untuk dibacakan kepada mayat di kuburan membutuhkan kepada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya. Dan ternyata tidak ada. Terlebih telah kita rajihkan bahwa bacaan Alquran tidak akan sampai kepada mayat.
Dalil-dalil Pendapat yang Melarang
Pertama: Hadits Abu Hurairah, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
“Janganlah kamu menjadikan rumah-rumahmu seperti kuburan, karena setan akan lari dari rumah yang dibanyakan padanya surat Al-Baqarah“. (HR Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa kuburan bukan tempat untuk membaca Alquran, oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjadikan rumah seperti kuburan yang tidak dibacakan padanya Alquran.
Kedua: Hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berziarah ke perkuburan Baqi’, namun tidak disebutkan disana bahwa beliau membaca Alquran di kubur, di antaranya hadits Aisyah ia berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَدْعُو لَهُمْ فَسَأَلَتْهُ عَائِشَةُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَدْعُوَ لَهُمْ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar menuju Baqi’ untuk mendoakan mereka, lalu Aisyah menanyakannya, beliau bersabda: “Aku diperintahkan untuk mendoakan mereka”.
Tidak disebutkan dalam hadits-hadits itu bahwa beliau membaca Alquran di kuburan. Kalau itu baik, tentu beliau melakukannya dan diperintahkan kepadanya.
Ketiga: Hadits-hadits yang mengajarkan apa yang harus dibaca di perkuburan, di antaranya adalah hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Muslim, Aisyah bertanya kepada beliau apa yang harus dibaca di kuburan, maka beliau mengajarkan salam dan doa, dan tidak mengajarkan untuk membaca Al-Fatihah atau surat lain dari Alquran, dan kaidah ushul fiqihberkata, “Meninggalkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan adalah tidak boleh”. Kalaulah itu baik, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi waallam mengajarkannya kepada ‘Aisyah dan shahabat-shahabat lainnya.
Keempat: Hadits-hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ikut menguburkan sebagian shahabat, seperti penguburan anaknya dan juga hadits Al-Bara’ bin Malik yang panjang yang menceritakan tentang bagaimana kematian orang beriman dan orang kafir, tidak disebutkan dalam hadits-hadits tersebut bahwa beliau mengajarkan untuk membaca surat A-Fatihah atau surat lainnya, kalau itu dilakukan oleh beliau, pastilah banyak shahabat yang menceritakannya.
Kelima: Tidak adanya praktik dari seorangpun shahabat Nabi, oleh karena itu Imam Malik berkata, “Aku tidak mengetahui seorangpun yang melakukannya”. Ketika para shahabat tidak ada yang melakukannya, padahal pendorong untuk itu amat kuat, dan tidak ada perkara yang menghalangi mereka, itu menunjukkan bahwa itu tidak disyariatkan.
Dan inilah pendapat yang rajih, dan ini adalah pendapat jumhur ulama. Dan yang dilakukan di zaman ini, dimana kaum muslimin membacakan Alquran di perkuburan, dengan jumlah hari tertentu, dan tarip tertentu, bahkan dinyalakan lampu-lampu di sana, tidak diragukan lagi akan kebid’ahannya. Karena perbuatan tersebut tidak ada seorangpun dari para ulama madzhab yang membolehkannya. Allahul musta’an.
Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Solat Hadiah

BENARKAH WUJUD SOLAT SUNAT HADIAH KEPADA SI MATI?

Tersebut dalam Hasyah atas Syarah Sittin Masalah Arrimli, bagi Ahmad Almihi Annu’mani, pada m/s 67:
عن كتاب المختاَرِ ومطالع الاَنوار عنِ النَّبِي صَلى اللهُ عليه وسلم
لا يأتى على الميِت اشد من الَيلَة الاولى فَارحموا موتاكم بالصدقةِ
فَمَن لم يجد فليصل ركعتينِ . يقرأ فى كل ركعة منهمَا فاتحة الكتاب
واية الكرسي والهكم التكاثر وقل هُو اللهُ احدُ احْدى عشرة مرة ويقول :
اللهُم انىْ صليتُ هَذه الصلاةَ وتعلمُ مَا ارِيدُ .
اللهُم ابعثْ ثوابها الى قَبر فلاَنِ بنِ فُلاَنَة
فيَبعث اللهُ مِن سَاعته الى قبره الف ملك نور وهَديةٌ
يؤْنِسُوْنهُ فى قبرهِ الى ان ينفخ فى الصور ويعْطِى اللهُ المصليَ بعدد
مَا طلعَتْ عليه الَشمس حسَنَات ويرفعُ اللهُ له اربعين الف درجة
واربعين الف حجة وعمرَة ويبنى اللهُ له الف مدينة
فى الجنة وَيُعْطى ثواب الف شهيد ويكسى الف حلةٍ .

Ertinya: Sabda Nabi s.a.w: Tidaklah datang (cubaan) atas diri mayat yang lebih hebat dari malam pertama. Maka kasihanilah mayat-mayatmu itu dengan sedekah. Maka barangsiapa yang tidak mendapatkannya, hendaklah dilakukannya sembahyang 2 rakaat yang dibacakan pada tiap-tiap rakaat surah Al-Fatihah, Ayatul Kursi, Alhakumuttakasur, Qulhuallahuahad 11 kali, lalu diucapkannya:
Ya Allah! Sesungguhnya aku telah lakukan sembahyang ini, sedang Engkau Maha Mengetahui apa yang aku maksudkan. Ya Allah! Kirimkanlah pahalanya kekubur si Fulan bin Fulanah, nescaya mengirimkanlah Allah Taala pada saat itu juga seribu malaikat, bersama tiap-tiap malaikat itu nur dan hadiah. Berjinak-jinak mereka itu bersamanya di dalam kubur sampai ditiup sangkakala. Dan dikurnia Allah Taala kepada yang melakukan sembahyang ini sebanyak barang yang terkena sinar matahari akan kebajikan dan Allah Taala angkatkan baginya 40 ribu darjat, 40 ribu haji dan umrah dan dibina baginya seribu kota di dalam syurga dan diberi pahala seribu syahid dan dipakaikan seribu persalinan.


Jawapan:
Assalamualaikum.
Hadis berkaitan solat sunat hadiah adalah palsu. Tiada asalnya. Ia tidak wujud dalam kitab-kitab hadis.

Majlis Fatwa Arab Saudi menyatakan:
ج: لا شك أن الحديث المذكور في السؤال من الأحاديث الموضوعة المكذوبة على رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا شك أن الصدقة والصلاة بالكيفية المذكورة في هذا الحديث الموضوع لا أصل لهما، ولا يشرع للمسلم أن يصلي عن أحد لا في أول ليلة يدفن فيها الميت ولا في غيرها،

Tidak syak lagi bahawa hadis yang disebutkan dalam soalan adalah daripada hadis palsu ke atas Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak syak lagi bahawa sedekah dan solat dalam bentuk yang disebutkan dalam hadis di atas adalah palsu dan tiada asalnya. Tidak disyariatkan bagi seorang Muslim untuk mensolatkan seseorang yang meninggal dunia pada malam pertama selepas dia dikebumikan, dan tidak juga pada malam-malam yang lain.
أما الصدقة فمشروعة عن الميت المسلم متى شاء أقاربه أو غيرهم الصدقة عنه؛ لما ثبت من الحديث الصحيح، أن رجلاً سأل النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن أمي افتلتت نفسها ولم توص، وأظنها لو تكلمت تصدقت، أفلها أجر إن تصدقت عنها؟ فقال النبي صلى الله عليه وسلم: نعم ، ولم يخص ليلة الدفن ولا غيرها،

Adapun sedekah disyariatkan untuk dilakukan bagi pihak si mati pada bila-bila masa yang dikehendaki samaada ada oleh kaum kerabatnya atau selain mereka. Ini berdasarkan hadis sahih bahawa seorang lelaki bertanya kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya ibu ku meninggal dunia secara mengejut tanpa membuat sebarang wasiat. Aku merasakan jika dia sempat berkata-kata dia akan bersedekah. Adakah dia akan mendapat pahala jika aku bersedekah bagi pihaknya? Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Ya. [Sahih al-Bukhari dan Muslim]. Tidaklah ia dikhususkan untuk malam pertama selepas pengebumian atau malam-malam yang lain.
وقد أجمع العلماء من أهل السنة والجماعة على أن الميت المسلم ينتفع بالصدقة عنه والدعاء له، أما المؤلف لكتاب (المختار ومطالع الأنوار) فلا نعرفه، ولم نقف على كتابه المذكور، ولكن ما نقلتم عنه يدل على أنه ليس من أهل العلم المعتبرين، فنسأل الله لنا ولك ولجميع المسلمين المزيد من العلم النافع والعمل الصالح.

Ulama Ahlussunnah telah bersepakat bahawa mayat seorang Muslim akan mendapat manfaat daripada sedekah yang dilakukan bagi pihaknya dan doa kepadanya.. Adapun pengarang kitab Al-Mukhtar Wa Matholi’ Al-Anwar, tidaklah kami mengenalinya. Kami tidak menemui kitab yang disebutkan. Akan tetapi berdasarkan apa yang kalian nukilkan, ia menunjukkan bahawa dia bukanlah seorang ulama’ yang muktabar. Kami memohon kepada Allah untuk menambahkan ilmu yang bermanfaat dan amal yang soleh kepada kami, kalian dan semua kaum Muslimin.
[Sumber: http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=3057&PageNo=1&BookID=3 ]

Yang menariknya lagi, riwayat palsu di atas sangat popular dalam laman-laman web Syiah seperti link berikut:
http://www.sistani.org/arabic/book/23/1923/

http://www.alseraj.net/3/index2.shtml?81&90&81&1&7

http://www.alsafwh.net/vb/showthread.php?p=2280


Kesimpulan:
1- Hadis ini palsu.

2- Solat hadiah buat si mati adalah ibadah rekaan.

3- Boleh bersedekah bagi pihak si mati kerana wujud dalam dalil yang sahih, dan ia tidak khusus pada malam tertentu.

Wallahua’lam.
-ADMIN-
Page Dr. Ustaz Rozaimi Ramle – Hadith

Tafsir Surah Naaziat Ayat 1 – 13 (Keadaan Hari Kiamat)

Pengenalan:

Surah ini bersambung ceritanya dengan sebelumnya iaitu surah an-Naba’. Surah itu diakhiri dengan cerita tentang Hari Kiamat dan Surah an-Naziat ini terus bermula dengan penceritaan Hari Kiamat.


 

Ayat 1: Surah ini ada 7 Perenggan Makro. Perenggan Pertama dari ayat ini sehingga ke ayat 10, iaitu mengajar kita Adab Berdakwah.

وَٱلنَّـٰزِعَـٰتِ غَرقًا

(SAHEEH INTERNATIONAL)

An-Nāzi‘āt: The Extractors.

By those [angels] who extract with violence¹

  • i.e., those who tear out the souls of those destined for Hell.

(MALAY)

Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras,

 

Ayat ini dimulai dengan Sumpah Allah ﷻ. Allah ﷻ bersumpah dengan an-Naaziat yang bermaksud ‘malaikat yang mencabut‘. Allah ﷻ tidak sebutkan secara tepat apakah yang malaikat itu cabut. Jadi perlukan pentafsiran tentang perkara ini. Allah ﷻ juga tidak menyebut dengan terang bahawa yang dimaksudkan adalah malaikat. Jadi, apa yang mencabut dan apa yang dicabut tidak disebut dengan jelas.

 

Maksud Naaziat

Pendapat majoriti mengatakan yang mencabut/menarik dengan keras itu adalah malaikat. Ini adalah pendapat majoriti mufassirin. Dan yang ditarik itu adalah roh manusia yang telah sampai ajalnya. Dan roh yang dimaksudkan adalah roh manusia yang engkar semasa hidupnya.

Oleh itu, jikalau pentafsiran ini diterima, ayat ini bermaksud Allah ﷻ bersumpah dengan malaikat yang menarik roh manusia yang jahat dengan kuat. Cara menarik roh itu keluar adalah malaikat itu masuk ke dalam tubuh manusia itu dan tarik roh itu keluar. Ini adalah kerana kalimah غَرقًا dari katadasar غ ر ق yang bermaksud ‘tenggelam’. Kita baca pun sudah terasa sakitnya.

