Dalil larangan bidaah

AKIBAT BURUK BID’AH

📮 INTISARI :
20 Kesan Buruk Dan Akibat Yang Merugikan Bagi Pelaku Bid’ah

(1). Amalannya tidak akan diterima Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara baru dalam urusan (agama) kami ini apa-apa yang tidak ada darinya (keterangan), maka amalan itu tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718 (17), hadits dari ‘Aisyah).

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas perintah kami, maka ia tertolak” (HR.Muslim no.1718 (18), Abu Dawud no.4606 dan Ahmad VI/73, hadits dari ‘Aisyah).

Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya ?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al-Kahfi [18] : 103-104).


(2). Pelaku bid’ah dianggap telah mematikan Sunnah.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Tidaklah datang (suatu masa) kepada manusia, melainkan mereka akan membuat bid’ah di dalamnya dan akan mematikan Sunnah, sehingga maraklah perbuatan bid’ah dan matilah Sunnah” (Al-I’tisham I/87 oleh Imam asy-Syathibi).


(3). Pelaku bid’ah dianggap pemecah-belah umat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما من نبيٍّ بَعثَهُ اللهُ في أُمَّةٍ قبْلِي ، إلَّا كان لهُ من أُمَّتِه حوَارِيُّونَ ، وأصحابٌ يأخُذونَ بِسنَّتِه ، ويَتقيَّدُونَ بأمْرِهِ ، ثمَّ إنَّها تَخُلُفُ من بعدِهِمْ خُلُوفٌ ، يقولُونَ ما لا يَفعلُونَ ، ويفعلُونَ ما لا يُؤْمَرُونَ ، فمَنْ جاهدَهمْ بيدِهِ فهوَ مُؤمِنٌ ، ومَنْ جاهدَهمْ بِلسانِه فهوَ مُؤمِنٌ ، ومَنْ جاهدَهمْ بقلْبِهِ فهوَ مُؤمنٌ ، ليس وراءَ ذلكَ من الإيمانِ حبَّةُ خرْدَلٍ

“Tidak seorang Nabi pun yang diutus Allah pada umat sebelumku kecuali ia mempunyai sahabat-sahabat dan penolong-penolong yang setia. Mereka mengikuti sunnah-sunnahnya dan mengerjakan apa yang diperintahkannya. Kemudian datang setelah mereka kaum yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan dan “Mengerjakan Apa Yang Tidak Diperintahkan”. Maka barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya maka dia adalah mukmin dan barang siapa berjihad dengan lisannya dia adalah mukmin dan siapa yang berjihad dengan hatinya maka dia mukmin. Setelah itu tidak ada lagi iman walaupun sebesar biji sawi” (HR. Muslim no. 50, hadits dari Ibnu Mas’ud, Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.5790).

إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوا فِي دِينِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً يَعْنِي الْأَهْوَاءَ كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِهِ
“Sesungguhnya ahli kitab telah berpecah menjadi 72 firqah; dan sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi 73 millah, mereka semua berada di Neraka kecuali satu, yaitu al-Jama’ah. Nanti akan muncul pada umatku sekelompok orang yang kerasukan bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana anjing kerasukan rabies, tak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah kerasukan. Wahai sekalian bangsa Arab, demi Allah… kalau kalian saja tidak mau melaksanakan ajaran Nabimu, maka orang lain akan lebih tidak mau lagi” (HR. Abu Dawud no 4597 dan Ahmad IV/102 no. 17061, hadits dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, lihat ash-Shahiihah no. 204)


(4). Pelaku bid’ah yang tidak bertaubat, maka ia akan membuat-buat bid’ah yang lebih buruk lagi. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Tidaklah seseorang selalu mengikuti pendapat akalnya dalam hal-hal bid’ah kemudian meninggalkannya, kecuali kepada hal-hal yang lebih buruk darinya” (Al-I’tisham I/92).


(5). Pelakunya dianggap telah terjatuh ke dalam kesesatan, karena semua bid’ah adalah sesat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim no. 867, hadits dari Jabir bin Abdillah).

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“Jauhilah segala perkara baru (di dalam agama) karena sesungguhnya setiap perkara baru di dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” [HR Abu Dawud no.4607, at-Tirmidzi no.2678, Ibnu Majah no.43, Ahmad IV/126, Ibnu Hibban no.102, al-Hakim I/95-97 dll, lihat Irwaa-ul Ghaliil VIII/107 no.2455, hadits dari ‘Irbadh bin Saariyah].


(6). Pelaku bid’ah adalah orang yang dilaknat menurut syari’at.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru (bid’ah) atau mendukung pelaku bid’ah di dalam (kota Madinah), maka dia akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya baik amalan yang fardhu maupun yang sunnah pada hari kiamat” (HR. Bukhari no 1870 dan Muslim no.1370, hadits dari ‘Ali bin Abi Thalib).


(7). Pelaku bid’ah tidak mendapatkan penjagaan dari Allah Ta’ala.

Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata :

“Barangsiapa mendengarkan ahlul bid’ah dengan pendengarannya, padahal dia mengetahui, maka ia keluar dari penjagaan Allah dan (urusannya) diserahkan kepada dirinya sendiri”

Setelah membawakan perkataan Sufyan ats-Tsauri di atas, al-Hafidz adz-Dzahabi berkata:

“Kebanyakan para imam Salaf berpendapat dengan tahdzir ini, mereka melihat bahwa hati itu lemah dan syubhat-syubhat itu menyambar-nyambar” [lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ VII/261].

Ancaman ini bagi yang mendengarkan, lalu bagaimana bagi pelaku kebid’ahan itu sendiri?


(8). Semakin menjauhkan pelakunya dari Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ …

“Akan muncul diantara kalian suatu kaum yang kalian akan meremehkan salat kalian (para sahabat), puasa kalian dan amal  kalian di samping salat mereka, puasa mereka, dan amal mereka. Mereka rajin membaca al-Qur’an akan tetapi (pengaruhnya) tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang keluar menembus sasarannya” (HR. Bukhari no 5058 dan Muslim no 1064, hadits dari Abu Sa’id al-Khudri).

Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah (salah seorang tokoh tabi’in) berkata :

مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً
“Tidaklah bertambah semangat pelaku bid’ah dalam beribadah, melainkan menjadikan mereka semakin jauh dari Allah” (Hilyatul Auliya’ 1/392).


(9). Pelaku bid’ah dianggap telah mendustakan Allah, yaitu dengan menyakini bahwa Islam itu belum sempurna, padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah menyempurnakannya.

Allah Ta’ala berfirman :

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada Syurga dan menjauhkan dari Neraka, melainkan sudah dijelaskan semuanya kepada kalian” (HR.ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir no.1647 dan Ahmad V/153, 162, hadits dari Abu Dzar, lihat ash-Shahiihah no.1803)


(10). Pelaku bid’ah ikut menanggung dosa orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.

Allah Ta’ala berfirman :

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
“Agar mereka memikul dosa-dosa mereka seluruhnya pada hari kiamat dan sebahagian dari dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang
mereka pikul itu” (QS. An-Nahl [16]: 25).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“…Dan barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah lalu mengamalkannya, maka ia akan mendapatkan dosa dari orang yang ikut melakukannya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR. At-Tirmidzi no.2677 dan Ibnu Majah no.209).


(11). Pelaku bid’ah sangat sulit untuk bertaubat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ
“Sesungguhnya Allah akan menghalangi setiap pelaku bid’ah untuk bertaubat sampai dia meninggalkan bid’ahnya” (HR. At-Tirmidzi, ath-Thabrani dan al-Baihaqi, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahihut Targhiib wat Tarhiib no. 54 dan ash-Shahiihah IV/154 no.1620)

Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata :

البدعة أحب إلى إبليس من المعصية ، المعصية يتاب منها، والبدعة لا يتاب منها
“Bid’ah lebih disukai oleh iblis daripada (pelaku) maksiat, sebab (pelaku) maksiat masih bisa diharapkan taubatnya, sedangkan (pelaku) bid’ah tidak dapat diharapkan pelakunya mau bertaubat darinya” (Ilmu Ushulil Bida’ hal 218).


(12). Pelaku bid’ah tidak akan minum dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا
“Aku akan mendahului mereka (umatku) menuju telaga. Sungguh, akan ada beberapa orang yang dihalau dari telagaku sebagaimana dihalaunya unta yang sesat. Aku memanggil mereka: “Hai datanglah kemari…!” Namun dikatakan kepadaku: “Mereka telah merubah-rubah (ajaranmu) sepeninggalmu”. Maka aku berkata : “(kalau begitu) menjauhlah sana… menjauhlah sana” (HR. Muslim no 249, Ibnu Majah no 4306, dan Ahmad II/300, 408 hadits no. 7980, 8865 dan 9281).

Dalam riwayat yang lain dikatakan :
Aku lantas berkata : “Wahai Rabbku, ini adalah umatku”. Lalu Allah berfirman : “Engkau tidak mengetahui (bid’ah) apa yang mereka ada-adakan setelahmu” (HR. Bukhari no. 7049)


(13). Pelaku bid’ah secara tidak langsung menuduh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tidak amanah dan menganggapnya tidak menyampaikan seluruh ajaran agama Islam kepada umat.

Imam Malik rahimahullah berkata :
من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا – صلى الله عليه وسلم- خان الرسالة ، لأن الله يقول :{اليوم أكملت لكم دينكم}، فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا
“Barangsiapa yang melakukan bid’ah di dalam Islam yang dianggapnya baik (hasanah), maka sungguh dia telah menganggap (Nabi) Muhammad telah mengkhianati risalah (kenabian), karena Allah Ta’ala berfirman : “Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian untuk kalian” [QS Al-Maidah: 3]. Maka perkara apa saja yang pada masa itu (saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup) tidak dianggap (sebagai bagian dari) agama, maka pada hari ini pun tidak dianggap sebagai (bagian dari) agama” [Al-I’tisham oleh asy-Syathibi 1/49].


(14). Pelaku bid’ah dikhawatirkan terjerumus ke dalam kekafiran.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku” (HR.Bukhari no.5063 dan Muslim no.1401, hadits dari Anas).

“Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang mengamalkan sunnah selain sunnah kami” (HR. At-Tirmidzi no.2695, ad-Dailami dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir, hadits dari Ibnu Abbas, Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 5439 dan ash-Shahiihah no.2194)


(15). Pelaku bid’ah dikhawatirkan akan mati dalam keadaan suu’ul khatimah.

Seorang pelaku bid’ah bererti orang yang sedang bermaksiat kepada Allah dan siapa pun yang bersikukuh dengan maksiatnya perlu dicemaskan kalau-kalau ia mati dalam keadaan itu.