Selain dari itu, kita sampaikan juga pendapat lain yang mengatakan bahawa yang dimaksudkan dengan ‘Naaziat‘ ini adalah ‘bintang‘. Maksudnya, bintang yang dicabut jatuh dari langit. Iaitu komet yang dilihat oleh Arab Mekah pada zaman mereka.

Dan ada juga pendapat yang mengatakan yang menarik itu adalah angin kuat yang mencabut pokok-pokok dan juga binaan seperti bangunan. Angin kuat itu bolehlah kita bayangkan macam tornedo. Ini kerana dalam ayat yang lain, disebut mursalaat sebagai angin. Sama-sama ada huruf ا dan ت di hujung. Kerana tanda ات itu adalah feminin dan kalau begitu, ia seolah-olah merujuk para malaikat sebagai berjantina perempuan pula dan ini dilarang (Arab Mekah kata malaikat itu anak perempuan Allah).

Tambahan pula, dalam hadis ada disebut yang roh ditarik dari kaki dan tidak disebut yang malaikat maut masuk ke dalam tubuh manusia untuk mematikannya. Jadi ada beberapa pendapat. Allahu a’lam. Begitulah keindahan bahasa yang digunakan oleh Al-Qur’an yang boleh memberi beberapa maksud.

Kita pun tidak pasti mana satu yang paling tepat. Kena redha yang kita tidak semestinya boleh tahu dengan pasti maksud ayat-ayat Allah. Kerana akal kita lemah dan tidak dapat mencapai maksud semua perkara.

 

Sumpah (Qosam)

Terdapat beberapa subjek sumpah dalam surah ini. Dan dalam surah-surah lain pun ada sumpah-sumpah yang digunakan oleh Allah ﷻ sebagai contoh, Allah ﷻ ada bersumpah dengan masa, dengan buah Tin dan sebagainya. Apakah gunanya sumpah dalam Al-Qur’an?

Ulama’ tafsir mengatakan Allah ﷻ menggunakan sumpah dalam Al-Qur’an kerana hendak memberi isyarat bahawa ada benda penting yang Allah ﷻ hendak sampaikan. Kerana kalau kita ada benda penting yang kita hendak tekankan, bukankah kita juga akan bersumpah? (Demi Allah, aku tak curi lah barang itu!)

Dan perkara yang Allah gunakan sebagai sumpah itu juga adalah penting. Allah ﷻ hendak menekankan kepentingan perkara itu yang ada kena mengena dengan apa yang akan disebut dalam surah itu. Dalam ayat ini objek yang digunakan sebagai sumpah adalah malaikat yang mencabut nyawa.

Selain dari itu, sumpah digunakan apabila orang yang kita bercakap itu tidak mahu percaya dengan apa yang kita sampaikan. Oleh itu, kalau kita hendak tekankan apa yang kita hendak cakap, kita akan gunakan sumpah. Ini perkara biasa dari dulu lagi. Sebagai contoh, kadangkala kita juga apabila ada bersumpah dahulu sebelum bercakap. Ini apabila kita hendak mengatakan bahawa apa yang dia hendak sampaikan adalah benar kepada orang yang kita rasa tidak akan senang percaya perkara itu. Jadi kita akan beri penekanan dengan sumpah.

Maknanya, apabila digunakan sumpah, ia juga memberi isyarat bahawa orang yang menyampaikan perkara itu ada rasa marah. Dia marah sebab dia tahu apa yang hendak disampaikan itu tidaklah didengar oleh orang yang mendengar. Oleh itu, yang bercakap akan gunakan sumpah untuk tekankan.

Begitu jugalah dalam Al-Qur’an, ada masa Allah ﷻ gunakan sumpah kerana Dia ﷻ marah dan di waktu lain, Allah ﷻ gunakan sumpah kerana orang tidak mahu percaya apa yang diberitahu. Jadi ada dua sebab kenapa sumpah digunakan dalam Al-Qur’an.

Kembali kepada objek sumpah yang digunakan (malaikat), Allah ﷻ memberitahu kita yang Dia ﷻ gunakan malaikat untuk seksa manusia yang derhaka. Dari mula dicabut nyawa lagi manusia derhaka itu sudah diseksa. Allah ﷻ marah sampaikan Allah ﷻ arahkan malaikat yang mencabut nyawa itu, mencabut nyawa mereka dengan keras. Jangan kasi dia peluang langsung.

Aduh, bayangkan, nak mati pun sudah kena azab! Itu belum kira azab dalam kubur, azab di Mahsyar, azab di neraka lagi!


 

Ayat 2: Sumpah yang kedua.

وَٱلنَّـٰشِطَـٰتِ نَشطًا

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And [by] those who remove with ease¹

  • i.e., those angels who ease out the souls of those destined for Paradise.

(MALAY)

dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut,

 

Ini pula digunakan sumpah tentang malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa dengan lembut. Kalau sebelum ini ada malaikat yang mencabut nyawa dengan keras dan sekarang Allah ﷻ beritahu ada malaikat yang mencabut nyawa dengan cara lembut.

Kalimah نَشطًا bermaksud ‘merungkai tali dengan senang’. Maknanya tali itu tidak terbelit kuat dan kerana itu senang sahaja hendak dirungkaikan. Maknanya orang yang merungkaikan itu akan berhati-hati dalam meleraikan simpulan tali itu. Sampaikan akhirnya dia goyang-goyang sahaja tali itu sudah boleh terungkai.

Oleh kerana itu, tidak digunakan kekerasan dalam keadaan ini. Maknanya malaikat itu senang sahaja hendak mencabut nyawa. Ini adalah untuk orang yang baik-baik. Bandingkan dengan ayat yang pertama itu untuk orang kafir dan yang kedua ini untuk mukmin.

Begitulah layanan Allah ﷻ untuk orang mukmin. Dari mula mati pun sudah dilayani dengan baik. Oleh itu, kalau mereka susah dalam dunia, mereka akan senang di akhirat dan dimulai dengan cara mati. Semoga kita tergolong dalam golongan ini. Kerana kita pun tahu yang kematian itu sendiri sudah menyakitkan.

Kalau ٱلنَّـٰزِعَـٰتِ itu merujuk kepada angin pula, ia bermaksud angin yang bertiup lembut. Ayat 1 tentang angin keras dan ayat 2 ini tentang angin lembut pula. Memang angin di dunia ini berubah-ubah.


 

Ayat 3: Sumpah yang ketiga.

وَٱلسَّـٰبِحَـٰتِ سَبحًا

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And [by] those who glide [as if] swimming¹

  • Speeding to execute Allāh’s commands.

(MALAY)

dan (malaikat-malaikat) yang bergerak dengan cepat,

 

Ini berkaitan dengan cara malaikat yang memasuki tubuh manusia untuk mencabut nyawa. Seperti yang telah disebut, malaikat mencabut nyawa dengan memasuki tubuh manusia. Malaikat itu memasuki tubuh manusia seperti berenang. Lafaz سَبحًا bermaksud berenang dengan tenang dan senang. Para malaikat yang mencabut nyawa itu diberikan kelebihan ini.

Malaikat maut memang ada satu sahaja. Tapi bukanlah setiap nyawa dia yang cabut. Dia hanya ketua sahaja dan dia ada para malaikat di bawahnya.

Kalau kita ambil pendapat kalimah ٱلنَّـٰزِعَـٰتِ itu merujuk kepada angin, maka sekarang ia merujuk kepada awan yang berenang di langit kerana ditiup angin.


 

Ayat 4: Sambungan sumpah ketiga.

فَٱلسَّـٰبِقَـٰتِ سَبقًا

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And those who race each other in a race¹

  • Racing to deliver the souls of the believers to Paradise.

(MALAY)

dan (malaikat-malaikat) yang berlumba dengan kencang,

 

Ini adalah sambungan ayat ke 3. Ia bukan sumpah yang baru kerana kita boleh lihat yang huruf ف digunakan dan bukannya huruf و dalam tiga ayat pertama. Setelah malaikat itu mencabut nyawa manusia, mereka bersegera menemui Allah ﷻ dengan membawa roh manusia yang telah diambil.

Mereka berlumba sesama sendiri untuk menempatkan roh di tempatnya masing-masing. Roh orang beriman di tempatkan di Illiyin dekat dengan Arash. Dan roh orang kafir dibawa ke Sijjin iaitu di bawah bumi ke tujuh.

Kalau merujuk kepada angin, maka ia menyebut tentang awan yang ditiup angin dan hasilnya, awan itu seperti berlumba sesama sendiri. Ada kumpulan awan yang bergerak laju dan ada yang seperti tidak bergerak pun.


 

Ayat 5: Sambungan sumpah lagi.

فَٱلمُدَبِّرَٲتِ أَمرًا

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And those who arrange [each] matter,¹

  • According to Allāh’s decree.

(MALAY)

dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan.

 

Ini pula tentang tugas para malaikat yang ditugaskan untuk mentadbirkan urusan Allah ﷻ. Ia dari katadasar د ب ر yang bermaksud belakang. Ini kerana orang yang mentadbir dengan baik, akan tarik dirinya ke belakang dahulu untuk buat perancangan sebelum menjalankannya.

Para malaikat itu mereka mengatur urusan di dunia ini atas arahan Allah ﷻ. Seperti yang kita tahu, para malaikat diberikan berbagai tugasan yang khusus dan mereka menjalankan tugas mereka dengan tepat.

Para malaikat itu hanya mengikut arahan Tuhan ﷻ sahaja. Mereka tidak boleh hendak buat perkara yang tidak disuruh oleh Allah ﷻ. Oleh itu, kalau ada masyarakat kita yang minta tolong kepada malaikat, itu adalah kerja bodoh sekali dan dapat ajaran dan amalan itu dari syaitan. Sebagai contoh, ada pesilat yang mengamalkan zikir untuk malaikat besar yang empat untuk menjaga mereka kiri, kanan, depan dan belakang.

Kalau ٱلنَّـٰزِعَـٰتِ merujuk kepada angin, maka cara Allah mengarahkan angin adalah dengan menggerakkan awan yang membawa hujan. Dan air hujan itu menumbuhkan tanam-tanaman. Dan angin juga meniup debunga yang diperlukan oleh tumbuhan sebagai benih.

 

Sumpah

Setiap sumpah dalam Al-Qur’an ada jawabnya. Seperti yang kita sebut, ada benda penting yang hendak disampaikan dengan memulakan dengan sumpah-sumpah itu. Jawab sumpah bagi ayat ini dihazafkan (disembunyikan) dalam surah ini, jadi ia tidak jelas. Tidak disebut dengan jelas supaya pembaca Al-Qur’an tertanya-tanya apakah yang Allah hendak tekankan.

Kerana tidak jelas, maka ulama’ tafsir memberikan pendapat mereka. Ini adalah beberapa pendapat yang ada:

1. Jawab sumpah itu adalah: sebagaimana Allah ﷻ gunakan malaikat untuk urusan dunia, untuk urusan akhirat pun mereka akan digunakan. Maksudnya, mereka itu akan digunakan di akhirat kelak untuk menjalankan arahan Allah ﷻ. Ini hendak memberi penekanan, hari kiamat itu pasti akan terjadi dan akhirat akan berlaku dan makhluk akan diberikan dengan apa yang telah dijanjikan.

2. Allah bersumpah bahawa apa sahaja yang dijanjikanNya akan ditepati. Ia pasti akan berlaku.

3. Hari Kiamat pasti akan berlaku.


 

Ayat 6: Sekarang kita masuk ke dalam bahagian (perenggan) yang baharu. Kerana kita boleh baca bagaimana ritma ayat ini sudah bertukar. Itu sebagai tanda bahawa sudah masuk perenggan baharu. Dalam Al-Qur’an tidak digunakan kaedah perenggan dalam susunan, maka digunakan perbezaan ritma untuk membezakannya.

Sekarang akan dibicarakan tentang pihak Musyrikin Mekah yang tidak percaya adanya akhirat. Kalau kita baca dalam Surah an-Naba’, telah disebut ketidakpercayaan mereka dahulu, kemudian baru disebut tentang kiamat. Dan dalam surah an-Naaziat ini, disebut tentang kiamat dahulu kemudian ketidakpercayaan mereka.

Maka kita boleh nampak ada penukaran di situ. Menunjukkan keindahan bahasa Al-Qur’an yang mengubah-ubah susunan untuk menarik perhatian pembaca. Kalau kita dapat perhatikan, maka ini lebih menarik minat kita kepada Al-Qur’an. Tidaklah baca kosong sahaja.

Ayat ini adalah jenis Takhwif Duniawi.

يَومَ تَرجُفُ الرّاجِفَةُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

On the Day the blast [of the Horn] will convulse [creation],

(MALAY)

(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam,

 

Pada hari kiamat akan digoncangkan apa yang akan digoncang; Allah ﷻ menceritakan keadaan yang mengharu birukan manusia apabila bumi akan digoncangkan dengan amat kuat sekali. Iaitu apabila tiupan Sangkakala Pertama dibunyikan.

Allah ﷻ gunakan lafaz الرّاجِفَةُ merujuk kepada gegaran pada permulaan gempa bumi. Tetapi sebenarnya, lihatlah Allah ﷻ tidak sebut tentang bumi dalam ayat ini. Jadi bagaimana kita tahu yang Allah ﷻ sedang memperkatakan tentang ‘bumi’? Ini kita dapat tahu apabila kita baca ayat-ayat lain, kita tahu yang dimaksudkan adalah bumi ini.

Allah ﷻ cuma kata yang ‘akan digoncang’, akan digoncang. Ini memberitahu yang memang dunia ini akan digoncangkan dan kemudiannya akan dihancurkan. Dan itu memang tujuan akhir bumi ini dijadikan. Bukanlah bumi ini akan kekal sampai bila-bila. Ianya adalah medan untuk menguji manusia dengan ujian-ujian yang akan menentukan sama ada dia layak masuk syurga atau tempatnya di Neraka.

Apabila ujian telah selesai, maka bumi telah menjalankan tugasnya dan ia tidak diperlukan lagi, maka ia akan digoncang dan dihancurkan. Bumi ini tidak diperlukan lagi kerana manusia bukannya tinggal di bumi selepas dia mati dan dibangkitkan. Kerana selepas kebangkitan semula, akhirnya manusia akan ditempatkan di Mahsyar dahulu dan kemudian akan dibahagikan sama ada di syurga atau di neraka, dua sahaja.


 

Ayat 7: 

تَتبَعُهَا الرّادِفَةُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

There will follow it the subsequent [one].

(MALAY)

tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua.

 

Secara literalnya: Diikuti dengan yang mengikutinya. Juga tidak disebutkan apakah yang ‘mengikuti’ itu. Lafaz الرّادِفَةُ bermaksud ‘yang ikut’, macam seorang yang duduk di belakang orang lain atas kuda.

Oleh itu, dalam ayat ke 6 tadi, itu adalah tentang tiupan Sangkakala yang pertama yang akan mematikan semua makhluk. Dan ayat ke 7 ini adalah tentang tiupan Sangkakala yang kedua yang akan menghidupkan makhluk semua sekali dan bersedia untuk alam akhirat.


 

Ayat 8: Apakah keadaan manusia waktu itu? Ayat 8 – 14 adalah Perenggan Makro Kedua. Ia mengandungi dalil adanya Akhirat daripada kekuasaan Tuhan dan kelemahan manusia.

قُلوبٌ يَومَئِذٍ واجِفَةٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Hearts,¹ that Day, will tremble,

  • Those of the disbelievers who denied the Resurrection.

(MALAY)

Hati manusia pada waktu itu sangat takut,

 

Jantung sesetengah manusia akan berdebar yang amat sangat pada hari itu. Kerana tidak ada ال dalam lafaz قُلوبٌ ini, maka ia bermaksud bukanlah semua jantung akan bergetar. Hanya mereka yang tidak mempercayai Hari Kebangkitan sahaja yang akan berdebar-debar, kerana apa yang mereka tidak percayai memang terjadi benar-benar dan sekarang berada di depan matanya dengan nyata.

Tentulah dia sangkat takut waktu itu kerana dia tidak bersedia. Lafaz واجِفَةٌ digunakan juga untuk menyebut tentang binatang yang ditampar, dipukul untuk bergerak dengan cepat. Jadi kita boleh bayangkan bagaimana keadaan manusia waktu itu dalam ketakutan seperti binatang yang ditampar.

Kalau kita sentuh sedikit tentang bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an, kita akan perasan bahawa terdapat banyak lafaz ‘takut’ yang digunakan dalam Al-Qur’an. Ianya digunakan untuk memberitahu kepada kita dengan lebih jelas, apakah jenis takut itu. Memang takut itu ada bermacam-macam. Kalau dalam bahasa Melayu, kalau takut itu boleh dikatakan satu takut sahaja. Tetapi Bahasa Arab adalah bahasa yang kaya dan mempunyai banyak kategori.

    • khauf – Ini adalah perasaan takut yang dirasai oleh manusia kalau dia rasa akan ada kesakitan pada tubuhnya. Mungkin takut kenal pukul, contohnya.
    • khash’yah – Ini adalah takut kepada sesuatu kerana kebesaran atau hebatnya sesuatu kejadian itu. Sebagai contoh, apabila kita sudah baca ayat-ayat Al-Qur’an tentang kehebatan dan kesusahan yang besar di akhirat kelak, maka inilah perasaan takut itu.
    • khusyuk – Lafaz ini kita selalu dengar – khusyuk dalam solat. Ini adalah jenis takut yang nampak pada muka dan tubuh manusia. Kerana takut sangat, sampai memberi kesan kepada tubuhnya sekali. Sebab itu, digunakan untuk menyebut sifat solat, kerana dalam solat itu, kita sedang mengadap Allah ﷻ dan kita sangat takut sampai tubuh kita pun menunjukkan ketakutan itu. Kita waktu itu tidak bergerak dan tunduk taat sahaja. Sebab itu pergerakan tubuh kita dalam solat terkawal. Jangan bergerak-gerak kibas sana sini pula di dalam solat.
    • taqwa’ – Ini juga kita selalu dengar. Salah satu dari maksud taqwa adalah takut. Tetapi ianya takut kepada ‘kesan’ dari perbuatan kita. Oleh itu, orang yang taqwa, mereka akan jaga perbuatan mereka kerana mereka takut segala perbuatan mereka itu akan dibalas di akhirat nanti. Mereka akan takut hendak buat amalan dan perbuatan yang salah dan berdosa. Oleh itu, mereka akan berjaga-jaga dan berhati-hati dalam perbuatan mereka.  Beginilah yang kita patut lakukan.
    • hazar – ini seperti yang disebut dalam Baqarah – Ini adalah perbuatan lari dari apa yang ditakuti – maksudnya, jenis takut sampai dia akan mengelak atau melarikan diri.
    • rauq – terkejut kerana takut. Ini seperti keadaan Nabi Ibrahim عليه السلام ketika baginda pertama kali berjumpa dengan malaikat yang datang ke rumahnya. Baginda takut apabila mereka tidak makan hidangan yang baginda sediakan kepada mereka. Kerana kebiasaan kaum mereka, kalau seseorang itu datang untuk membunuh tuan rumah, dia tidak akan makan makanan yang disediakan oleh tuan rumah (adab pembunuh). Oleh kerana mereka tidak makan hidangan, maka Nabi Ibrahim عليه السلام pun terkejut dan takut (takut mereka datang hendak bunuh baginda).
    • awjasa – Ini adalah jenis takut setelah mendengar sesuatu yang menakutkan; juga digunakan untuk rasa takut tetapi tidak ditunjukkan di luar, disimpan dalam hati sahaja. Orang yang rasa takut itu, akan simpan perasaan itu dalam hati dia, tidak tunjukkan pada mukanya. Ini ada disebut apabila Nabi Musa عليه السلام melihat sihir-sihir yang ditunjukkan oleh ahli sihir.
    • wajal – Ini adalah jenis takut yang masuk ke dalam hati seseorang. Sebagai contoh, apabila seseorang itu membaca ayat Al-Qur’an.
    • rahab – Perasaan takut untuk mengecewakan orang lain. Sebagai contoh, ada orang yang kita hormati, maka kita takut untuk buat sesuatu yang boleh mengecewakan orang itu kerana kita hormat dia.
    • ra’ab – Jenis takut yang amat sangat, sampai menyebabkan seseorang itu tidak boleh berfikir dengan betul, sampai membuatkan dia buat sesuatu yang bodoh. Dia buat silap itu kerana dia dalam keadaan takut sangat.
    • ashfaqa – Takut ke atas orang lain, bukan diri kita. Sebagai contoh, kita sedang jaga anak kita dan kita takut dia jatuh masuk longkang semasa sedang berjalan-jalan.
    • wajf (seperti yang digunakan dalam ayat ini) – Perasaan takut yang bercampur dengan rasa tidak selesa. Juga bermaksud takut yang amat sangat sampai hati berdegup kencang macam larian kuda, sampai boleh dengar degupan jantung itu. Inilah perasaan takut yang dialami oleh mereka yang disebut dalam ayat ini – takut yang amat sangat. Allah ﷻ jadikan hati mereka takut sangat kerana semasa di dunia dahulu mereka tidak takut langsung buat dosa dan kesalahan.

 

Ayat 9:

أَبصَـٰرُهَا خَـٰشِعَةٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Their eyes¹ humbled.

  • Those of the disbelievers.

(MALAY)

Pandangannya tunduk.

Pandangan matanya akan tunduk kerana ketakutan. Seperti yang kita telah sebut di atas, ‘khusyuk’ itu adalah takut yang membawa kepada perubahan fizikal seseorang – dalam ayat ini, mata mereka akan tunduk takut dan patuh. Pandangan mereka akan tunduk malu dan juga menyesal. Ini adalah khusus untuk orang kafir sahaja.

Ada juga yang berpendapat, mata hati mereka yang akan ketakutan. Ini adalah kerana, Allah ﷻ menggunakan lafaz أَبصارُها, bukan أَبصارُهم, iaitu dhomir ها itu merujuk kepada hati yang disebut dalam ayat 8 sebelum ini.

Ayat ini mengajar yang mata hati itu boleh melihat. Mata hati tidak sama dengan mata kita yang digunakan untuk melihat alam ini. Kalau ada iman dalam hati, segala yang kita lihat, akan mengingatkan kita kepada Allah ﷻ.

Sebagai contoh, kalau kita lihat keindahan alam, kita teringat Allah ﷻ kerana kita sedar dan yakin yang Allah ﷻlah yang menjadikan alam yang indah ini. Tetapi kalau semasa di dunia mata hati kita tidak mahu melihat kebesaran Allah ﷻ, maka di akhirat nanti mata hati kita akan melihat ketakutan yang amat sangat. Waktu itu baru mereka hendak khusyuk tetapi sudah terlambat.


 

Ayat 10: Ini adalah ayat jenis Syikayah. Kenapakah mereka jadi begitu di akhirat nanti? Apakah kesalahan mereka dan sikap mereka semasa di dunia dahulu? Allah ﷻ hendak jelaskan kepada kita.

Seperti yang kita telah sebutkan, ada perbezaan antara Surah an-Naba’ dan Surah an-Naaziat ini. Dalam an-Naba’, disebut tentang puak kafir yang tidak percaya kepada Hari Kiamat, kemudian baru disebut tentang hari kiamat; dalam Surah an-Naaziat ini, dimulakan dengan disebut tentang hari kiamat dan akhirat dulu.

يَقولونَ أَإِنّا لَمَردودونَ فِي الحافِرَةِ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

They are [presently] saying, “Will we indeed be returned to [our] former state [of life]?

(MELAYU)

(Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?