(16). Pelaku bid’ah akan mendapatkan kebinasaan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan dalam perkara agama, karena sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian oleh sikap berlebih-lebihan mereka dalam perkara agama” (HR.Ahmad I/215 dan 347, an-Nasaa’i V/268, Ibnu Majah no.3029 dan al-Hakim I/466, hadits dari Ibnu Abbas, lihat Shahiihul Jaami no.2680).

“Sesungguhnya setiap amal mempunyai kesemangatan dan setiap kesemangatan mempunyai masa jenuh, maka barangsiapa masa jenuhnya menuju kepada Sunnahku maka ia benar-benar telah mendapat petunjuk dan barangsiapa masa jenuhnya kepada yang selain itu (yaitu bid’ah), maka ia benar-benar binasa” (HR.Al-Baihaqi, hadits dari Ibnu Umar, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 2152)

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan kalian di atas agama yang terang, siangnya sepertinya malamnya. Tiada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa” (HR.Ibnu Abi Ashim dalam Kitab as-Sunnah, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.59).


(17). Pelaku bid’ah adalah orang yang dibenci Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Orang yang paling dibenci Allah ‘Azza wa Jalla adalah orang yang mencari sunnah jahiliyah dalam Islam…” (HR.Ath-Thabrani, lihat Tafsir Ibnu Katsir III/164, tahqiq oleh Syaikh Muqbil al-Wadi’i).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata :
إن أبغض الأمور إلى الله البدع
“Sesungguhnya perkara yang paling dibenci Allah adalah bid’ah” (Al-Baihaqi dalam as-Sunan IV/316).

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya Allah memiliki Malaikat yang bertugas mencari majlis-majlis dzikir, maka lihatlah bersama siapakah majlismu itu, janganlah bersama ahlul bid’ah, karena Allah Ta’ala tidak melihat kepada mereka. Dan salah satu tanda nifaq adalah seseorang bangun dan duduk bersama ahlul bid’ah. Aku mendapati sebaik-baik manusia (yakni tabi’in), mereka semuanya adalah Ahlus Sunnah dan mereka melarang (yakni memperingatkan umat) dari ahlul bid’ah” [lihat Hilyatul Auliyaa’ VIII/104 dan I’tiqaad Ahlis Sunnah 1/138).


(18). Pelaku bid’ah dianggap seperti dajjal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
سيَكونُ في أمَّتي دجَّالونَ كذَّابونَ ، يحدِّثونَكُم ببدَعٍ منَ الحَديثِ ، بما لم تَسمَعوا أنتُمْ ولا آباؤُكُم ، فإيَّاكم وإيَّاهُم لا يفتِنونَكُم
“Akan ada para dajjal pendusta diantara umatku yang membuat bid’ah dari hadits yang tidak pernah didengar oleh kalian mahupun bapa-bapa kalian. Maka berhati-hatilah terhadap mereka dan janganlah kalian disesatkan dan terfitnah oleh mereka” (HR.Muslim no.7 dan Ahmad 16/245 no.8580, hadits dari Abu Hurairah).


(19). Wajah pelaku bid’ah akan menghitam di hari kiamat.

Allah Ta’ala berfirman :
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula yang hitam muram…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 106)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini dengan mengatakan :
يَعْنِي: يَوْمَ الْقِيَامَةَ، حِيْنَ تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوْهُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالُفُرُقَةِ
“Yaitu hari kiamat… ketika wajah ahlussunnah wal jama’ah putih berseri, sedangkan wajah ahlul bid’ah wal furqah hitam legam” (Tafsir Ibnu Katsir II/92)


(20). Pelaku bid’ah diancam dengan neraka.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin (yaitu para sahabat), niscaya akan Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan akan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An-Nisaa’ [4]: 115)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka” (HR. An-Nasaa’i no. 1578)

Al-Imam Al-Barbahaari rahimahullah berkata :
“Hati-hatilah dari bid’ah-bid’ah yang kecil, karena bid’ah yang kecil itu akan terus meningkat hingga menjadi bid’ah yang besar. Demikianlah setiap kebid’ahan yang diada-adakan oleh umat ini awalnya dianggap ‘sepele’ menyerupai Al-Haq (kebenaran), sehingga tertipulah orang yang terjatuh di dalamnya, kemudian ia tidak mampu untuk keluar darinya. Lalu membesarlah kebid’ahan tersebut dan menjadi agamanya. Akhirnya ia pun menyimpang dari “Ash-Shiraatul Mustaqiim” (jalan yang lurus) dan keluar dari keislamannya…” (lihat Ithaaful Qaari bit Ta’liqaat ‘ala Syarhissunnah lil Imam Al-Barbahaari 1/81).

Wallahul Muwaffiq (NUB)

#⃣ Chanel Telegram

@tanyajawabislam

Tafsir Surah Tawbah Ayat 79 – 81 (Sudah habis peluang munafik)

DERMA YANG DIHINA

Tawbah Ayat 79: Ayat Zajrun (teguran). Disebut sifat orang munafik lagi. Sekarang disentuh tentang perangai mereka yang suka mengutuk, menghina dan merendahkan orang lain.

‎الَّذينَ يَلمِزونَ المُطَّوِّعينَ مِنَ المُؤمِنينَ فِي الصَّدَقٰتِ وَالَّذينَ لا يَجِدونَ إِلّا جُهدَهُم فَيَسخَرونَ مِنهُم ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنهُم وَلَهُم عَذابٌ أَليمٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Those who criticize the contributors among the believers concerning [their] charities and [criticize] the ones who find nothing [to spend] except their effort, so they ridicule them – Allāh will ridicule them, and they will have a painful punishment.

(MALAY)

(Orang-orang munafik itu) ialah orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar usaha mereka sahaja, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.

 

الَّذينَ يَلمِزونَ المُطَّوِّعينَ مِنَ المُؤمِنينَ فِي الصَّدَقٰتِ

orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah

Teruk sekali perangai orang-orang munafik itu, mereka telah mencela para sahabat yang mengeluarkan sedekah atau zakat. Mereka suka mencela golongan sahabat yang memberi infak secara sukarela dalam sedekah atau zakat. Jika diperhatikan kalimah يَلمِزونَ itu di dalam fi’il mudhari’ yang bermaksud mereka selalu melakukannya dan terus berlaku sampai sekarang.

Kalimah المُطَّوِّعينَ bermaksud mereka yang buat lebih daripada yang sepatutnya – mereka yang bersedekah dengan cara sukarela. Buat perkara yang lebih daripada yang wajib (extra). Daripada kata yang sama, dikeluarkan lafaz tatawwu’. Oleh itu, solat sunat yang bukan solat fardhu dipanggil Solat Tatawwu’.

Orang munafik akan mengutuk orang yang bersedekah itu tidak ikhlas, hanya hendak menunjuk-nunjuk sahaja. Pandai-pandai sahaja mereka berkata begitu, macamlah mereka tahu apa yang dalam hati manusia. Dalam ayat sebelum ini, Allah ﷻ beritahu, hanya Dia sahaja yang tahu rahsia hati manusia. Maka sekarang Allah ﷻ kutuk mereka yang sengaja mahu mengutuk orang yang sudah mengeluarkan infak, kononnya mereka tahu isi hati manusia dalam infak itu ikhlas atau tidak.

Janganlah begitu, kita bukannya tahu orang lain ikhlas atau tidak. Kalau mereka ikhlas, maka Allah ﷻ akan beri pahala; kalau mereka tidak ikhlas, maka mereka tidak dapat pahala. Tidak perlu kita menghakim, menentukan orang lain ikhlas atau tida. Tidak ada kena mengena dengan kita pun. TIdak perlu sibuk memikirkan apa yang di dalam hati dan perasaan manusia. Sebenarnya jikalau kita kata mereka tidak ikhlas semasa infak, kemungkinan besar kita sedang mengata diri sendiri. Sebab kita sedang bayangkan kalau kita yang infak. Kita tahu kalau kita infak tidak ikhlas, maka orang itu pun tentu tidak ikhlas. Maka perbuatan menuduh orang tidak ikhlas ini memalukan diri kita sendiri sahaja.

 

وَالَّذينَ لا يَجِدونَ إِلّا جُهدَهُم فَيَسخَرونَ مِنهُم

orang-orang yang tidak apa-apa selain sekadar usaha mereka sahaja, maka orang-orang munafik itu menghina mereka.

Sebelum ini telah disebut yang kalau orang mukmin infak, mereka kutuk; sekarang disebut mereka mencela golongan mukmin yang tidak ada apa-apa untuk diberi dari segi harta. Namun begitu walaupun orang mukmin itu tidak ada apa-apa sangat, mereka beri juga sekadar yang mampu. Kalimah جُهدَهُم bermaksud kesungguhan dan kemampuan mereka. Itu pun puak munafik kutuk sebab mereka kata beri sedikit sangat, baik tidak payah bagi.

Ada yang langsung tidak ada apa-apa untuk diberi, maka mereka sumbangkan usaha mereka. Mereka hulurkan bantuan melalui tulang empat kerat atau sumbangan idea dan pandangan mereka. Ini mengajar kita yang kalau tidak boleh hulur wang, maka boleh hulur bantuan dalam jihad atau dakwah. Namun itu pun tetap dipersenda juga dengan golongan Munafik itu.

Pada pandangan mata lalat munafik itu ada sahaja yang tidak kena: mukmin yang kaya dan dapat banyak bersedekah, mereka kata tidak ikhlas; mukmin yang miskin mereka kutuk juga kerana beri sedikit. Jika ada yang bantu dengan usaha sahaja, mereka hina juga.

Sikap munafik sebegini tidak jauh beza dengan orang kitalah juga, ada sahaja perkara yang mahu dikutuk tentang orang lain. Patutnya diam sahajalah, biarkan sahaja apa yang orang lain hendak beri. Sepatutnya yang tidak berbuat apa-apa itu, sebaiknya diamlah sahaja daripada berkata apa-apa yang hanya boleh mengundang dosa sahaja.