 

Mereka mengejek semasa mereka di dunia dulu. Mereka tidak percaya langsung yang mereka akan dikembalikan kepada keadaan asal. Mereka kata, takkan sudah mati hendak kena balik lagi? Ini adalah kerana mereka gunakan akal mereka yang cetek.

Ada penerangan tentang bahasa sedikit dalam ayat ini. Kerana agak tinggi juga bahasanya. Kalimah لَمَرۡدُودُونَ bermaksud dipulangkan kerana tidak diterima masuk. Contohnya seperti kita hendak masuk ke negara Amerika, tapi di imigresen mereka, kita tidak boleh masuk kerana visa kita tidak sah.

Kalimah ٱلۡحَافِرَةِ pula dari katadasar ح رف yang bermaksud mengorek, mengeluarkan dari tanah. Kalimah ٱلۡحَافِرَةِ bermaksud lubang di tanah yang sudah digali.

Ayat ini adalah ulangan kepada ejekan Musyrikin Mekah kepada Nabi Muhammad menolak kebangkitan semula. Mereka ejek lebih kurang begini: “eh, kematian kami tidak diterima, sampai kami dipulangkan ke lubang kubur kami kah?”


 

Ayat 11: Dari ayat ini sehingga ke ayat 16 adalah Perenggan Makro Kedua. Ia mengajar kita untuk buang kesombongan hati dan hendaklah beriman dengan Al-Qur’an.

Sekarang disambung hujah Musyrikin Mekah yang menolak Kebangkitan Semula. Mereka guna hujah akal mereka.

أَءِذَا كُنَّا عِظَـٰمًا نَّخِرَةً

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Even if we should be decayed bones?”¹

  • The disbelievers say this in ridicule of the warning.

(MALAY)

Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?”

 

Mereka kata bolehkah mereka dikembalikan apabila tulang temulang mereka telah reput dan hancur? Kalimah نَخِرَةً۬ dari katadasar ن خ ر yang bermaksud rosak kerana sudah lama, bahagian dalam yang kosong, hancur. Oleh itu kalimah نَخِرَةً۬ adalah tulang yang sudah kosong di dalamnya kerana lama sangat.

Pada Musyrikin Mekah: Kalau dikatakan dihidupkan balik selepas baru mati beberapa hari, bolehlah kalau hendak terima pun. Tetapi mereka berhujah, kalau tulang pun sudah lama sangat, sudah kosong dan mungkin sudah hancur jadi debu, takkan boleh kembali lagi? Mereka kata itu adalah perkara yang mustahil.


 

Ayat 12:

قالوا تِلكَ إِذًا كَرَّةٌ خاسِرَةٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

They say, “That, then, would be a losing return.”¹

  • i.e., “If that were so, we would not be able to escape punishment.”

(MALAY)

Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”.

 

Penggunaan lafaz قالوا itu adalah dalam past tense. Apakah maksudnya? Apabila digunakan lafaz yang berbentuk past tense, itu memberi isyarat bahawa mereka jarang berkata begitu. Mungkin sekali dua sahaja. Ini kerana selalunya mereka tidak terfikirkan pun perkara yang menakutkan kerana mereka tidak percaya pun Hari Akhirat itu.

Ini adalah salah satu balaghah dalam Al-Qur’an. Lihatlah bagaimana dalam ayat sebelum ini, digunakan lafaz يَقولونَ yang dalam bentuk present tense. Kalau past tense yang digunakan, untuk menunjukkan sekali sekala sahaja perkara itu dilakukan.

Sebagai contoh, dalam Surah al-Anfal, ada disebut tentang membunuh dengan sengaja dan membunuh tanpa sengaja. Lihatlah bagaimana kalau bunuh dengan sengaja, Allah ﷻ gunakan present tense kerana ini selalu terjadi. Akan tetapi kalau bunuh tidak sengaja, digunakan lafaz past tense. Ini adalah kerana orang yang membunuh dengan sengaja, dia mungkin membunuh lagi kerana itu mungkin perangai dia, tetapi orang yang membunuh secara tidak sengaja, dia takkan buat lagi. Tentulah dia akan lebih berhati-hati selepas itu supaya dia tidak tersilap bunuh orang lagi.

Oleh itu, ini adalah jenis orang yang adalah juga berfikir tentang perkara ini – mereka dapat berfikir yang kalau benarlah mereka akan dihidupkan, tentulah ini adalah perkara yang menakutkan kerana tentu mereka tidak selamat.

Akan tetapi mungkin mereka masih berkata begitu dalam bentuk sarkastik juga sebab mereka tetap tidak percaya.


 

Ayat 13: Sekarang Allah ﷻ jawab kata-kata mereka itu.

فَإِنَّمَا هِىَ زَجرَةٌ وَٲحِدَةٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Indeed, it will be but one shout,

(MALAY)

Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja,

 

Allah ﷻ menutup isu yang mereka timbulkan itu dengan mengatakan bahawa sekali tempik sahaja mereka akan dikembalikan. Tidak payah hendak sibuk-sibuk atau bersusah-susah, kerana senang sahaja bagi Allah ﷻ hendak matikan dan hendak hidupkan semula semua makhluk.

Mereka penat memikirkan bagaimana Allah ﷻ hendak hidupkan balik mereka yang telah lama mati dan sudah jadi hancur dengan tulang-tulang sekali, Allah ﷻ kata senang sahaja Dia ﷻ nak hidupkan balik. Sekali tempik sahaja semua akan hidup semula.

Kalimah زَجرَةٌ dari katadasar ز ج ر yang bermaksud melarang, menghalau, marah, menegur, menahan, marah guna suara (kerana itu kita gunakan istilah ‘Ayat Zajrun’ bagi ayat-ayat yang menegur manusia). Jadi kalimah زَجرَةٌ boleh bermaksud jenis tempikan yang kuat. Yang dimaksudkan adalah tiupan Sangkakala yang kedua. Allah tempik sekali sahaja, atau tiupan Sangkakala itu sekali sahaja akan menghidupkan semula manusia.

 

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya

Kemaskini: 20 Oktober 2019


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Tafsir Surah Tawbah Ayat 28 – 29 (Menjadikan ulama’ sebagai tuhan)

TIADA LAGI AMALAN SYIRIK DI KA’BAH

Tawbah Ayat 28: Ini dikatakan sebagai halangan yang keempat. Ada yang berhujah bahawa tidak patut memutuskan perhubungan dengan orang kafir. Mereka kata, bila memutuskan hubungan dengan orang kafir, mungkin perkara kehidupan kita terganggu, contohnya dari segi perniagaan. Ini kerana mungkin kita bergantung dengan mereka dari segi ekonomi. Allah ﷻ jawab hujah itu dalam ayat ini.

يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءآمَنوا إِنَّمَا المُشرِكونَ نَجَسٌ فَلا يَقرَبُوا المَسجِدَ الحَرامَ بَعدَ عامِهِم هٰذا ۚ وَإِن خِفتُم عَيلَةً فَسَوفَ يُغنيكُمُ اللَّهُ مِن فَضلِهِ إِن شاءَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَليمٌ حَكيمٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

O you who have believed, indeed the polytheists are unclean, so let them not approach al-Masjid al-Haram after this, their [final] year. And if you fear privation, Allah will enrich you from His bounty if He wills. Indeed, Allah is Knowing and Wise.

(MALAY)

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan dari kurnia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءآمَنوا إِنَّمَا المُشرِكونَ نَجَسٌ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis,

Pertamanya, Allah ﷻ beritahu yang orang musyrik itu najis. Ini adalah kerana akidah mereka rosak. Kalimah yang digunakan adalah نَجَسٌ dan bukan نَجِس. Kalau نَجِس ia adalah najis kecil tetapi apabila ia adalah نَجَسٌ, bermakna ia najis yang berat.

Terdapat tiga jenis najis dalam Islam:

1. Najis kekotoran seperti tahi yang semua orang tahu ia adalah kotor. Ia boleh diketahui dengan pancaindera. Ini adalah najis aini yang boleh dilihat dengan dan dirasa dengan deria.
2. Ada najis yang diketahui melalui ilmu syariat. Ini adalah seperti keluarnya air mani, haid dan nifas.
3. Najis dari segi maknawi (makna) iaitu kekotoran fahaman dan akidah.

Oleh itu kena faham yang ‘najis’ yang disebut di dalam ayat ini adalah lebih kepada najis dalaman atau najis maknawi. Bukan tubuh fizikal mereka yang najis, sebab itu mereka boleh memasuki masjid. Ia adalah jenis najis maknawi (dari segi makna sahaja), bukannya najis hissi (fizikal). Untuk najis hissi atau ain, kita basuh dengan air untuk menghapuskannya, manakala untuk najis maknawi, ia dibasuh dengan kalimah la ilaaha illallah, iaitu kena memeluk Islam barulah najis itu dihapuskan.

Walaupun begitu, orang kafir juga telah melanggar syariat terhadap ketiga-tiga jenis najis yang telah disebut. Mereka tidak menjaga kebersihan tubuh badan dan kerana itu zaman dahulu orang kafir tidak basuh pun najis mereka. Mereka juga tidak mengambil wudhu’ dan mandi janabah selepas keluar air mani dan juga haid. Seperti yang telah disebut, akidah mereka adalah akidah sesat dan kufur.

Namun begitu yang ditekankan di dalam ayat ini adalah najis akidah. Kerana itulah pada zaman Nabi Muhammad ﷺ, selalu baginda menerima wakil orang kafir yang bertemu baginda di dalam masjid dan tidak ada masalah. Orang Melayu kita sahaja yang jahil akan perkara ini dan mereka itulah golongan pak lebai yang faham agama agak-agak sahaja.

Maka bukanlah tubuh orang kafir itu yang najis tetapi akidah mereka yang najis. Disebabkan keliru, ada juga yang bertanya: “kalau bersalam dengan orang kafir, wudhu’ batalkah?” Ini adalah soalan daripada mereka yang jahil dengan ayat ini. Tidak, wudhu’ tidak batal dan kita boleh sahaja sentuh mereka. Soalan itu pun tidak patut, kerana kalau kita sentuh najis pun, tidaklah membatalkan wudhu’. Cuma basuh sahaja.

Allah ﷻ memulakan ayat ini dengan memberitahu hakikat para Musyrikin Mekah itu supaya puak muslimin meninggalkan rasa perhubungan dengan mereka. Kenapa lagi hendak berurusan baik dengan mereka kalau mereka itu najis? Kenapa hendak memuliakan najis pula?

 

فَلا يَقرَبُوا المَسجِدَ الحَرامَ بَعدَ عامِهِم هٰذا

maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. 

Dalam ayat ini Allah ﷻ kata jangan dekati, dan ia bermaksud jangan masuk pun. Dekati pun jangan, apatah lagi memasukinya. Puak Musyrikin dilarang untuk memasuki Tanah Haram selepas pengumuman daripada Surah Tawbah ini, iaitu selepas 4 bulan.

Apakah yang dimaksudkan dengan بَعدَ عامِهِم هٰذا (selepas tahun ini)? Tahun yang mana? Tahun 9 Hijrah atau 10 Hijrah? Pendapat yang kuat adalah orang musyrik tidak boleh memasukinya selepas habis tahun 9 Hijrah. Akan tetapi penangguhan diberikan selama setahun dan kerana itu hanya selepas habis tahun 10 Hijrah barulah undang-undang ini diketatkan.

Manakala yang tidak boleh masuk adalah MasjidilHaram, termasuk semua Tanah Haram, bukannya masjid-masjid lain. Inilah polisi yang telah ditetapkan oleh Islam. Sebab itulah orang kafir sampai sekarang pun tidak dibenarkan untuk memasuki ke Tanah Haram terlebih lagi di Ka’bah. Memang ada tanda sempadan kawasan Tanah Haram itu.

Ayat ini diturunkan pada tahun sembilan Hijriah. Kerana itulah maka Rasulullah ﷺ mengutus Ali رضي الله عنه untuk menemani Abu Bakar رضي الله عنه pada tahun itu. Nabi ﷺ memerintahkan kepadanya untuk menyerukan pengumuman dalam kalangan orang-orang musyrik, bahawa sesudah tahun ini tidak boleh lagi ada orang musyrik berhaji dan tidak boleh lagi ada orang tawaf di Baitullah dengan telanjang. Dengan demikian, maka Allah ﷻ telah menyempurnakan agama-Nya dan menetapkan hal ini sebagai syariat dan keputusan-Nya.

Ayat ini menjadi polemik yang agak panjang lebar juga. Ada tiga persoalan yang timbul dalam kalangan ulama’:

1. Adakah larangan itu hanya untuk MasjidilHaram sahaja atau semua masjid di dunia ini?
2. Jikalau mereka dihalang daripada memasuki MasjidilHaram, adakah secara keseluruhan (tidak boleh masuk langsung) atau mereka hanya dilarang mengerjakan Haji dan Umrah sahaja?
3. Adakah Ahli Kitab juga termasuk di dalam larangan ini? Ini kerana mereka itu mempunyai kedudukan istimewa juga di dalam syariat Islam (sebagai contoh wanita mereka boleh dikahwini dan sembelihan mereka boleh dimakan).

Oleh kerana ayat ini ringkas sahaja, maka ada khilaf pendapat dalam kalangan ulama’. Antara soalan yang timbul adalah: najis apakah yang dimaksudkan? Imam Malik رحمه الله mengatakan orang Musyrik ini bernajis dalam semua hal (fizikal dan akidah) dan kerana itulah mereka tidak boleh memasuki mana-mana masjid pun. Khalifah Umar Abdul Aziz pernah mengeluarkan arahan kepada penguasa setiap kota untuk tidak membenarkan orang kafir masuk ke dalam masjid. Beliau menaqalkan ayat ini sebagai dalil bagi arahan itu.

Imam Syafi’iy رحمه الله pula mengatakan larangan ini kepada semua orang kafir (termasuk Ahli Kitab) tetapi hanya di MasjidilHaram sahaja. Beliau berdalilkan kisah Thumamah ibn Athal yang ditangkap dan Rasulullah ﷺ mengarahkannya diikat di tiang Masjid Nabawi sebelum beliau masuk Islam.

Imam Abu Hanifah رحمه الله pula mengatakan yang dilarang adalah untuk melakukan Haji dan Umrah dengan cara sesat mereka. Kalau untuk masuk MasjidilHaram sahaja untuk tujuan lain, ini boleh dibenarkan oleh pemerintah. Beliau berdalil dengan kisah wakil daripada Bani Tsaqif yang datang selepas penaklukan Mekah dan Rasulullah ﷺ membenarkannya masuk masjid. Para sahabat ketika itu mengatakan yang orang itu kotor tetapi Rasulullah ﷺ mengatakan lantai masjid tidak terkesan dengan najis orang itu.

Oleh kerana itu Imam Abu Hanifah رحمه الله berpendapat yang konteks ayat ini bukanlah tentang kebersihan masjid, (walaupun ia penting) akan tetapi tentang kebersihan dari segi akidah. Tujuan ayat ini adalah untuk membersihkan Tanah Haram daripada golongan Musyrik. Akan tetapi ia tidaklah dilakukan serta merta. Malahan mereka itu diberi masa setahun untuk melakukannya.

Rasulullah ﷺ kemudian meneruskan usaha untuk membersihkan keseluruhan Tanah Arab daripada golongan musyrikin. Namun baginda tidak sempat melakukannya kerana tidak lama selepas itu baginda pun wafat. Malah Sayyidina Abu Bakr رضي الله عنه pun tidak sempat kerana jangkamasa pemerintahan beliau amat singkat dan perlu selesaikan perkara dalaman terlebih dahulu. Ia cuma mampu dilakukan pada zaman pemerintahan Sayyidina Umar رضي الله عنه.

 

وَإِن خِفتُم عَيلَةً فَسَوفَ يُغنيكُمُ اللَّهُ مِن فَضلِهِ إِن شاءَ

Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan dari kurnia-Nya, jika Dia menghendaki. 

Sebelum ini dikatakan ada yang bimbang mereka putus bekalan dunia, bukan? Allah ﷻ beritahu sekiranya mereka bimbang kemiskinan, Allah ﷻ janji akan beri kecukupan daripada kurniaan-Nya jika Dia kehendaki. Maka jangan takut yang rezeki mereka akan hilang.

Allah ﷻ juga hendak menasihati Musyrikin Mekah. Mereka mungkin takut selepas mereka masuk Islam, mereka akan susah. Ini kerana sebelum itu, sumber pendapatan mereka adalah daripada mereka yang datang ke Kaabah dari merata tempat kerana puak Arab ada meletakkan berhala mereka di Kaabah itu.

Allah ﷻ beritahu, jangan risaulah. Sejak dahulu Allah ﷻ juga yang memberi rezeki kepada mereka dan sekarang Allah ﷻ yang sama juga. Allah ﷻ akan memberi kesenangan kepada mereka. Allah ﷻ akan menjadikan mereka kaya raya selepas itu. Ini kerana mereka akan mendapat harta daripada Kerajaan Parsi dan Rom. Mereka akan menakluk jajahan-jajahan lain dan akan mendapat bayaran jizyah dan daerah-daerah itu.

Allah ﷻ akan beri sumber rezeki yang banyak sekali daripada sumber lain yang tidak disangka-sangka. Lihatlah sekarang mereka dikurniakan dengan kekayaan minyak. Memang kaya sungguh negara-negara Arab sekarang ini. Sampai mereka tidak tahu hendak buat apa dengan kekayaan itu.

Ayat ini mengajar akidah kita tentang rezeki di mana Allah ﷻ yang memberi rezeki kepada kita. Bukannya usaha kita. Berapa ramai manusia yang berusaha keras tetapi tidak mendapat rezeki? Usaha kita tidak memberi bekas sebenarnya. Cuma Allah ﷻ hendak melihat usaha kita, itu sahaja. Maka kena tetap berusaha. Akan tetapi jangan sangka yang usaha itu akan berjaya tanpa Allah ﷻ beri izin.

 

إِنَّ اللَّهَ عَليمٌ حَكيمٌ

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Allah ﷻ tahu memang akan ada putus hubungan dan boleh jadi berlaku putus keperluan. Namun Allah ﷻ maha bijaksana, Dia akan beri perkara yang lebih baik. Segala yang Allah ﷻ tentukan ada untuk kebaikan. Maka kita kena redha dan percaya dengan keputusan yang Allah ﷻ telah lakukan. Allah ﷻ tahu keperluan hidup kita dan Allah ﷻ akan beri kecukupan kepada kita.


 

ARAHAN JIHAD

Tawbah Ayat 29: Ayat ini adalah DAKWA Surah Tawbah. Inilah polisi untuk memerangi puak Musyrikin dan Ahli Kitab.

Kita sekarang sudah masuk ke perenggan Makro ke 2 surah ini. Ia bermula daripada ayat ini sehingga ke ayat 35. Dalam perenggan pertama telah disebut tentang perang dengan Bani Ismail (golongan Arab), sekarang disebut arahan perang kepada Bani Israil (golongan Ahli Kitab) pula. Yang dimaksudkan adalah Yahudi dan Nasrani.

Walaupun tidak disebut secara tekstual tentang mereka, malah boleh dikatakan arahan ini adalah arahan berperang dengan semua golongan kafir, tetapi mereka adalah golongan yang dikenali oleh bangsa Arab pada waktu itu. Ia penting kerana mungkin ada dalam kalangan umat Islam ketika itu berasa berat untuk berperang dengan mereka memandangkan mereka itu ada juga beriman kepada agama samawi dan agak rapat dengan umat Islam. Ini kerana mereka juga mempunyai kitab, mereka juga beriman dengan para Nabi yang juga para Nabi umat Islam juga. Maka Allah ﷻ berikan penegasan yang mereka itu tetap mesti diperangi kerana mereka telah terpesong jauh daripada agama yang asli.

Malah mereka amat patut diperangi lebih awal kerana mereka itu sepatutnya kenal Allah ﷻ, kenal Nabi mereka dan malah kenal Nabi Muhammad ﷺ. Akan tetapi mereka tetap juga kufur dengan kebenaran. Ini jenis orang yang degil (tahu kebenaran tetapi tetap menolaknya). Maka mereka ini lebih teruk lagi daripada golongan musyrik yang tidak ada ilmu.

Mujahid mengatakan ayat-ayat ini adalah tentang Perang Tabuk pada tahun 9 Hijrah. Ia adalah perang terakhir yang disertai oleh Rasulullah ﷺ.

قٰتِلُوا الَّذينَ لا يُؤمِنونَ بِاللَّهِ وَلا بِاليَومِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمونَ ما حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسولُهُ وَلا يَدينونَ دينَ الحَقِّ مِنَ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ حَتّىٰ يُعطُوا الجِزيَةَ عَن يَدٍ وَهُم صٰغِرونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Fight those who do not believe in Allah or in the Last Day and who do not consider unlawful what Allah and His Messenger have made unlawful and who do not adopt the religion of truth [i.e., Islam] from those who were given the Scripture – [fight] until they give the jizyah1 willingly while they are humbled.

  • A tax required of non-Muslims exempting them from military service and entitling them to the protection of the Islamic state. Concurrently, zakah is not taken from them, being an obligation only upon Muslims.

(MALAY)

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (iaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

 

قٰتِلُوا الَّذينَ لا يُؤمِنونَ بِاللَّهِ وَلا بِاليَومِ الآخِرِ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian

Hendaklah puak Muslimin memerangi golongan yang tidak beriman. Allah ﷻ beritahu kenapa mesti diperangi mereka itu. Sebab pertama dinyatakan di dalam ayat ini; mereka tidak mengamalkan tauhid. Mereka tidak beriman sebenarnya dengan Allah ﷻ. Mereka tidak mengamalkan fahaman tauhid.

Sebab kedua, mereka tidak beriman dengan akhirat. Mereka tidak percaya yang mereka akan dibangkitkan kembali dan dikenakan balasan di atas apa yang mereka telah lakukan. Oleh kerana tidak percaya akhirat, maka mereka tidak takut untuk berbuat dosa di atas dunia.

 

وَلا يُحَرِّمونَ ما حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسولُهُ

dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya

Dan yang ketiga, mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Nabi. Mereka tidak kisah halal dan haram. Mereka sanggup ubah hukum asalkan mereka dapat habuan dari fatwa mereka itu.

 

وَلا يَدينونَ دينَ الحَقِّ

dan tidak beragama dengan agama yang benar 

Sebab keempat, mereka tidak menerima agama Islam. Setelah disampaikan dakwah kepada mereka, mereka masih juga menolaknya. Malah, mereka menentang ajaran Islam yang disampaikan kepada manusia. Mereka sanggup mengatakan Nabi Muhammad ﷺ bukan Rasul, atau mereka kata baginda hanya Rasul untuk bangsa Arab sahaja.

Oleh kerana mereka itu Ahli Kitab dan dipandang tinggi oleh manusia, maka keputusan mereka tidak menerima Nabi Muhammad ﷺ itu telah menyebabkan manusia lain sangsi untuk menerima baginda. Ini adalah kerana mereka melihat kepada yang kenal agama pun tidak menerima baginda (iaitu Ahli Kitab), maka tentulah baginda tidak benar (pada pandangan mereka).

 

مِنَ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ

dari kalangan orang-orang yang diberikan Al-Kitab kepada mereka,

Siapakah yang perlu diperangi? Mereka adalah golongan Ahli Kitab yang disebut dalam ayat ini. Sifat-sifat mereka telah disebut dan terdapat 4 perkara yang mereka telah langgar:

1. Mereka tidak percaya kepada Allah ﷻ
2. Mereka tidak percaya kepada Hari Akhirat
3. Mereka tidak mengharamkan apa yang Allah ﷻ telah haramkan
4. Mereka tidak beragama dengan sebenarnya

Cuma, bukankah mereka sepatutnya beriman dengan Allah ﷻ dan beriman dengan Hari Akhirat? Bukankah mereka itu telah diutuskan dengan banyak Nabi dan juga kitab wahyu? Maka, kenapa Allah ﷻ kata mereka tidak beriman pula?