Asbabun Nuzul ayat ini adalah seperti yang diriwayatkan di dalam Sahih Bukhari,

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ آيَةُ الصَّدَقَةِ كُنَّا نُحَامِلُ فَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ كَثِيرٍ فَقَالُوا مُرَائِي وَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ فَقَالُوا إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنْ صَاعِ هَذَا فَنَزَلَتْ { الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ } الْآيَةَ
Daripada [Abu Mas’ud رضي الله عنه] dia berkata; “Ketika ayat sadaqah turun, kami berlumba-lumba, lalu datanglah seseorang dengan membawa sadaqah yang banyak dan orang-orang berkata, dia orang yang hendak menunjuk. Kemudian datanglah seseorang lalu dia bersadaqah dengan satu sha’. Orang-orang berkata; “Sesungguhnya Allah lebih kaya daripada satu sha’ ini”. Maka turunlah ayat At-Taubah ayat: “Alladziina yalmizuunal muththawwi’iina minal mu’miniina fishshadaqati walladziina laa yajiduuna illa juhdahum”. (“Orang-orang (munafik itu) yang mencela orang-orang beriman yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya”).
(Sahih Bukhari (1326))

Namun golongan Mukmin akan beri apa sahaja yang mereka boleh beri. Begitulah para sahabat berlumba-lumba bersedekah kerana hendak mengejar gandaan pahala yang Allah ﷻ janjikan seperti disebut dalam Baqarah:261

مَثَلُ الَّذينَ يُنفِقونَ أَموٰلَهُم في سَبيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَت سَبعَ سَنابِلَ في كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضٰعِفُ لِمَن يَشاءُ ۗ وَاللَّهُ وٰسِعٌ عَليمٌ
Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurnia-Nya, lagi Meliputi ilmu pengetahuan-Nya.


Namun berapa jumlah sedekah itu tidaklah ditetapkan. Maka kita infaq sahaja apa yang kita mampu. Ini banyak disebut di dalam beberapa hadith. Antaranya, seperti sabda Rasulullah ﷺ:

فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Jagalah diri kalian dari neraka meskipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya, maka ucapkanlah perkataan yang baik.”
(Bukhari No. 1413, 3595 dan Muslim No. 1016)


Rasulullah ﷺ juga bersabda,

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ وَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهَا كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فُلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ
“Barangsiapa yang bersedekah dengan sebutir kurma hasil daripada usahanya sendiri yang baik, sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya untuk pemiliknya sebagaimana seseorang merawat anak kudanya hingga ia menjadi seperti gunung yang besar.”
(Bukhari No. 1410 dan Muslim No. 1014)


Orang Mukmin akan sentiasa mencari peluang untuk bersedekah kerana ia adalah bukti keimanan. Ini seperti disebut dalam hadith,

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا
Daripada [Abu Malik al-Asy’ari رضي الله عنه] dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda: “Bersuci adalah setengah daripada iman, alhamdulillah memenuhi timbangan, subhanallah dan alhamdulillah keduanya memenuhi, atau salah satunya memenuhi apa yang ada antara langit dan bumi, solat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, kesabaran adalah sinar, dan Al-Qur’an adalah hujjah untuk amal kebaikanmu dan hujjah atas amal kejelekanmu. Setiap manusia berusaha, maka ada orang yang menjual dirinya sehingga membebaskannya atau menghancurkannya.”
(Sahih Muslim (328))

 

سَخِرَ اللَّهُ مِنهُم وَلَهُم عَذابٌ أَليمٌ

Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.

Allah ﷻ beritahu yang golongan yang suka mencela itu, Allah ﷻ akan balas celaan mereka itu. Maksud literal kalimat ini adalah Allah ﷻ menghina mereka. Maksudnya Allah ﷻ akan beri balasan kepada mereka kerana penghinaan mereka. Mereka akan mendapat azab pedih daripada kata-kata mereka itu. Waktu itu, kita lihat siapakah yang digelakkan nanti.


 

Tawbah Ayat 80: Golongan Munafik itu telah dijanjikan azab. Akan tetapi kalaulah Rasulullah ﷺ mendoakan keampunan untuk mereka, adakah ia akan diterima?

استَغفِر لَهُم أَو لا تَستَغفِر لَهُم إِن تَستَغفِر لَهُم سَبعينَ مَرَّةً فَلَن يَغفِرَ اللَّهُ لَهُم ۚ ذٰلِكَ بِأَنَّهُم كَفَروا بِاللَّهِ وَرَسولِهِ ۗ وَاللَّهُ لا يَهدِي القَومَ الفٰسِقينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Ask forgiveness for them, [O Muḥammad], or do not ask forgiveness for them. If you should ask forgiveness for them seventy times – never will Allāh forgive them. That is because they disbelieved in Allāh and His Messenger, and Allāh does not guide the defiantly disobedient people.

(MALAY)

Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Walaupun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

 

استَغفِر لَهُم أَو لا تَستَغفِر لَهُم

Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka

Ayat ini khitab (ditujukan) kepada Nabi Muhammad ﷺ. Kalimah استَغفِر asalnya dalam bentuk fi’il amr (kata suruhan) (hendaklah engkau memohon ampun buat mereka) tetapi ia adalah berbentuk khabar. Baginda seorang yang berhati halus dan mahukan kebaikan untuk umat baginda. Oleh kerana sayang, baginda ada memohon ampun bagi pihak puak Munafik itu.

Namun Allah ﷻ beritahu dalam ayat ini yang istighfar baginda itu tidak ada gunanya. Ada jumlah muqaddar dalam ayat ini: kalau mereka itu telah ditakdirkan kafir, kamu istighfar atau tidak untuk mereka, Allah ﷻ tidak akan maafkan.

 

إِن تَستَغفِر لَهُم سَبعينَ مَرَّةً

Walaupun kamu memohonkan ampun bagi mereka sampai tujuh puluh kali, 

Allah ﷻ kata, jika baginda meminta ampun untuk mereka sebanyak 70 kali sehari pun, ia tidak bermanfaat bagi mereka. Akan tetapi kenapa dikhususkan bilangan 70 pula? Sebenarnya di dalam bahasa Arab, mereka menggunakan bilangan 7 sebagai tanda banyak.

Oleh itu menurut satu pendapat, kalimat ‘tujuh puluh kali’ dalam ayat ini hanya disebutkan sebagai batas maksima daripada bilangan istighfar buat mereka, kerana sesungguhnya dalam percakapan orang-orang Arab, bilangan tujuh puluh disebutkan untuk menunjukkan pengertian mubalaghah dan bukan sebagai batasan, tidak pula bilangan yang lebih daripada tujuh puluh memberikan pengertian yang sebaliknya.

Maka bukanlah ia bermakna 70 secara literal, tetapi ia bermaksud banyak kerana bagaimanakah pula kalau Rasulullah ﷺ istighfar bagi pihak mereka sebanyak 71 kali, adakah diterima? Tidak juga.

 

فَلَن يَغفِرَ اللَّهُ لَهُم

namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka.

Allah ﷻ sekali-kali tidak akan mengampuni mereka kerana dalam takdir Allah ﷻ, mereka itu Munafik (dan kafir) dan mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.

Menurut pendapat lainnya lagi, sebenarnya bilangan tujuh puluh ini mempunyai pengertian sesuai dengan bilangannya (memang dimaksudkan 70 secara literal). Seperti apa yang disebutkan di dalam riwayat Al-Aufi, daripada Ibnu Abbas رضي الله عنهما, bahawa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“أَسْمَعُ رَبِّي قَدْ رَخَّصَ لِي فِيهِمْ، فَوَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَغْفِرَ لَهُمْ! فَقَالَ اللَّهُ مِنْ شِدَّةِ غَضَبِهِ عَلَيْهِمْ: {سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ}
Ketika ayat ini diturunkan, aku mendengar Tuhanku memberikan, kemurahan kepadaku sehubungan dengan mereka. Maka demi Allah, aku benar-benar akan memohonkan ampun bagi mereka lebih daripada tujuh puluh kali. Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan-Nya bagi mereka. Maka Allah berfirman kerana kemurkaan-Nya yang sangat terhadap mereka: Kamu mohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). (At-Taubah: 80), hingga akhir ayat.
Menurut pentahqiq Tafsir Ibnu Katsir sanad ini ada syawahid daripada Ibnu Umar

 

Di dalam riwayat yang lain,

عن قَتادةَ قال : لما نزلتْ { اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ} قال النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : لأزيدنَّ على السبعينَ ، فأنزل اللهُ تعالى { سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ }
Daripada Qatadah beliau berkata: Apabila diturunkan ayat { اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ} Nabi ﷺ telah berkata: “Aku akan tambah lebih lagi daripada 70 kali”, maka Allah turunkan ayat { سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ }.
Diriwayatkan oleh Ibn Hajar Asqalani di dalam Fathul Bari.
Status: para perawinya tsiqah

Oleh itu kalau dilihat daripada hadith ini, seolah-olah Rasulullah ﷺ berpegang yang memang 70 itu 70 lah juga. Sebab itu baginda hendak meminta ampun bagi pihak mereka lebih lagi daripada 70 kali supaya moga-moga Allah ﷻ terima.

Mungkin timbul persoalan, kenapa baginda beriya-iya pula untuk meminta ampun bagi pihak mereka? Bukankah mereka itu telah lama menyusahkan baginda? Maka untuk menjawabnya maka kita kena kenal sifat baginda yang amat prihatin kepada umat baginda. Dengan musuh pun baginda berharap mereka selamat. Sedangkan golongan Munafik ini sentiasa mencari peluang untuk menjatuhkan baginda. Sebagai contoh mereka tuduh isteri baginda (A’isyah رضي الله عنها) telah berzina untuk menjatuhkan kedudukan baginda. Akan tetapi baginda tetap juga mendoakan kebaikan untuk mereka. Maka jangan bandingkan dengan diri kita yang kalau boleh hendak sangat musuh kita masuk neraka! Hati seperti kita ini pastinya selama-lamanya tidak akan dapat faham kenapa baginda memohon keampunan untuk mereka.

Maka ini sebenarnya mengajar kita untuk cuba mendidik hati kita supaya menjadi lembut kepada orang lain. Pandanglah orang lain dengan pandangan rahmah (kasih sayang). Kalau sesama Muslim itu hendaklah kita jaga hubungan dengan mereka. Kalau ada berbeza pendapat pun, jangan jadikan itu sebagai punca untuk bermusuh. Malah kalau dengan musuh pun, jangan kita berlaku zalim kepada mereka. Kalau kita maafkan mereka, itu lebih baik bagi kita. Jangan ada rasa dengki, cemburu, benci dan dendam kepada sesiapa pun termasuklah musuh kita yang paling ketat!

 

ذٰلِكَ بِأَنَّهُم كَفَروا بِاللَّهِ وَرَسولِهِ

Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mereka tidak akan diampunkan adalah kerana mereka kufur ingkar dengan arahan Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ. Macam-macam kesalahan yang mereka telah lakukan. Mereka telah menyakiti hati Nabi ﷺ dan hendak menyusahkan baginda sahaja malah berkali-kali telah menghina baginda. Mereka hendak menjatuhkan Islam lebih dahsyat lagi sehingga ada cubaan untuk membunuh Nabi ﷺ!