Ini adalah kerana mereka itu cakap beriman dengan mulut sahaja. Walhal dari segi praktikalnya mereka tidak beriman. Nanti ayat selepas ini disebut bagaimana mereka telah mengambil Nabi Uzair dan Nabi Isa عليهماالسلام sebagai anak tuhan. Maka itu menunjukkan yang mereka ini musyrik sebenarnya. Kata-kata beriman yang tidak diikuti dengan amalan tidak akan dikira langsung.

Walaupun dikatakan mereka beriman adanya Hari Akhirat, tetapi fahaman mereka tentangnya sudah lari daripada kebenaran kerana telah diubah-ubah daripada apa yang telah disampaikan oleh Nabi mereka dan wahyu. Contohnya mereka kata yang ada akhirat nanti adalah roh sahaja, tanpa fizikal.

Dari segi hukum, mereka buat tidak tahu sahaja pengharaman Allah ﷻ. Sebagai contoh, riba yang Allah ﷻ haramkan, mereka benarkan pula. Mereka ini dalam bab beragama, amat culas. Ikut sedap tekak mereka sahaja. Semoga kita tidak menjadi seperti mereka itu.

Di sini Allah ﷻ sedang membezakan antara puak Musyrikin dan Ahli Kitab. Allah ﷻ sebut Ahli Kitab secara khusus. Kenapa pula? Kerana mungkin ada para sahabat yang berasa mereka tidak perlu menyerang puak Ahli Kitab. Allah ﷻ kata tidak, mesti juga melawan mereka, kerana mereka itu pun ada masalah juga.

Ayat ini merupakan ayat pertama yang memerintahkan untuk memerangi kaum Ahli Kitab, sesudah menyelesaikan perkara yang melibatkan kaum musyrik dan sesudah manusia masuk ke dalam agama Allah ﷻ (agama Islam) secara bergelombang, serta seluruh Jazirah Arabia telah tegak di dalam kekuasaan agama Islam. Setelah itu berlaku, maka sekarang Allah ﷻ memerintahkan kepada Rasul-Nya agar memerangi kaum Ahli Kitab, iaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini terjadi pada tahun sembilan Hijriah.

 

حَتّىٰ يُعطُوا الجِزيَةَ عَن يَدٍ

sampai mereka membayar jizyah dengan patuh

Ahli Kitab itu mesti diperangi (kerana kekafiran mereka) namun ada hadnya di mana mereka diwajibkan untuk membayar jizyah. Ini mereka perlu lakukan kalau mereka tidak mahu memeluk Islam. Ini kerana sekiranya mereka sudah membayar jizyah, maka tidak boleh lagi diperangi mereka itu.

Perkataan jizyah diambil daripada perkataan jaza’ (pemulangan atau balasan), dan jizyah bermaksud sebagai ganti mereka tidak dibunuh. Jizyah itu dikenakan kepada mereka kerana kekufuran mereka.

Allah ﷻ beritahu yang umat Islam mesti memerangi orang kafir itu sehingga mereka membayar jizyah dengan tangan mereka mereka ini. Mereka mesti memberi dengan tangan mereka sendiri sebagai isyarat yang mereka kena tunduk dengan kerajaan Islam. Jizyah ini hendaklah diberi sendiri, tidak boleh melalui perantaraan kerana itu Allah ﷻ sebut عَن يَدٍ (daripada tangan).

Jizyah ketika itu menyerupai cukai yang dikenakan kepada rakyat sesebuah negara sekarang. Mereka menjadi jajahan takluk negara Islam. Mereka tidaklah menjadi rakyat negara Islam kerana untuk menjadi rakyat negara Islam, mesti melafazkan syahadah. Maka dengan membayar jizya mereka mendapat penjagaan di dalam negara Islam dan mereka boleh mengamalkan agama mereka dengan bebas.

Oleh sebab itu, mereka tidaklah mendapat kelebihan penuh sebagai rakyat negara Islam. Sebagaimana di negara kita sekarang, untuk bukan warganegara Malaysia pergi ke hospital, bayaran yang dikenakan kepada mereka tidak sama seperti yang dikenakan kepada rakyat Malaysia sendiri.

Puak Muslimin dibenarkan untuk mengenakan undang-undang sebegini kepada orang kafir kerana mereka telah diberikan peluang untuk berfikir. Mereka telah diajak dan diberi pilihan sebelum ini. Kalau masih tidak mahu ambil peluang itu, maka mereka boleh melakukan seperti yang Allah ﷻ perintahkan dalam ayat ini. Amat jelas pilihan yang Allah ﷻ berikan kepada mereka ini merupakan rahmat daripada-Nya.

Jizyah ini bukanlah perkara yang baru kerana jika mereka tidak membayarnya kepada negara Islam, mereka akan diwajibkan untuk membayar kepada negara lain. Bayaran yang dikenakan tidak banyak iaitu ditetapkan sebanyak 1 Dinar setiap orang. Atau apa sahaja amaun yang boleh ditetapkan oleh khalifah.

Kelebihan yang mereka akan dapat adalah keselamatan mereka akan dijamin oleh negara Islam. Mereka hanya menjadi warganegara sahaja dan tidak perlu mempertahankan negara mereka kerana negara Islam yang akan menjamin keselesaan dan keselamatan mereka.

Oleh kerana itu jizyah tersebut tidak akan gugur sehingga mereka memeluk agama Islam. Barulah mereka menjadi rakyat negara Islam yang sebenar dan mendapat kelayakan penuh. Jizyah juga tidak akan gugur walaupun mereka ikut berperang.

Jizyah juga tidak akan diambil melainkan daripada orang yang mampu sahaja. Allah ﷻ berfirman: “عَن يَدٍ.” Maksudnya kerana kemampuan mereka. Oleh kerana itu jizyah tidak diambil daripada orang yang tidak mampu. Ia juga bermaksud mereka bayar jizrah itu kerana mereka menerima hakikat yang mereka itu di bawah penguasaan kerajaan Islam.

Di samping itu jizyah diambil daripada kaum lelaki sahaja dan tidak wajib bagi kaum wanita, anak-anak dan juga orang gila. Walaupun wanita tersebut datang ke negara Islam dan sanggup membayar jizyah sebagai bayaran kerana ingin menetap di sana, namun jizyahnya tidak wajib diambil, dia akan diterima tinggal di negara Islam dan dia bebas untuk tinggal di mana sahaja di negara Islam.

Jumlah jizyah ditetapkan mengikut kebijaksanaan dan ijtihad Khalifah. Harus diingatkan bahawa jizyah itu hendaklah tidak melebihi kemampuan orang yang berhak membayar jizyah.

Imam Bukhari berkata, Ibn `Uyainah telah berkata daripada Ibn Abi Najih, aku bertanya kepada Mujahid:

ما شأن أھل الشام عليھم أربعة دنانير وأھل اليمن عليھم دينار ؟ قال : جعل ذلك من أجل اليسار…وألنھا عوض فلم تتقدر كاألجرة

Kenapa penduduk Sham dikenakan jizyah empat dinar, manakala penduduk Yaman pula dikenakan satu dinar? Beliau menjawab : dijadikan begitu bagi tujuan kemudahan (kepada mereka)…dan ia adalah cukai maka ia tidak ditetapkan sepertimana bayaran sewa
(HR. Bukhari 6/296)

Ketika zaman pemerintahan Sayyidina Umar رضي الله عنه pula beliau mengenakan zakat kepada Kristian Bani Taghlib, cuma zakat yang dikenakan kepada mereka adalah dua kali ganda. Sedangkan pada zaman Rasulullah ﷺ telah ada perjanjian dengan Kristian Najran untuk membayar dua ribu hullah setahun. Hullah adalah sejenis pakaian.

Apabila Jizyah dikenakan terhadap orang yang mampu, manakala dia keberatan untuk membayarnya, maka dia dianggap mempunyai hutang jizyah. Dia akan diperlakukan sebagaimana orang yang berhutang dalam keadaan yang dia keberatan. Kemudian akan dilihat bagaimana mudahnya.

 

وَهُم صٰغِرونَ

sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Maknanya mereka membayar jizyah itu bukan secara sukarela akan tetapi kerana mengiktiraf kuasa kerajaan Islam ke atas mereka. Ia juga bermaksud mereka kena tunduk patuh kepada syariat Islam. Walaupun mereka orang kafir, tetapi mereka mesti mengikut hukum Islam. Sebagaimana orang luar yang datang ke negara kita sekarang, kenalah ikut undang-undang negara kita. Sebagai contoh, jika mereka melakukan perbuatan salah seperti mengedar dadah, mereka tetap dikenakan hukuman gantung walaupun di negara mereka tidak ada undang-undang sebegitu.

Selain itu, hendaklah jadikan mereka itu dalam keadaan hina, rendah, dan kalah. Tidak boleh membanggakan mereka, tidak boleh pula meninggikan mereka atas kaum Muslim; bahkan mereka harus dipandang terhina, kecil lagi celaka, seperti yang disebutkan di dalam berikut:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( لاَ تَبْدَأُوا اليَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلامِ ، فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيْقِ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Daripada Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu dengan salah satu daripada mereka di jalan maka desaklah ia ke jalan yang sempit.”
(HR. Muslim No. 2167)

Mereka ini adalah orang-orang kafir jenis Kafir Dzimmah. Kafir Dzimmi atau kafir zimi atau dzimmah ialah orang kafir yang diizinkan untuk tinggal di negeri kaum muslimin, dan sebagai gantinya mereka mengeluarkan jizyah yakni semacam ufti.

Ayat ini menyebut Ahli Kitab yang dimestikan untuk membayar jizyah. Kerana itulah ada yang berpendapat jizyah ini hanya diberikan pilihan itu kepada Ahli Kitab sahaja. Akan tetapi pendapat majoriti mengatakan ia boleh dikenakan juga kepada orang kafir yang lain. Cuma ia tidaklah diberikan sebagai pilihan kepada Musyrikin Mekah.

Habis Ruku’ 4 dari 16 ruku’ dalam surah ini.

 

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya

Kemaskini: 18 Oktober 2023

Ringkasan Surah Tawbah


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Ustaz Solahuddin

Ustaz Abdul Muien

Maariful Qur’an

Tafsir Surah Naba’ Ayat 31 – 40 (Keadaan di akhirat)

Ayat 31: Ayat 31 – 37 adalah Perenggan Makro Kelima. Ia menceritakan kemenangan dan balasan bagi muttaqin.

إِنَّ لِلمُتَّقينَ مَفازًا

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Indeed, for the righteous is attainment¹ –

  • Of security, success and reward, including escape and safety from Hell.

(MALAY)

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,

 

 

Dan kepada orang-orang yang bertaqwa, mereka akan diberikan kejayaan. Lafaz مَفازًا dalam ayat ini bukan hanya bermaksud ‘kejayaan’ biasa, tetapi kejayaan melepasi perkara yang buruk yang tidak diingini. Ini adalah kerana, mereka itu lepas dari termasuk ke dalam neraka. Kerana semua manusia kena melalui Titian Sirat dan titian itu sebenarnya melalui neraka. Jadi secara praktikalnya, semua manusia akan ‘masuk’ dalam neraka. Cuma jatuh atau tidak ke dalamnya, sahaja.

Hanya mereka yang bertaqwa akan dapat melepasi neraka itu. Dan mereka akan nampak dengan mata mereka sendiri benda yang mereka telah lepasi itu, iaitu neraka jahannam. Tentulah ini adalah kejayaan yang lebih besar lagi dari hanya ‘kejayaan’ sahaja. Kerana kalau kita lepas dari bahaya itulah yang menyebabkan kita lebih bersyukur, bukan?

Lihatlah ayat ini menggunakan lafaz ‘muttaqin’, bukan ‘mukminin’. Maknanya, mereka bukan beriman sahaja, tetapi juga bertaqwa. Maknanya, tingkatan yang lebih tinggi lagi dari beriman sahaja.

Apakah maksud muttaqeen (orang yang bertaqwa)? Mereka yang bertaqwa itu adalah mereka yang menjaga-jaga segala perbuatan mereka kerana takut. Mereka itu amat berhati-hati dalam perbuatan seharian mereka, kerana mereka takut kalau mereka silap langkah, mereka akan menyebabkan Allah ﷻ marah dan mereka masuk neraka.

Oleh itu, mereka buat sesuatu untuk selamat dari azab neraka. Taqwa bukan perasaan sahaja tetapi ada perbuatan kena dilakukan. Iaitu kena jaga hukum yang telah ditetapkan oleh Allah ﷻ. Dalam setiap perbuatan mereka, mereka akan tanya diri mereka: “apa hukum Allah ﷻ tentang perkara ini?”


 

Ayat 32: Mereka bukan sahaja akan selamat dari neraka tetapi akan ditempatkan di dalam syurga.

حَدائِقَ وَأَعنابًا

Sahih International

Gardens and grapevines

Malay

(Mereka akan beroleh) taman-taman bunga dan kebun-kebun buah-buahan, terutama anggur;

 

Allah ﷻ menggunakan lafaz حَدائِقَ yang bermaksud taman yang tinggi pagarnya yang orang lain tidak dapat masuk. Ini memberikan isyarat hebatnya dan eksklusifnya syurga itu.

Dan Allah ﷻ sebutkan anggur dalam ayat. Anggur adalah makanan dan di dalamnya juga telah ada minuman. Jadi ianya adalah jenis makanan yang ‘dua dalam satu’ maka ia hebat. Dan dalam masyarakat Arab mereka jarang dapat anggur kerana ia adalah makanan mewah yang kena import dari luar. Jadi ia bukanlah makanan biasa dan ia adalah motivasi untuk beriman.


 

Ayat 33: Di dalam syurga itu penghuni syurga akan diberikan pasangan hidup. Kerana kalau duduk di tempat yang penuh nikmat, tetapi hidup berseorangan sahaja, tentu tidak menarik dan tidak menggembirakan. Kerana kita sebagai manusia, suka untuk menikmati kesenangan bersama dengan orang yang kita sayang, bukan?

وَكَواعِبَ أَترابًا

Sahih International

And full-breasted [companions] of equal age

Malay

Dan perawan-perawan yang sebaya umurnya;

 

Penghuni syurga akan dipasangkan dengan bidadari yang cantik yang masih perawan lagi. Ada yang kata sifat mereka itu ‘montok’ kerana lafaz كَواعِبَ bermaksud yang timbul buah dadanya. Maknanya mereka itu amat menggiurkan penghuni syurga itu.

Lafaz أَترابًا bermaksud umur mereka amat sesuai sekali. Yang sebaya umurnya, muda semua, tidak ada yang tua. Dan pasangan lelaki dan perempuan itu mempunyai umur yang sama. Tidak pasti umurnya berapa (ada pendapat yang mengatakan umurnya 33 tahun). Tetapi takkan jadi tua daripada umur tersebut, kerana umur tidak bertambah di syurga.


 

Ayat 34:

وَكَأسًا دِهاقًا

Sahih International

And a full cup.

Malay

Serta piala atau gelas yang penuh dengan minuman;

 

Dan mereka akan minum dari piala yang dipenuhi dengan air yang sedap dan menarik. Perkataan كَأسًا hanya digunakan untuk gelas yang berisi penuh dengan air mahal terutama arak. Maka ia bukan gelas biasa dan bagi orang Arab, kalau disebut kalimah كَأسًا ia bermaksud bekas minuman untuk arak. Air minuman itu banyak sangat sampai melimpah dari gelas. Ini memberi isyarat mewahnya makanan dan minuman di syurga nanti.


 

Ayat 35:

لا يَسمَعونَ فيها لَغوًا وَلا كِذّابًا

Sahih International

No ill speech will they hear therein or any falsehood –

Malay

Mereka tidak mendengar di dalam Syurga itu perkataan yang sia-sia, dan tiada pula perkataan yang dusta;

 

Ini satu lagi nikmat di syurga yang Allah berikan supaya kita dapat bayangkan. Di syurga, mereka tidak akan mendengar perkataan yang sia-sia dan berunsur penipuan. Di awal surah, Allah ﷻ menceritakan bagaimana orang kafir bercakap tentang perkara sia-sia. Kerana mereka bertanya tentang akhirat dengan cara yang lagha. Mereka bertanya bukan kerana hendak tahu, tetapi kerana hendak mengejek.

Dan pada zaman sekarang pun banyak kita mendengar kata-kata penipuan di dalam media di mana-mana. Kita pun kadangkala kena tohmah dengan macam-macam tohmahan. Sebagai contoh, kita yang hendak menyampaikan agama ini pun kena kutuk dan dihina. Kadangkala dipanggil dengan gelaran tidak patut seperti ‘wahabi’ dan sebagainya.

Dalam keadaan sebegitu, Allah ﷻ suruh kita bersabarlah sahaja, kerana memang itu akan berlaku, tidak dapat dielak semasa kita hidup di dunia ini. Kerana manusia bukan ada penutup pada mulut mereka, bukan? Hanya di syurga sahajalah kita takkan dengar benda-benda macam itu lagi. Kalau di dunia, baik macam mana pun, ada kemungkinan kita kena macam-macam tuduhan dan ejekan. Maka kena selalu buat latihan senyuman (apa sahaja orang kata, maka senyum sahaja).


 

Ayat 36: Daripada siapakah pemberian itu?

جَزاءً مِن رَبِّكَ عَطاءً حِسابًا

Sahih International

[As] reward from your Lord, [a generous] gift [made due by] account,

Malay

Sebagai balasan dari Tuhanmu, iaitu satu limpah kurnia yang dikira cukup (menurut yang dijanjikanNya),

 

Semua ini adalah pemberian dari Allah ﷻ yang عَطاءً – melebihi dari apa yang layak kita dapat. Bayangkan kita buat amal kebaikan tidak sampai seratus tahun pun kita hidup, tetapi diberi balasan nikmat selama-lamanya.

Bukan digunakan kalimah وِفاقًا seperti yang dikatakan untuk penghuni neraka dalam ayat ke 26 sebelum ini. Kalau kepada penghuni neraka, Allah ﷻ bagi cukup-cukup, bertepatan dengan perbuatan mereka. Tetapi kepada penghuni syurga, Allah ﷻ bagi berlebih-lebih lagi.

Di dalam budaya Arab, perkataan حِسابًا bermaksud pemberian kepada seseorang yang sampai orang itu akan berkata: “cukup, cukup”, sebab dia sudah tidak sanggup terima lagi kerana banyak sangat. Semoga kita dimasukkan sebagai penghuni syurga dan mendapat apa yang dijanjikan ini.

Allah ﷻ memberitahu bahawa balasan itu adalah dari Tuhan engkau, iaitu Allah ﷻ. Dia sudah beri kita macam-macam di dunia ini dan di akhirat nanti akan ada banyak lagi yang menunggu.

Lafaz ‘engkau’ yang dimaksudkan adalah Nabi Muhammad ﷺ. Dan apabila Allah ﷻ cakap macam tu, kita tahu ianya sesuatu yang bagus kerana Allah ﷻ memberikan segala kebaikan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Maka kalau kebaikan itu dikaitkan kepada baginda, maka tentunya ia amat hebat.


 

Ayat 37: Siapakah pula Allah ﷻ itu? Allah ﷻ terangkan dalam ayat ini pula:

رَبِّ السَّماواتِ وَالأَرضِ وَما بَينَهُمَا الرَّحمٰنِ ۖ لا يَملِكونَ مِنهُ خِطابًا

Sahih International

[From] the Lord of the heavens and the earth and whatever is between them, the Most Merciful. They possess not from Him [authority for] speech.

Malay

Tuhan yang mentadbir tujuh petala langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, Tuhan Yang Maha Pemurah, tidak ada sesiapapun diberi kuasa berkata-kata denganNya (untuk memohon pertimbangan tentang balasan atau pengurniaan itu);

 

رَبِّ السَّماواتِ وَالأَرضِ وَما بَينَهُمَا

Tuhan yang mentadbirkan tujuh petala langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya,

Allah ﷻ memberitahu dan menekankan yang Dialah rabb. ‘Rabb’ maksudnya yang mencipta, mentadbir dan memelihara alam dan makhluk. Bukan setakat menjadikan alam sahaja. Selepas Allah ﷻ jadikan makhluk, Allah ﷻ akan jaga, tadbir dan pelihara makhluk itu. Tidaklah Allah ﷻ jadikan alam ini, kemudian biarkan sahaja.

Dan Allah ﷻ tadbir semua sekali: langit Allah ﷻ tadbir, bumi pun Allah ﷻ tadbir juga. Dan bukan sahaja dua alam itu, tapi apa sahaja yang antara keduanya – maksudnya semua sekali Allah ﷻ tadbir. Dari yang sebesar-besarnya, sehinggalah sekecil-kecilnya. Tidak ada yang terlepas dari pandangan dan pentadbiran Allah ﷻ.

 

الرَّحمٰنِ

Tuhan Yang Maha Pemurah,

Allah ﷻ menekankan sifat RahmanNya di dalam ayat ini. Allah ﷻ memberitahu kemuliaanNya dan keagunganNya. Sifat ar-Rahman tidak sama dengan sifat ar-Raheem.

Ar-Raheem adalah sifat Allah juga tetapi tidaklah semestinya Allah ﷻ tengah buat. Sebagai contoh, seorang yang bersifat pemurah dan suka tolong orang, tidaklah dia sedang menolong orang sentiasa, bukan? Ada masanya dia tidur dan buat kerja lain.

Maka begitulah juga dengan ar-Raheem yang juga sifat Allah ﷻ tetapi belum berlaku lagi kerana ia adalah sifat di akhirat kelak (yang akan diberikan kepada orang mukmin). Namun apabila Allah ﷻ menggunakan lafaz SifatNya ar-Rahman dalam ayat ini, maksudnya Allah ﷻ memang sedang beri banyak pemberian berlimpah-limah kepada manusia. Perbincangan tentang kedua sifat ini ada di dalam Surah Fatihah.

 

لا يَملِكونَ مِنهُ خِطابًا

tidak ada sesiapapun diberi kuasa berkata-kata denganNya

Apabila orang kafir dengar yang Allah ﷻ bersifat ar-Rahman, mereka sangka mungkin mereka boleh pujuk Allah ﷻ kalau mereka kena masuk neraka. Tetapi Allah ﷻ beritahu yang tidak mungkin Allah ﷻ bersifat Rahman dengan mereka di akhirat kelak.

Bagaimana mereka hendak memujuk Allah ﷻ sedangkan mereka hendak bercakap dengan Allah ﷻ pun tidak boleh. Makhluk di akhirat kelak tidak ada kuasa untuk keluar sepatah perkataan pun kalau tidak diberi izin oleh Allah ﷻ. Waktu itu semua makhluk akan tunduk dalam ketakutan (walaupun malaikat), maka hendak cakap apa waktu itu?

Memang tidak akan berani hendak berkata-kata. Maknanya, tidak boleh hendak mula bercakap tanpa Allah ﷻ suruh bercakap. Jadi, kena berhati-hati dengan perbuatan kita di dunia ini kerana di akhirat kelak, tidak ada peluang bagi kita hendak memujuk Allah ﷻ. Kalau di dunia, bolehlah berhujah macam-macam dan menggunakan pemanis mulut, tapi tidak dengan Allah ﷻ di akhirat nanti.


 

Ayat 38: Allah ﷻ menceritakan keadaan pada Mahsyar nanti. Ayat 38 – 40 adalah Perenggan Makro Keenam dan terakhir surah ini. Ia memberitahu kita yang Mahsyar itu hari di mana tiada sesiapa dapat berbicara atau memberi syafaat melainkan setelah diberi izin.

يَومَ يَقومُ الرّوحُ وَالمَلائِكَةُ صَفًّا ۖ لا يَتَكَلَّمونَ إِلّا مَن أَذِنَ لَهُ الرَّحمٰنُ وَقالَ صَوابًا

Sahih International

The Day that the Spirit and the angels will stand in rows, they will not speak except for one whom the Most Merciful permits, and he will say what is correct.