 

وَاللَّهُ لا يَهدِي القَومَ الفٰسِقينَ

Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

Apakah maksud ‘fasik’? Imam Abu Ja’far At-Thabari رحمه الله menerangkan:

“Makna kata ‘fasiq’ secara bahasa, dalam dialek masyarakat Arab adalah الخروجُ عن الشيء: keluar daripada sesuatu. Kerana itu, tikus gurun dinamakan fuwaisiqah [Arab: فُوَيْسِقة] kerana dia sering keluar dari tempat persembunyiannya. Demikian pula orang munafik dan orang kafir disebut orang fasik kerana dua jenis manusia ini telah keluar daripada ketaatan kepada Allah ﷻ. Kerana itulah, Allah ﷻ menyifati iblis dengan firman-Nya:

إِلا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
“Kecuali iblis (tidak mahu sujud), dia termasuk golongan jin, dan dia berbuat fasik terhadap perintah Tuhannya.” (Kahfi: 50)

Maksud kalimat “dia berbuat fasik” keluar daripada ketaatan kepada-Nya dan tidak mengikuti perintahnya. (Tafsir At-Thabari)

Fasik itu ada dua jenis:

1. Fasik Akbar (besar), iaitu kufur

2. Fasik Asghar (kecil), iaitu keluar daripada ketaatan tetapi tidaklah sampai melakukan dosa.

Oleh kerana golongan Munafik itu fasik jenis yang kufur, maka mereka tidak diberikan hidayah lagi. Ini adalah kerana hati mereka ditutup oleh Allah ﷻ. Ini dinamakan Khatmul Qalbi iaitu kufur peringkat keempat, di mana mereka tidak ada peluang lagi untuk mendapat hidayah.

Apabila sudah ditetapkan Khatmul Qalbi ke atas mereka, walau apa pun dakwah dan ajaran yang diberikan kepada mereka, mereka tidak akan mampu menerimanya. Hati mereka telah ditutup rapat daripada menerima hidayah lagi. Namun ingatlah yang mereka dikenakan dengan hukuman ini kerana mereka sendiri yang ingkar. Bukanlah Allah ﷻ tentukan dari awal lagi yang mereka itu tidak akan mendapat hidayah.

Akan tetapi bukanlah semua mereka itu tidak mendapat hidayah langsung kerana ada juga golongan yang asalnya munafik tetapi telah berubah menjadi orang yang benar-benar beriman. Ini adalah kerana mereka telah mengubah sikap mereka setelah membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang menegur mereka. Ini bagi mereka yang belum mencapai kufur peringkat ke empat.

Ternyata yang menyebabkan mereka tidak mendapat hidayah adalah kerana perbuatan fasik mereka. Apabila mereka berhenti daripada membuat kefasikan, maka Allah ﷻ boleh sahaja memberi hidayah kepada mereka.

Habis Ruku’ 10 daripada16 ruku’ dalam surah ini.


 

ALASAN PALSU (3) KEPANASAN

Tawbah Ayat 81: Ayat zajrun kepada munafikin yang tidak menyertai jihad.

فَرِحَ المُخَلَّفونَ بِمَقعَدِهِم خِلٰفَ رَسولِ اللَّهِ وَكَرِهوا أَن يُجٰهِدوا بِأَموٰلِهِم وَأَنفُسِهِم في سَبيلِ اللَّهِ وَقالوا لا تَنفِروا فِي الحَرِّ ۗ قُل نارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَّو كانوا يَفقَهونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Those who remained behind rejoiced in their staying [at home] after [the departure of] the Messenger of Allāh and disliked to strive with their wealth and their lives in the cause of Allāh and said, “Do not go forth in the heat.” Say, “The fire of Hell is more intense in heat” – if they would but understand.

(MALAY)

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.

 

فَرِحَ المُخَلَّفونَ بِمَقعَدِهِم خِلٰفَ رَسولِ اللَّهِ

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah,

Berasa gembira sungguh orang munafik yang memang ditinggalkan oleh Allah ﷻ dengan tidak diberikan taufik untuk menyertai jihad. Allah ﷻ sedang menceritakan psikologi mereka, perasaan mereka kerana Rasulullah ﷺ dan orang Mukmin tidak boleh membaca isi hati manusia. Maka ini adalah ciri-ciri orang Munafik yang bodoh dan telah rosak hati mereka.

Kalimah المُخَلَّفونَ adalah dalam bentuk pasif yang bermaksud ‘mereka yang ditinggalkan’. Ini kerana walaupun mereka sendiri tidak mahu pergi berperang, tetapi sebenarnya Allah ﷻlah yang menyebabkan mereka tertinggal kerana Allah ﷻ tidak suka mereka membuat onar dalam kalangan para mukminin lain yang pergi berperang. Kalau mereka pergi, mereka akan timbulkan kekacauan. Baik mereka tidak payah pergi kalau begitu. Sebab itu Allah ﷻ tinggalkan mereka di Madinah.

Boleh juga bermaksud, yang menyebabkan mereka tertinggal di belakang adalah kerana iblis dan syaitan (dalam kalangan jin dan manusia) yang menghasut mereka supaya jangan ikut serta.

Akan tetapi kerana mereka bodoh, mereka gembira kerana dapat duduk di belakang sahaja tidak keluar jihad selepas Nabi ﷺ keluar berjihad dengan para sahabat yang lain. Mereka berasa mereka selamat sebab tidak pergi berjihad. Mereka berasa mereka pandai kerana dapat menyelamatkan diri mereka daripada susah dan dapat mengelakkan kematian dalam perang.

Berat sekali masalah mereka ini sampai boleh gembira pula apabila ditinggalkan, tidak pergi berjihad. Orang Mukmin yang sebenar akan bersedih kalau tidak dapat melakukan ibadah. Contohnya orang yang biasa solat berjemaah akan berasa ralat sangat kalau tidak dapat pergi kerana terhalang. Akan tetapi golongan Munafik ini suka pula apabila mereka membuat dosa dan meninggalkan ketaatan kepada Allah ﷻ dan Rasul.

Bagaimana pula dengan kita? Ramai dalam kalangan orang kita yang membuat dosa kemudian mereka menceritakan semula dosa-dosa mereka itu tanpa segan silu, bukan? Contohnya semalam mereka berikhtilat dengan wanita kemudian ceritakan kepada kawan-kawan mereka dengan rasa bangga. Mereka ini amatlah malang kerana tidak akan diampunkan dosa mereka seperti sabda Rasulullah ﷺ. Gelaran mereka adalah Mujahir.

عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه
Daripada Salim bin Abdullah, dia berkata, aku mendengar Abu Hurairah رضي الله عنه bercerita bahawa beliau pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah ﷻ telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah ﷻ tersebut.”
(Sahih Bukhari (6069) dan Sahih Muslim (2990))


Mereka itu suka pula apabila perbuatan mereka yang خِلٰفَ رَسولِ اللَّهِ yang boleh bermaksud,

    1. Tinggal di belakang Rasulullah ﷺ (tidak ikut serta)
    2. Menyelisihi Rasulullah ﷺ (sesuatu yang Rasulullah ﷺ tidak suka)

Ini berbeza dengan golongan Mukmin yang Allah ﷻ sebut tentang mereka di dalam Hujurat:7

وَلٰكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيكُمُ الإيمٰنَ وَزَيَّنَهُ في قُلوبِكُم وَكَرَّهَ إِلَيكُمُ الكُفرَ وَالفُسوقَ وَالعِصيانَ ۚ أُولٰئِكَ هُمُ الرّٰشِدونَ
tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kederhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

Ternyata berbeza sekali golongan Munafik dan golongan Mukmin. Boleh pula mereka berasa gembira apabila tidak menjalankan apa yang Rasulullah ﷺ suka. Maka ini jugalah sikap orang yang mengamalkan bid’ah kerana sanggup beramal dengan amalan yang bukan daripada Rasulullah ﷺ. Amat bahaya sekali kalau umat Islam mengamalkan amalan yang bid’ah yang tidak ada asalnya daripada baginda kerana ia juga termasuk perkara yang mengingkari Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ sudah melarang membuat amalan bid’ah tetapi ramai yang selamba sahaja melakukannya. Berbangga pula ketika melakukannya, berasa terpaling soleh dan beriman semasa mereka melakukannya!

Allah ﷻ telah memberi ancaman kepada mereka yang berani menyelisihi Rasulullah ﷺ di dalam Nur: 63,

فَليَحذَرِ الَّذينَ يُخالِفونَ عَن أَمرِهِ أَن تُصيبَهُم فِتنَةٌ أَو يُصيبَهُم عَذابٌ أَليمٌ
maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa azab yang pedih.

 

وَكَرِهوا أَن يُجٰهِدوا بِأَموٰلِهِم وَأَنفُسِهِم في سَبيلِ اللَّهِ

dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah

Ini adalah sifat mereka lagi: mereka tidak sekali-kali suka untuk berjuang pada jalan Allah ﷻ dengan harta dan diri mereka kerana mereka takut mati dan kedekut untuk infak. Hati mereka tidak suka susah kerana agama. Oleh itu mereka tidak mahu korbankan diri mereka, dan mereka tidak mahu korbankan harta mereka untuk infak. Pada jalan Allah ﷻ mereka tidak suka, tetapi pada jalan syaitan dan orang kafir mereka suka pula.

Lalu bagaimana dengan kita? Adakah kita selamat kerana tidak ada jihad sekarang? Jangan lagi berasa senang ya…. kerana kita dinilai daripada isi hati kita. Kalau kita sendiri tidak ada niat untuk berjihad, maka kita pun termasuk orang Munafik juga seperti disebut dalam hadith riwayat Abu Hurairah bahawa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ، وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ، مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
Barangsiapa yang mati sedangkan dia tidak pernah berperang, dan tidak pernah berniat dalam hatinya untuk berperang, maka dia mati dalam satu cabang daripada kemunafikan.
(Sahih Muslim No. 158))

Berkata Qadhi Iyyadh: “Hadith ini menerangkan bahawa apabila seseorang dihalang oleh suatu penghalang daripada melaksanakan suatu kefarduan dalam agama atau dihalang daripada bersegera melaksanakan satu rukun daripada rukun-rukun Syarak atau perkara Sunnah yang masyhur, bahawa dia akan diberi ganjaran berdasarkan niatnya selama mana dia dapat melaksanakan perkara tersebut. Adapun keazaman untuk melakukan sesuatu ialah pengganti bagi perlakuan tersebut sekiranya tidak dapat ditentukan waktu perlaksanaannya.” (Rujuk Ikmal al-Mu`lim (6/170)).

Maka adakah anda ada niat untuk berjihad? Sepatutnya kena ada dan kena simpan dalam hati kita: “Aku sokong jihad dan jikalau ada jihad, pasti aku akan menyertainya!” Namun bagaimana mungkin anda ada perasaan ini jikalau anda tidak belajar tentang jihad daripada ilmu tafsir Al-Qur’an sehingga anda memahaminya?

Antara surah yang menyebut tentang jihad adalah Surah Tawbah ini namun malangnya ia bukanlah surah yang selalu diperkatakan orang, bukan? Orang kita hanya tahu Surah Yaasin, Surah Mulk, Surah Dhuha, Surah Sajdah dan lain-lain surah yang digelar ‘Surah Lazim’ oleh mereka. Bilakah pula mereka hendak faham tentang jihad jika hanya surah-surah itu sahaja yang diulang-ulang sampai mati?

 

وَقالوا لا تَنفِروا فِي الحَرِّ

dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat dalam panas terik ini”.

Yang lebih teruk, mereka bukan sahaja sesat sendiri, malah mereka hendak menyesatkan orang lain pula. Sudahlah mereka malas, penakut dan kedekut, mereka hasut pula orang lain supaya jadi seperti mereka! Kerana itu mereka kata kepada Muslim yang lain, tidak perlu kamu keluar pada jalan Allah ﷻ dalam musim panas. Sememangnya pada waktu Perang Tabuk itu, musim panas dan perjalanan pula amat jauh. Mereka sanggup berkata, “Jangan susah-susahkan diri, kan panas tu?”

Mereka tidak mahu orang lain pergi, kerana kalau ramai yang tidak pergi, maka tidaklah nampak sangat yang mereka tidak pergi. Kalau semua pergi dan mereka sahaja tidak pergi, nampak sangat mereka lain daripada orang lain. Oleh itu, mereka akan kempen orang lain pun tidak pergi juga. Busuk sekali hati mereka.

 

قُل نارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَّو كانوا يَفقَهونَ

Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” kalaulah mereka mengetahui.

Allah ﷻ suruh beritahu kepada mereka, api neraka jahannam lebih panas daripada terik di dunia ini. Allah ﷻ suruh beritahu kerana Allah ﷻ tidak mahu bercakap sendiri dengan mereka (kerana terlalu marah dengan mereka). Oleh itu, Allah ﷻ suruh Nabi Muhammad ﷺ yang sampaikan. Kepanasan Neraka kita tidak akan dapat tahu selama kita hidup di dunia ini tetapi Allah ﷻ ada beri isyaratnya seperti Mukminoon:104

تَلفَحُ وُجوهَهُمُ النّارُ وَهُم فيها كٰلِحونَ
Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.

Allah ﷻ berfirman di dalam Kahf:29

إِنّا أَعتَدنا لِلظّٰلِمينَ نارًا أَحاطَ بِهِم سُرادِقُها ۚ وَإِن يَستَغيثوا يُغاثوا بِماءٍ كَالمُهلِ يَشوِي الوُجوهَ ۚ بِئسَ الشَّرابُ وَساءَت مُرتَفَقًا
Kerana Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang berlaku zalim itu api neraka, yang meliputi mereka laksana khemah; dan jika mereka meminta pertolongan kerana dahaga, mereka diberi pertolongan dengan air yang seperti tembaga cair yang membakar muka; amatlah buruknya minuman itu, dan amatlah buruknya neraka sebagai tempat bersenang-senang.

Kalaulah mereka boleh memahami yang agama boleh memadamkan api neraka, tentulah mereka akan keluar berjihad. Tentulah mereka tidak kisah kalau terpaksa bersusah sedikit, kalau kena keluar dalam panas terik musim panas. Semua kesusahan itu adalah teramatlah kurang kalau dibandingkan dengan api neraka yang entah berapa juta darjah panasnya!

قَالَ الْإِمَامُ مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّناد، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “نَارُ بَنِي آدَمَ الَّتِي يُوقِدُونَ بِهَا جزءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا [مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ” فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةٌ. قَالَ إِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا]
Imam Malik رحمه الله telah meriwayatkan daripada Abuz Zanad, daripada Al-A’raj, daripada Abu Hurairah, bahawa Rasulullah ﷺ telah bersabda: “Api manusia yang biasa kalian nyalakan itu merupakan sepertujuh puluh daripada panasnya api neraka Jahannam.” Mereka (para sahabat bertanya), “Wahai Rasulullah ﷺ, sekalipun panas api itu sudah cukup.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Api neraka Jahannam lebih panas enam puluh sembilan kali lipat daripada api di dunia.”
(Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya)

Maka hujah kepada mereka adalah, kalau panas terik di dunia pun kamu tidak mampu hadap, maka adakah kamu sangka kamu boleh tahan azab panasnya api neraka? Fikir-fikirkanlah tentang hal ini.

Hujah ini ternyata hujah yang kuat. Katakanlah ada yang tidak berpuasa kerana beralasan panas dan tidak tahan haus, maka cakap kepadanya: “Panas? Azab Neraka lagi panas, tau!”; atau kalau ada yang tidak memakai tudung tutup aurat dengan beralasan panas dan rimas, maka sama sahaja hujah balas kepada mereka, “Panas? Azab Neraka lagi panas, tau!”. Hujah ini boleh digunapakai dalam banyak perkara. Semoga mereka fikir-fikirkan dan banding-bandingkan.

 

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya

Kemaskini: 10 Julai 2023

Ringkasan Surah Tawbah


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Maariful Qur’an

Ustaz Abdul Muien

 

Tafsir Surah Abasa Ayat 17 – 23 (Asal kejadian manusia)

Ayat 17: Dari ayat ini sehingga 21 adalah Perenggan Makro Ketiga. Ia mengandungi Dalil Aqli Anfusi tentang akhirat.

قُتِلَ الإِنسانُ ما أَكفَرَهُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Destroyed [i.e., cursed] is man;¹ how disbelieving is he.

  • i.e., those who deny Allāh’s message.

(MALAY)

Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?

 

Lafaz قُتِلَ الإِنسانُ bermaksud ‘semoga binasalah manusia!’. Kalimat ini ditujukan kepada manusia yang mendustakan hari berbangkit. Ini adalah teguran yang amat berat dalam Bahasa Arab. Kenapa mereka sampai dimarahi dan dilaknat begitu sekali?

Kerana betapa besar kekufuran mereka. Setelah mereka mendengar peringatan dari Allah ﷻ dan Nabi , masih lagi mereka mahu kufur? Lafaz ما أَكفَرَهُ adalah uslub ta’jub, kerana sangat hairan dengan sikap mereka. Kerana mereka sanggup membinasakan diri mereka sendiri dengan tidak menghiraukan wahyu Allah ﷻ.

Mereka banyak berdusta tanpa sandaran, bahkan hanya menurut ilusinya yang menganggap hari kiamat itu mustahil terjadi, mereka tidak mempunyai pengetahuan sama sekali dalam hal ini. Sudah teruk sangat mereka itu.

Atau, lafaz ما أَكفَرَهُ boleh bermaksud ‘apa yang menyebabkan mereka boleh jadi kufur?’ Kenapa setelah ditunjukkan dengan peringatan yang hebat dari Al-Qur’an itu, mereka masih lagi tidak mahu percaya? Dalam surah sebelum ini telah diceritakan bagaimana Firaun (Naaziat: 20-21) telah ditunjukkan segala mukjizat dan tanda, tetapi dia masih lagi tidak beriman.

فَأَراهُ الآيَةَ الكُبرىٰ

Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.

فَكَذَّبَ وَعَصىٰ

Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai.

 

Walaupun Firaun telah ditunjukkan dengan mukjizat yang besar, Firaun masih lagi tidak mahu beriman. Maka, golongan musyrikin pun jadi macam itu juga. Bayangkan, manusia yang telah ditunjukkan dengan mukjizat yang paling hebat, iaitu Al-Qur’an, tetapi masih lagi tidak mahu percaya.

Maka mereka itu lebih teruk dari Firaun. Musyrikin Mekah paling teruk kerana mereka menolak wahyu itu di depan Nabi sendiri, alangkah celakanya mereka.

Bagaimana pula dengan orang Islam kita sendiri? Tidakkah ramai yang tidak mengendahkan pengajaran dari Al-Qur’an ini? Bukankah majoriti dari masyarakat kita buta dengan ilmu wahyu? Jangan kata orang awam, yang orang agama pun kadangkala buta dengan wahyu. Kerana itu banyak ajaran pelik dalam masyarakat yang diajar oleh para ustaz dalam masyarakat kita.


 

Ayat 18: Allah ﷻ tegur orang yang engkar. Dalam bahasa kita zaman sekarang, ‘sekolah’kan mereka.

مِن أَيِّ شَيءٍ خَلَقَهُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

From what thing [i.e., substance] did He create him?

(MALAY)

Dari apakah Allah menciptakannya?

 

Allah ﷻ mempersoalkan, yang manusia berlagak ni, dia lupakah yang dia jadi dari apa? Dia kena fikir sikit dari benda apa yang Allah ﷻ ciptakan dia. Kenapa hendak sombong sangat?


 

Ayat 19: Selepas Allah ﷻ tanya, Allah ﷻ sendiri yang jawab untuk ingatkan mereka.

مِن نُطفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

From a sperm-drop He created him and destined for him;¹

  • His proportions, provisions, life span, etc.

(MALAY)

Dari setitik mani, Allah menciptakannya, lalu menentukannya.

 

Allah ﷻ ingatkan yang manusia dijadikan dari air mani yang hina. Kenapa hina? Kerana kalau kena pada baju kita, bukankah kita akan kikis buang? Kalau jatuh ke tanah, ayam tak patuk, itik pun tak sudu. Maknanya, asal kejadian manusia itu bukanlah dari benda yang mulia, tetapi dari benda yang tidak ada apa-apa nilai pun.

Dan setelah Allah ﷻ jadikan kita, Dia menentukan perjalanan hidup kita. Dia telah mentakdirkan apa yang akan jadi dengan kita: bagaimana rupa kita, kulit warna apa, pandai atau tidak, tinggal di mana, siapa kenalan kita, ada penyakit atau tidak, apa kerja kita, anak kita akan dapat berapa, semua sekali.

Ditentukan semua perkara dari sekecil-kecilnya hingga ke sebesar-besarnya. Semua itu telah ditakdirkan sebelum insan itu jadi manusia lagi. Jadi ini adalah cerita sebelum manusia itu keluar lagi dari perut ibunya. Itu semua kita tidak dapat tentukan sendiri. Semuanya Allah ﷻ yang atur dan kita kena terima sahaja.

Tetapi manusia masih lagi sampai hati hendak melawan Allah ﷻ? Masih lagi mahu engkar dengan arahan Allah ﷻ? Allah ﷻ yang tentukan rupa bentuk dia dan kemudian Allah ﷻ yang takdirkan semua, tetapi manusia sombong juga lagi?


 

Ayat 20: Kemudian Allah ﷻ lahirkan manusia itu.

ثُمَّ السَّبيلَ يَسَّرَهُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Then He eased the way for him;¹

  • Into this world (i.e., his birth). It may also refer to life itself, which has been made easier by Allāh’s guidance.

(MALAY)

Kemudian Dia memudahkan jalannya.

 

Dan Allah ﷻ memudahkan jalan untuk manusia keluar dari perut ibunya. Ikut laluan rahim  keluar dari ibu. Allah ﷻ yang mudahkan. Ianya satu proses yang kalau difikirkan amat susah – bayangkan bayi itu besar, tetapi boleh keluar ikut laluan yang sempit. Tetapi Allah ﷻ mudahkan dengan QudratNya.

Dan boleh juga bermaksud, Allah ﷻ memudahkan dia di dalam perjalanan hidupnya. Selepas Allah ﷻ taqdirkan kita lahir, kita dimudahkan dalam kehidupan kita. Segala keperluan kita Allah ﷻ berikan. Dari kita bayi, tidak tahu bercakap lagi, Allah ﷻ ilhamkan kepada ibubapa kita untuk memberi kita makan, beri belaian dan kasih sayang.

Dan ketiga, Allah ﷻ juga memudahkan manusia untuk mendapat petunjuk. Setiap manusia telah dibekalkan dengan fitrah mahukan kebenaran, kenal Allah ﷻ dan ini telah diletakkan di dalam sanubari manusia. Kemudian Allah ﷻ bangkitkan para Rasul, ada kitab wahyu dan lain-lain lagi sumber petunjuk. Ini seperti yang disebut dalam ayat yang lain:

إِنَّا هَدَيْناهُ السَّبِيلَ إِمَّا شاكِراً وَإِمَّا كَفُوراً

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Al-Insan: 3)

Memang ada banyak petunjuk telah diberikan, tetapi kalau manusia tidak mahu terima, itu adalah kerana mereka sombong sahaja.


 

Ayat 21: Masih lagi tentang perjalanan hidup manusia. Akhirnya manusia itu mati.

ثُمَّ أَماتَهُ فَأَقبَرَهُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Then He causes his death and provides a grave for him.¹

  • To conceal his decaying body.

(MALAY)

kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,

 

Dan kemudian manusia akan dimatikan dan dikuburkan. Lafaz ‘kubur’ maksudnya ‘dimasukkan dalam tanah’, sama ada ada kubur atau tidak; kerana kalau tidak tanam pun dalam kubur seperti yang biasa kita lihat, setiap manusia itu akan hancur jadi tanah dan akan masuk ke tanah juga. Sebagai contoh, kalau dibakar, mati dalam laut, di mana sahaja, akhirnya akan hancur dan turun ke tanah juga.

Allah ﷻ hendak ingatkan manusia, mati pun kamu tidak dapat kawal – sudahlah hidup kamu pun kamu tidak dapat kawal, mati pun kamu tidak dapat kawal, tetapi masih hendak sombong lagi?

Akhirnya kamu akan menjadi tanah. Tanah pun satu bahan yang kamu pandang jijik. Kamu basuh dari badan dan pakaian kalau kena pada kamu. Lihatlah, asal dari air mani yang hina dan akhirnya jadi tanah yang hina juga. Lihatlah, betapa hinanya manusia. Tetapi hairan, masih hendak sombong lagi.


 

Ayat 22: Mati bukanlah satu penentuan, bukan penamat; tidak habis lagi kisah manusia walaupun telah mati.

ثُمَّ إِذا شاءَ أَنشَرَهُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Then when He wills, He will resurrect him.

(MALAY)

kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.

 

Dan kalau Dia hendak (kalau Allah ﷻ yang hendak, bukan kita), maka Dia akan menghidupkan kita kembali.

Dari segi bahasa, kita boleh lihat apabila manusia dihidupkan kembali, ianya dilakukan dengan cepat, tidak perlu proses lagi. Allah ﷻ boleh buat begitu, terus bangkit sahaja. Sedangkan semasa lahir, Allah ﷻ jadikan ada proses, air mani bercantum dengan telur ibu, melekat di dinding rahim, duduk dalam rahim selama 9 bulan dan seterusnya.

Akan tetapi bila hendak hidupkan balik, Allah ﷻ hidupkan begitu sahaja. Kerana Allah ﷻ tidak perlukan pun segala proses itu semua. Sengaja Allah ﷻ hendak manusia lahirkan manusia dengan cara begitu walaupun sebenarnya kalau Allah ﷻ kehendaki, Dia boleh terus jadikan sahaja manusia dalam sekelip mata.


 

Ayat 23: Setelah Allah ﷻ menceritakan perjalanan hidup manusia, sekarang Allah ﷻ tegur kesalahan manusia yang engkar.

كَلّا لَمّا يَقضِ ما أَمَرَهُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

No! He [i.e., man] has not yet accomplished what He commanded him.

(MALAY)

Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya,

 

Sekali lagi kita bertemu dengan lafaz كَلّا. Seperti kita telah sebut sebelum ini, ia adalah lafaz penekanan. Allah ﷻ hendak tekankan apa yang akan disebutkan selepas itu. Kerana perkara seterusnya ini amat penting, Allah ﷻ letak lafaz untuk menunjukkan penekanan.

Atau lafaz كَلّا bermaksud ‘jangan begitu’. Jangan teruskan segala perbuatan salah mereka itu. Kena ubah keadaan mereka.

Lafaz يَقضِ bermaksud – menjalankan tanggungjawab. Allah ﷻ mengatakan manusia ramai yang belum menjalankan tanggungjawab mereka sepenuhnya lagi sebagai hambaNya. Ramai yang lalai dan culas dari menjalankan tanggungjawab.

Tetapi, bagaimana kita hendak melaksanakan tanggungjawab kita sebagai hamba Allah ﷻ kalau kita sendiri tidak tahu? Bagaimana hendak tahu? Maka kenalah belajar agama terutama sekali kena habis belajar dan faham tafsir Al-Qur’an 30 juzuk. Inilah pertama sekali yang kena dilakukan. Kemudian belajar hadis dan sunnah.

Apabila digunakan lafaz لَمّا, maksudnya sampai sekarang manusia masih lagi tidak memenuhi perintah Allah ﷻ. Tetapi masih ada harapan lagi kerana selagi belum mati, masih ada harapan lagi. Oleh itu selepas dengar segala teguran ini, berubahlah.

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya

Kemaskini: 25 September 2019


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Tafsir Jalalain

Tafsir Surah Tawbah Ayat 75 – 78 (Tentang Nazar dan Menipu)

GOLONGAN YANG TIDAK BERSYUKUR

Tawbah Ayat 75: Sekarang kita lihat pula apabila orang munafik berjanji.

‎وَمِنهُم مَّن عٰهَدَ اللَّهَ لَئِن ءآتٰنا مِن فَضلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكونَنَّ مِنَ الصّٰلِحينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And among them are those who made a covenant with Allāh, [saying], “If He should give us from His bounty, we will surely spend in charity, and we will surely be among the righteous.”

(MALAY)

Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh.

 

وَمِنهُم مَّن عٰهَدَ اللَّهَ

Dan di antara mereka ada orang yang telah buat perjanjian kepada Allah: 

Allah ﷻ menceritakan lagi sifat golongan Munafik kepada kita supaya kita tidak menjadi seperti mereka. Bandingkan sifat-sifat mereka dengan diri kita sendiri sahaja (bukannya untuk menuding jari melabel orang lain pula).

Ada antara mereka yang berjanji kepada Allah ﷻ. Mereka ini adalah golongan faqir daripada Munafiqin. Mereka berjanji untuk membuat amal kebaikan kalau Allah ﷻ beri mereka sesuatu. Asbabun Nuzul ayat ini tentang salah seorang munafik bernama ibn Jamil atau Tsa’labah (bukan yang ahli Badr). Namanya Tsa’labah ibnu Hatib Al-Ansari. Allahu a’lam (semoga Allah ﷻ tunjukkan mana yang benar, kerana ada polemik tentang kisah ini).

Oleh kerana ada kecacatan tentang kisah ini, maka sebaiknya kita berhenti daripada menyebut namanya. Jangan kita nisbahkan kisah ini kepada dirinya, walaupun kisah itu terdapat dalam kitab tafsir muktabar seperti Tafsir Ibn Kathir sekali pun. Lagi pun nama siapakah orangnya tidak penting, yang penting adalah pengajaran yang kita boleh ambil daripadanya.

 

لَئِن ءآتٰنا مِن فَضلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ

“Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurnia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah

Mereka berjanji dengan Allah ﷻ, sekiranya Allah ﷻ berikan harta yang banyak kepada mereka, pasti mereka akan bersedekah. Sebelum itu mereka tidak bersedekah. Padahal sedekah itu adalah perkara yang amat baik.

Sepatutnya manusia sentiasa bersedekah, tolong orang yang susah. Akan tetapi ada juga yang buat syarat dengan Allah ﷻ, kononnya hanya jika Allah ﷻ beri kurniaan-Nya kepada mereka, baru mereka mahu bersedekah. Perbuatan begini tidak patut sekali. Ini adalah janji orang yang kedekut, kalau dapat sesuatu baru mereka hendak berbuat amal kebaikan. Kalau tidak dapat, mereka tidak buat lah?

 

وَلَنَكونَنَّ مِنَ الصّٰلِحينَ

dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh.

Mereka kata kalau mereka dapat kurniaan daripada Allah ﷻ, pasti mereka menjadi golongan saleh. Ini juga tidak patut dan inilah cara munafik. Jangan kita buat begini. Mereka berjanji hendak buat kebaikan hanya jika mendapat kelebihan. Kalau orang mukmin, mereka tidak akan berjanji begitu. Mereka tetap akan buat kebaikan tanpa menunggu sesuatu. Buat sahaja kebaikan tanpa syarat.

Kita tidak boleh hanya menunggu untuk mendapat kelebihan dalam dunia baru hendak membuat kebaikan. Ramai yang buat seperti ini tanpa sedar yang sifat ini adalah sifat munafik. Sebagai contoh, ada yang kata ‘kalau ada duit’, ‘kalau menang projek’, baru hendak buat Haji. Padahal, duit dari tempat lain sudah ada mencukupi.

Memang kita boleh berusaha untuk mendapatkan kelebihan dunia, namun jangan diletakkan syarat dan membuat perjanjian dengan Allah ﷻ. Selalunya mereka yang membuat janji begini, memang tidak akan memenuhi janji yang mereka telah katakan itu pun. Ini adalah kerana mereka meletakkan agama itu lebih rendah dari dunia. Mereka melebihkan dunia dan menghinakan agama.

Bagaimana pula dengan nazar? Ramai juga yang bernazar dalam masyarakat kita. Bernazar memang dibolehkan namun tidak digalakkan kerana konsep yang sama. Iaitu berjanji hanya akan membuat amal ibadah sekiranya Allah ﷻ beri kurniaan-Nya. Sedangkan kita memang telah disuruh beramal, bukan? Kenapa perlu diletakkan syarat-syarat pula? Hebat sangatkah kita ini sehingga mahu membuat syarat dengan Allah ﷻ? Itu adalah tanda orang yang kedekut. Sebenarnya ia bukanlah sesuatu yang baik dan Rasulullah ﷺ telah sebut tentang hal ini.

نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ النَّذْرِ قَالَ « إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ »
“Nabi ﷺ melarang untuk bernazar, baginda bersabda: ‘Nazar sama sekali tidak boleh menolak sesuatu. Nazar hanyalah dikeluarkan daripada orang yang bakhil’.”
(Sahih Bukhari No. 6693 dan Muslim No. 1639)

Cuma dari segi hukum, kalau sudah bernazar dan apa yang kita letak sebagai syarat itu Allah ﷻ sudah penuhi, maka wajib kita jalankan nazar kita. Cuma sepatutnya janganlah buat nazar itu sejak dari mula lagi. Buatlah amal ibadah tanpa bersyarat yang Allah ﷻ kena beri kita pula dulu. Allah ﷻ telah beri kita banyak nikmat pun selama ini, kenapa hendak tunggu dapat nikmat baru, baru hendak beramal?

Maka orang Melayu kita pun ramai yang bernazar. Ini semua berpunca daripada jahil tidak ada ilmu tentang perkara ini. Hanya ikut-ikut cakap orang sahaja. Bernazar dengan harapan Allah ﷻ pasti mengabulkan hajat mereka. Namun kemudian apabila dapat apa yang mereka nazarkan itu, mulalah kelam kabut cari ustaz. Bukannya apa, tetapi hendak tanya adakah boleh mereka elak daripada membuat perkara yang telah dinazarkan itu? Kerana semasa bernazar itu macam-macam mereka janji, kemudian bila dapat, tidak sanggup pula. Maka para ustaz pula lah yang sibuk untuk selesaikan masalah mereka.

Sepatutnya apakah yang mereka perlu lakukan untuk mereka yang berhajat besar dalam hidup mereka? Mereka sepatutnya membuat amal yang baik seperti sedekah contohnya, kemudian selepas melakukannya, berdoalah kerana doa yang dilakukan selepas melakukan amal kebaikan itu lebih tinggi kemungkinan akan dimakbulkan oleh Allah ﷻ. Yang benarnya buatlah amal kebaikan itu ‘sebelum’ berdoa dan sebelum mendapat apa yang mereka hajati itu. Bukannya janji kononnya hendak buat hanya sekiranya Allah ﷻ makbulkan.


 

Tawbah Ayat 76:

‎فَلَمّا ءآتىٰهُم مِّن فَضلِهِ بَخِلوا بِهِ وَتَوَلَّوا وَّهُم مُعرِضونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

But when He gave them from His bounty, they were stingy with it and turned away while they refused.

(MALAY)

Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurnia-Nya, mereka kedekut dengan kurnia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

 

فَلَمّا ءآتىٰهُم مِّن فَضلِهِ بَخِلوا بِهِ

Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurnia-Nya, mereka kedekut dengan kurnia itu, 

Allah ﷻ beritahu, kalau mereka diberi sepertimana yang mereka harapkan itu, mereka tetap akan bersikap kedekut juga. Kalau Allah ﷻ beri rezeki yang banyak kepada mereka pun, mereka tidak keluar zakat, tidak akan bersedekah kepada orang lain pun. Maka janji mereka itu adalah janji kosong sahaja. Allah ﷻ sudah tahu apa yang dalam hati mereka dan kerana itu Allah ﷻ sampaikan kepada kita sekarang.

Hadith tanda munafik:

Daripada Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
“Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, dusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, ia khianat.”
(HR. Muslim No. 59)

Manusia ada sedikit sebanyak sifat bakhil di dalam dirinya. Sebab itu Allah ﷻ memberikan janji balasan yang hebat untuk sedekah seperti yang disebut  dalam Hadid:11

مَّن ذَا الَّذي يُقرِضُ اللهَ قَرضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجرٌ كَريمٌ
Siapakah yang mahu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.

Maka bayangkan ayat ini Allah ﷻ bercakap kepada orang Islam yang kedekut yang tidak mahu mengeluarkan harta sampaikan Allah ﷻ kata berilah pinjaman kepada Dia dan Dia berjanji akan membayar balik pinjaman itu. Janganlah takut tidak mendapat pulangan semula kerana yang berjanji ini adalah Allah ﷻ sendiri.

Maka ini merupakan teguran yang teramat pedas daripada Allah ﷻ. Dia yang berikan harta itu kepada kita, Dia yang beri segala yang lain bagi kita, dan sekarang seolah-olah Allah ﷻ ‘merayu’ meminta pinjaman daripada kita!

 

وَتَوَلَّوا وَّهُم مُعرِضونَ

dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi 

Kalau mereka mendapat apa yang mereka kehendaki, mereka akan berpaling daripada agama, dan mereka akan terus menerus menentang agama. Juga mereka berpaling daripada janji mereka sebelum itu. Mereka akan lupakan tentang janji mereka untuk berbuat amal kebaikan itu. Inilah sifat orang munafik itu.


 

Tawbah Ayat 77: Sekarang disebut akibat dari sikap mereka itu.

فَأَعقَبَهُم نِفاقًا في قُلوبِهِم إِلىٰ يَومِ يَلقَونَهُ بِما أَخلَفُوا اللَّهَ ما وَعَدوهُ وَبِما كانوا يَكذِبونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

So He penalized them with hypocrisy in their hearts until the Day they will meet Him – because they failed Allāh in what they promised Him and because they [habitually] used to lie.

(MALAY)

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemuiNya, kerana mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga kerana mereka selalu berdusta.

 

فَأَعقَبَهُم نِفاقًا في قُلوبِهِم إِلىٰ يَومِ يَلقَونَهُ

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemuiNya, 

Ini adalah natijah daripada sikap mereka yang tidak memenuhi janji kepada Allah ﷻ: Allah ﷻ akan campakkan sifat munafik ke dalam hati mereka. Kalau dahulu sedikit sahaja, sekarang sudah menjadi mantap dan padu dalam diri mereka.

Maknanya sifat nifak ini adalah masalah hati. Sebab itulah manusia lain tidak boleh nampak dan tidak boleh tahu dan kita tidak boleh hendak tuduh sesiapa pun Munafik. Apabila ia adalah masalah hati, maka hati itu yang kena dibersihkan. Hati yang kotor menjadi punca kesalahan-kesalahan serta dosa yang kita lakukan.

Daripada An Nu’man bin Basyir رضي الله عنهما, Nabi ﷺ bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahawa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rosak, maka rosak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahawa ia adalah hati (jantung)”
(Sahih Bukhari No. 52 dan Sahih Muslim No. 1599)

Kalimat أَعقَبَ daripada lafaz عقبَ yang bermaksud kesan dan akibat, tapi ia juga bermaksud ‘mengikuti dengan dekat’. Maksudnya, sifat nifak itu akan ikut dan melekat dengan mereka. Sifat itu akan melekat dengan mereka, sehingga hari mereka berjumpa dengan Allah ﷻ, tidak dicabut sifat itu. Maknanya, mereka mati dalam munafik.

Maka kita jangan lupa untuk infaq. Kena ingat yang ubat nifaq adalah infaq. Dengan melakukan infaq maka Allah ﷻ akan tetapkan hati kita di atas iman yang teguh.

 

بِما أَخلَفُوا اللَّهَ ما وَعَدوهُ

kerana mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya

Ini adalah kerana mereka mungkir dengan janji mereka. Mereka telah berikrar dengan Allah ﷻ kalau mereka dapat rahmat, mereka akan buat amal kebaikan, tetapi mereka tidak buat. Maka tidaklah Allah ﷻ tetapkan mereka terus menjadi orang Munafik tetapi sebaliknya ia adalah kerana salah mereka sendiri. Ini seperti yang Allah ﷻ sebut dalam Saf:5

فَلَمّا زاغوا أَزاغَ اللَّهُ قُلوبَهُم
Maka tatkala mereka berpaling (daripada kebenaran), Allah memalingkan hati mereka;

 

وَبِما كانوا يَكذِبونَ

dan juga kerana mereka selalu berdusta.

Dan juga kerana mereka mendustakan syariat. Sudahlah berdusta dalam janji mereka, mereka dusta pula dengan syariat yang Allah ﷻ telah berikan kepada mereka melalui Rasulullah ﷺ. Telah banyak kali disebut sifat golongan Munafik yang berdusta apabila mereka bercakap. Maka sifat-sifat inilah yang menyebabkan Allah ﷻ tanam sifat Nifaq itu di dalam hati mereka. Janganlah kita melakukan perkara-perkara begini supaya kita selamat daripada sifat Nifaq ini.

Hadith yang masyhur tentang tiga sifat orang Munafik. Dua daripada sifat itu disebut di dalam hadith ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Daripada [Abu Hurairah رضي الله عنه] daripada Nabi ﷺ, baginda bersabda: “Tanda-tanda munafiq ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia khianat”.
(Sahih Bukhari (32))

Maka jangan biasakan berdusta walaupun tujuan untuk bergurau dan melawak sahaja. Kadang-kadang kita buat jenaka untuk buat orang gelak, bukan? Boleh, tetapi jangan reka benda yang tidak ada kerana ada larangan daripada Nabi ﷺ tentang perkara ini:

عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
Daripada [Bahz bin Hakim] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Bapaku] daripada [Bapanya] dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.”
(Sunan Abu Dawud (4338))
Status: Hasan


Hadith ini amat menakutkan kerana sampai tiga kali Rasulullah ﷺ melaknat! Namun malang sekali ramai orang kita buat, bukan?

Rasulullah ﷺ memberitahu kita hanya tiga perkara sahaja yang dibenarkan menipu seperti disebut di dalam sebuah hadith,

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ، قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ “
Daripada ‘Asma bt Yazid رضي الله عنها, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak halal berbohong kecuali dalam tiga keadaan: Perkataan seorang suami kepada isterinya agar isterinya gembira, berbohong ketika perang, dan berbohong untuk mendamaikan manusia.
(Jami’ at-Tirmizi, Kitab al-Birr wa al-Silah, No. 1939)
Status: hasan


Di dalam riwayat yang lain,

قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَىْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ الْحَرْبُ وَالإِصْلاَحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا .
Ibn Syihab berkata: Aku tidak mendengar sebarang keringanan dalam sesuatu untuk berdusta kecuali tiga perkara: Peperangan, mendamaikan manusia, dan perkataan seorang suami kepada isteri dan isteri kepada suami.
(Sahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Silah wa al-Adab, hadith No. 2605)

Namun ini bukanlah ‘bohong sunat’ seperti yang selalu disebut orang kita kerana tiada istilah itu di dalam syarak. Akan tetapi apa yang dimaksudkan dengan berbohong antara pasangan? Ini kena dijelaskan kerana kalau tidak, ramai pula yang ambil kesempatan.

Imam an-Nawawi رحمه الله menerangkan dalam Syarah Sahih Muslim:

وَأَمَّا كَذِبُهُ لِزَوْجَتِهِ وَكَذِبُهَا لَهُ فَالْمُرَادُ بِهِ فِي إِظْهَارِ الْوُدِّ وَالْوَعْدِ بِمَا لَا يَلْزَمُ وَنَحْوُ ذَلِكَ ، فَأَمَّا الْمُخَادَعَةُ فِي مَنْعِ مَا عَلَيْهِ أَوْ عَلَيْهَا ، أَوْ أَخْذِ مَا لَيْسَ لَهُ أَوْ لَهَا فَهُوَ حَرَامٌ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .
Adapun berbohongnya suami kepada isterinya dan berbohongnya isteri kepada suaminya; yang dimaksudkan di sini ialah berbohong untuk menzahirkan rasa cinta untuk sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau seumpamanya. Adapun menipu untuk menghalang haknya atau mengambil apa yang bukan haknya, maka itu merupakan perbuatan yang haram menurut kesepakatan ulama.

‘Bohong’ yang dimaksudkan di sini bukanlah menipu isteri untuk kepentingan diri. Sebaliknya ia lebih kepada aspek bergaul dan bergurau senda dengan isteri. Contohnya, si isteri bertanya:

Abang, sedap tak lauk hari ini saya masak?

Lalu kita pun menjawab: ‘Masya-Allah, sedap sangat. Pandai sayang masak’. Walaupun hakikatnya lauk itu mungkin masin sebab terlebih garam. Jadi, kita menjawab sebegitu rupa untuk menggembirakan isteri.

Begitu juga si isteri, boleh jadi si suami akan bertanya selepas dia memasak nasi goreng untuk si isteri:

Macam mana rasa nasi goreng abang?’.

Lalu si isteri menjawab: ‘Masya-Allah, sedap, macam Chef Wan’ walaupun sebenarnya tawar sebab si suami tidak pandai campur bahan.

Adapun membohongi isteri untuk kepentingan diri sendiri, adalah terlarang.

 

Tauriah (تورية)

Tauriah dari sudut istilah balaghah bermaksud mendatangkan makna yang hampir serta zahir tetapi tidak dimaksudkan manakala makna yang jauh serta tersembunyi tetapi itu yang dimaksudkan. Tauriah mestilah didatangkan bersamanya qorinah (petunjuk) yang mengisyaratkan bahawa makna yang jauh itu lah yang dimaksudkan. Secara mudahnya, tauriah ialah menggunakan makna yang jauh menggantikan makna yang hampir.

Sebagai contoh, Ahmad melarikan diri daripada pembunuh upahan dan sedang bersembunyi di rumah anda. Kemudian si pembunuh bertanyakan pada anda jika anda ada ternampak Ahmad. Anda pun menjawab “Ahmad tiada di sini” sambil tangan anda berada dalam poket seluar dan menunjuk ke arah dalam poket. Jika kita perhatikan situasi tersebut, makna yang hampir serta zahir ialah Ahmad tiada di dalam rumah anda namun bukan itu yang anda maksudkan. Sebaliknya makna yang jauh serta tersembunyi ialah Ahmad tiada dalam poket seluar anda dan inilah makna yang dimaksudkan. Ini merupakan contoh penggunaan tauriah dalam seni bicara.

Saidina Abu Bakar As-Siddiq رضي الله عنه pernah menggunakan tauriah dalam bicaranya ketika peristiwa hijrah beliau bersama Rasulullah ﷺ. Ketika beliau berhijrah bersama baginda Nabi ﷺ, tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang pemuda Quraisy di pertengahan jalan. Kemudian pemuda Quraisy tersebut bertanya “Wahai Abu Bakar! Siapakah gerangan lelaki di sisimu?” Lalu Saidina Abu Bakar As-Siddiq رضي الله عنه pun menjawab, “هاد يهديني السبيل (Dia ialah penunjuk jalanku)”. Maka pemuda tersebut pun berlalu meninggalkan mereka. Secara literal, apa yang difahami oleh pemuda Quraish tersebut ialah penunjuk jalan ke sesuatu destinasi. Namun apa yang dimaksudkan oleh Abu Bakar رضي الله عنه ialah penunjuk jalan kebenaran. Di sini Saidina Abu Bakar رضي الله عنه telah menggunakan tauriah bagi melepaskan dirinya daripada berbohong sesuai dengan gelaran beliau iaitu As-Siddiq.

Antara contoh lain ialah kisah di zaman kerajaan Abbasiyah di mana pemerintah ketika itu berfahaman muktazilah. Ketika itu berlaku masalah Al-Qur’an itu makhluk atau qadim. Apabila para ulama dipanggil dan ditanya soalan tersebut, ada dalam kalangan mereka yang menjawab sambil mengira dengan menutup jarinya. Mereka berkata “Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an (kemudian diam seketika), empat ini (sambil menunjukkan keempat empat jari) ialah makhluk“. Apabila ditanya “Apa yang engkau maksudkan ini Tuan Guru?” Mereka menjawab “Aku tidak maksudkan yang makhluk itu Al-Qur’an atau Injil atau selainnya tetapi yang aku maksudkan empat itu ialah jari aku”. Perbuatan ini disebutkan tauriah atau helah yang mereka lakukan kerana bimbang dihukum oleh khalifah.

Tauriah merupakan unsur balaghah yang menyerikan lagi keindahan bahasa. Ia juga boleh digunakan sebagai helah dalam perbicaraan seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar As-Siddiq رضي الله عنه dan ulama’ di zaman kerajaan Abbasyiah. Tauriah sesuai digunakan untuk melepaskan diri daripada dianggap menipu.

Hukum tauriah pula adalah harus dan ia tidak dikira sebagai berbohong dan tidak dicela jika menepati syaratnya sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Nawawi رحمه الله di dalam Kitab al-Azkar iaitu:

    1. Mengatakan sesuatu yang benar walaupun berniat untuk menyembunyikan sesuatu.
    2. Dilakukan kerana hajat dan keperluan mendapat sesuatu kemaslahatan yang jelas atau untuk menolak kemudaratan yang pasti seperti mendamaikan suami dan isteri. Hukumnya adalah makruh jika tiada hajat dan keperluan seperti di atas atau kemaslahatan dan kemudaratan itu tidak pasti.
    3. Bukan bertujuan untuk membenarkan sesuatu yang batil atau sebaliknya dan juga bukan untuk menghalalkan sesuatu yang haram atau sebaliknya. Jika tidak, maka hukumnya adalah haram.
    4. Tidak menzalimi seseorang sama ada dengan mengambil hak orang lain atau menafikan hak orang lain ke atas kita. Jika sebaliknya, maka jatuh hukum haram.

 

Tawbah Ayat 78:

‎أَلَم يَعلَموا أَنَّ اللَّهَ يَعلَمُ سِرَّهُم وَنَجوىٰهُم وَأَنَّ اللَّهَ عَلّٰمُ الغُيوبِ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Did they not know that Allāh knows their secrets and their private conversations and that Allāh is the Knower of the unseen?

(MALAY)

Tidakkah mereka tahu bahawasanya Allah mengetahui rahsia dan bisikan mereka, dan bahawasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib.

 

أَلَم يَعلَموا أَنَّ اللَّهَ يَعلَمُ سِرَّهُم وَنَجوىٰهُم

Tidakkah mereka tahu bahawasanya Allah mengetahui rahsia dan bisikan mereka,

Kalimah سرر bermaksud rahsia dalam hati manusia yang tidak disampaikan kepada orang lain. Kalimah نَجو adalah apabila mereka berbisik sesama mereka untuk buat rancangan jahat mereka. Allah ‎ﷻ hendak beritahu yang Dia tahu rahsia hati mereka dan tidak boleh menipu Allah ﷻ.

Allah ﷻ hendak beritahu yang Dia tahu rancangan jahat yang mereka rancangan sesama mereka untuk menjatuhkan Nabi Muhammad ﷺ dan juga Islam.

Allah ﷻ dengar segalanya termasuk bisikan antara manusia yang dua orang sahaja tahu. Golongan Munafik sangka rancangan mereka itu selamat kerana mereka berbisik sesama mereka sahaja, tetapi di sini Allah ﷻ hendak memberitahu yang Dia tahu rancangan mereka.

Di sini Allah ﷻ tidak perlu sebut Dia tahu kata-kata mereka yang zahir kerana kalau itu sahaja, makhluk biasa pun tahu.

Sebut tentang bisik, ada satu peringatan yang Rasulullah ﷺ sampaikan kepada kita, iaitu jangan berbisik berdua jikalau ada orang ketiga.

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه -قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم: «إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الْآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ، مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ.
Daripada Ibnu Mas’ūd رضي الله عنه, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbicara/berbisik-bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian berbaur kembali dengan manusia kerana perbuatan ini akan membuat orang yang ketiga tadi bersedih.”
(Bukhari No. 6288 dan Muslim No. 2184)


Hadith yang mulia ini menunjukkan salah satu sisi keagungan Islam. Hadith ini menunjukkan bahawa Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur segala hal sampai kepada hal-hal yang bahkan oleh sebahagian manusia dianggap remeh, seperti adab makan, adab minum, dan lain-lain, termasuk di antaranya adab bergaul. Kita mungkin anggap ia perkara kecil namun Allah ﷻ sebut ia adalah perkara besar yang digunakan oleh syaitan untuk menyusahkan hati manusia seperti disebut dalam Mujadilah:10

إِنَّمَا النَّجوىٰ مِنَ الشَّيطٰنِ لِيَحزُنَ الَّذينَ ءآمَنوا
Sesungguhnya pembicaraan rahsia itu adalah daripada syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita

 

وَأَنَّ اللَّهَ عَلّٰمُ الغُيوبِ

dan bahawasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib.

Kalimah عَلّٰمُ bukan di dalam wazan biasa, tetapi ia di dalam wazan yang bermaksud sangat-sangat tahu. Oleh itu hanya Allah ﷻ sahaja yang tahu perkara yang ghaib. Ini adalah haq Allah ﷻ sahaja. Tidak ada manusia lain yang tahu melainkan apa yang Allah ﷻ pilih untuk beritahu sahaja. Maka kerana Allah ﷻ tahu apa yang di dalam hati mereka, maka Allah ﷻ boleh beritahu kepada kita.

Ini juga adalah dalil bahawa manusia tidak boleh dikatakan tahu isi hati manusia lain kerana ia adalah rahsia ghaib yang hanya dimiliki oleh Allah ﷻ sahaja. Maka jangan kita kata mana-mana tok guru yang boleh baca isi hati manusia. Itu adalah fahaman yang syirik iaitu shirk