Malay

(Tambahan pula) pada masa Jibril dan malaikat-malaikat yang lain berdiri bersaf-saf (menunggu perintah Tuhan), tidak ada yang berani berkata-kata (memohon pertimbangan) melainkan yang telah diizinkan baginya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, serta dia berkata benar.

 

يَومَ يَقومُ الرّوحُ وَالمَلائِكَةُ صَفًّا

pada masa Jibril dan malaikat-malaikat yang lain berdiri bersaf-saf 

Ulama’ tafsir sepakat mengatakan lafaz الرّوحُ dalam ayat ini bermaksud Malaikat Jibril عليه السلام. Kenapa disebutkan tentang beliau sedangkan sudah disebut tentang malaikat-malaikat? Kerana sebagai penghormatan kepada Jibril عليه السلام kerana kedudukannya. Jibril عليه السلام disebut secara khusus sebagai menghormatinya kerana kedudukannya yang tinggi di kalangan para malaikat.

Di Mahsyar nanti, para malaikat yang rapat dengan Allah ﷻ pun duduk tegak berdiri, mereka tunduk menunggu apa Allah ﷻ hendak kata dan beri arahan kepada mereka. Mereka pun duduk bersaf-saf, apatah lagi manusia? Manusia juga akan duduk bersaf-saf menunggu dalam ketakutan.

 

لا يَتَكَلَّمونَ إِلّا مَن أَذِنَ لَهُ الرَّحمٰنُ

mereka tidak ada yang berani berkata-kata melainkan yang telah diizinkan baginya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, 

Para malaikat عليهم السلام itu sendiri pun tidak berani untuk bercakap di hadapan Allah ﷻ kerana dalam ketakutan. Kenapa disebut tentang perkara ini? Kerana puak Musyrikin Mekah itu selalu sembah para malaikat عليهم السلام. Selain dari sembah malaikat, mereka juga seru para malaikat عليهم السلام itu dan minta syafaat kepada malaikat.

Ini adalah salah satu dari kesyirikan yang mereka lakukan. Ini kerana mereka kata malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah ﷻ dan mereka kata kalau mereka sembah dan puja malaikat, tentu nanti malaikat itu akan tolong minta Allah ﷻ selamatkan mereka yang selalu menyembah mereka. Maknanya, Musyrikin Mekah itu berharap para malaikat عليهم السلام itu akan beri syafaat kepada mereka.

Jadi, Allah ﷻ musnahkan harapan Musyrikin Mekah itu dengan mengatakan yang para malaikat عليهم السلام pun tidak berani berkata apa-apa di Mahsyar nanti. Lalu bagaimana hendak jadi wakil, jadi ‘peguam’ untuk Musyrikin itu kalau hendak bercakap pun mereka tidak berani?

Melainkan yang berani berkata-kata adalah mereka yang diberi izin terlebih dahulu oleh Allah ﷻ untuk berkata.

 

وَقالَ صَوابًا

serta dia berkata benar.

Dan syafaat yang kalau diberikan pun adalah tepat kepada orang tertentu sahaja. Mereka tidak dapat berkata-kata melainkan kalau Allah ﷻ memberi kebenaran kepada mereka. Dan selepas diberikan kebenaran itu, mereka hanya boleh berkata yang benar-benar sahaja.

Ini disebut kerana kaum kafir ada yang berpendapat bahawa malaikat  عليهم السلام akan menyelamatkan mereka. Sebab mereka selalu tawassul kepada malaikat عليهم السلام juga. Tetapi tidaklah boleh malaikat عليهم السلام itu hendak menipu untuk mempertahankan sesiapa sahaja. Malaikat عليهم السلام akan berkata benda yang benar terjadi sahaja. Jadi kalau mereka melakukan syirik, bagaimana lagi mereka akan diselamatkan oleh malaikat عليهم السلام?

Ayat ini juga sebagai tempelak kepada masyarakat Muslim kita pun yang sangka mereka boleh mendapat syafaat dari para malaikat عليهم السلام. Kerana ada juga yang seru malaikat عليهم السلام di malam hari, beri salam dan sebagainya. Ada yang mengamalkan amalan sebegitu untuk minta tolong terus dari malaikat عليهم السلام.

Itu semua adalah perbuatan syirik yang diajar oleh syaitan. Mereka amalkan itu kerana diajar oleh ajaran-ajaran sesat, antaranya termasuk ajaran silat yang telah diserapi oleh ajaran sesat yang datang dari dulu lagi. Mereka pakai terima sahaja, kononnya itu adalah kebaikan. Ini kerana masyarakat kita jahil tentang agama dan tentang wahyu.

Nota: Dalam ayat ini ruh, atau Jibril عليه السلام disebut dahulu padahal dalam banyak ayat lain, malaikat lain disebut dahulu. Sebab ayat ini berkenaan dengan autoriti dan Jibrail عليه السلام adalah malaikat yang paling banyak autoriti.

Ada yang kata ‘ruh’ yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah anak cucu Adam عليه السلام. Ada pula yang berkata bahawa ‘ruh’ yang dimaksudkan di sini adalah Al-Qur’an. Dan ada lagi pendapat-pendapat lain. Allahu a’lam mana yang sebenarnya dan biasa sahaja ada beberapa pendapat seperti ini.


 

Ayat 39: 

ذٰلِكَ اليَومُ الحَقُّ ۖ فَمَن شاءَ اتَّخَذَ إِلىٰ رَبِّهِ مَآبًا

Sahih International

That is the True Day; so he who wills may take to his Lord a [way of] return.

Malay

Itulah keterangan-keterangan mengenai hari (kiamat) yang sungguh tetap berlakunya; maka sesiapa yang mahukan kebaikan dirinya, hendaklah dia mengambil jalan dan cara kembali kepada Tuhannya (dengan iman dan amal yang soleh)!

 

ذٰلِكَ اليَومُ الحَقُّ

Itulah keterangan-keterangan mengenai hari (kiamat) yang sungguh tetap berlakunya; 

Allah ﷻ telah memberi peringatan kepada kita berkenaan Hari Kiamat itu dalam ayat-ayat sebelum ini. Maka kenalah ambil perhatian. Jangan berlengah lagi dengan duduk dalam kejahilan dan kealpaan. Peringatan yang diberikan itu adalah untuk kebaikan kita, supaya kita dapat bersiap-siap. Jangan nanti dikatakan kita tidak diberi peringatan pula.

Ianya adalah haq, maksudnya ia pasti akan berlaku. Ianya adalah Hari Kebenaran di mana kebenaran akan ditegakkan. Setiap manusia akan dibalas dengan apa yang patut mereka terima, tidak ada yang akan dizalimi. Keadilan pasti akan ditegakkan.

 

فَمَن شاءَ اتَّخَذَ إِلىٰ رَبِّهِ مَآبًا

maka sesiapa yang mahukan kebaikan dirinya, hendaklah dia mengambil jalan dan cara kembali kepada Tuhannya

Sesiapa yang hendak mendapat kebaikan pada hari itu, kebaikan semasa di akhirat nanti, maka carilah cara untuk bersedia kepadanya. Kenalah beramal semasa di dunia lagi. Kena buat persiapan.

Jangan menyesal nanti, kerana pada hari itu kerana sudah tidak boleh berbuat apa-apa lagi. Tidak ada sesiapa yang akan tolong dan tidak boleh pulang ke dunia untuk ubah amalan kita. Kena buat persediaan dari awal lagi semasa di dunia. Jangan leka dan berlengah lagi buat perkara-perkara yang lagha.


 

Ayat 40:

إِنّا أَنذَرناكُم عَذابًا قَريبًا يَومَ يَنظُرُ المَرءُ ما قَدَّمَت يَداهُ وَيَقولُ الكافِرُ يا لَيتَني كُنتُ تُرابًا

Sahih International

Indeed, We have warned you of a near punishment on the Day when a man will observe what his hands have put forth and the disbeliever will say, “Oh, I wish that I were dust!”

Malay

Sesungguhnya (dengan keterangan-keterangan yang tersebut), Kami memberi amaran kepada kamu mengenai azab yang dekat (masa datangnya), – iaitu hari seseorang melihat apa yang telah diusahakannya; dan orang yang kafir akan berkata (pada hari itu): “Alangkah baiknya kalau aku menjadi tanah (supaya aku tidak dibangkitkan untuk dihitung amalku dan menerima balasan)”.

 

إِنّا أَنذَرناكُم عَذابًا قَريبًا

Sesungguhnya, Kami memberi amaran kepada kamu mengenai azab yang dekat

Allah ﷻ menekankan bahawa bukan Nabi Muhammad ﷺ yang memberi peringatan ini, tetapi Allah ﷻ sendiri. Nabi Muhammad ﷺ hanya sampaikan sahaja. Orang Kafir Mekah marah kepada Nabi Muhammad ﷺ kerana mereka sangka, Nabi ﷺ yang sibuk reka perkara yang tidak ada. Maka Allah ﷻ tegaskan yang ini bukan peringatan dari manusia tetapi dari Dia ﷻ.

Allah ﷻ juga mengingatkan yang Hari Kiamat itu dekat sahaja. Orang kafir sahaja yang rasa ianya jauh. Lihat surah Maarij:6-7. Kita pun mungkin rasa macam jauh sahaja Kiamat itu, tetapi nanti tiba-tiba kita sudah di Mahsyar.

 

يَومَ يَنظُرُ المَرءُ ما قَدَّمَت يَداهُ

iaitu hari seseorang melihat apa yang telah dihantar ke depan; 

Maksud yang ‘dihantar ke depan’ itu adalah amalan – sama ada baik atau buruk. Segala perbuatan kita akan diarkibkan dalam Kitab Amalan kita dan kita akan dapat melihatnya nanti. Semua amalan kita direkod dan dihantar dahulu ke depan. Ia menunggu untuk dipersembahkan kepada kita.

Baik atau buruk kita boleh lihat sendiri apa yang telah dilakukan. Kita akan baca sendiri buku amalan kita itu. Ianya akan dibentangkan di hadapan kita dan kita akan baca sendiri. Bayangkan kalau kita terpaksa baca dan sebut amalan kita yang buruk? Mana hendak letak muka kita waktu itu?

 

وَيَقولُ الكافِرُ يا لَيتَني كُنتُ تُرابًا

dan orang yang kafir akan berkata: “Alangkah baiknya kalau aku menjadi tanah

Ini adalah kata-kata penyesalan orang kafir apabila mereka melihat amal mereka yang buruk itu, mereka akan berkata: “alangkah baiknya kalau aku jadi tanah sahaja, tidak jadi manusia…..!”

Pada masa itu, putus haraplah semua orang kafir. Mereka mengharap mereka dahulunya adalah tanah, jadi habuk sahaja. Walaupun pada adat mereka, habuk itu adalah suatu yang hina. Dan bukankah mereka jenis kaum yang rasa tinggi diri dahulu semasa di dunia? Akan tetapi apabila mereka melihat apa yang berlaku di akhirat itu, mereka berharap sungguh biarlah mereka dahulu menjadi tanah sahaja.

Sebelum manusia ditunjukkan amal perbuatan mereka, binatang-binatang akan dinilai dan dihakimi lebih dahulu. Dan selepas semua binatang telah mendapat keadilan, kemudian binatang itu akan dijadikan tanah, habis begitu sahaja. Kerana binatang tidak masuk syurga dan tidak masuk neraka.

Oleh itu, orang-orang kafir melihat dan berharap, alangkah baiknya jika mereka dahulu tidak diwujudkan, menjadi tanah sahaja seperti binatang itu juga. Kerana tidaklah mereka dimasukkan ke dalam neraka.

Ayat ini sebut tentang orang kafir (yang engkar). Kalau kita pun berperangai macam orang kafir juga, bagaimana? Tentulah akan dilayan seperti mereka juga. Tentulah kita pun akan berkata seperti dalam ayat ini juga.

Allahu a’lam. Tamat tafsir an-Naba’ ini. Sambung ke surah yang seterusnya, Surah an-Naaziat.

Kemaskini: 24 September 2019


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir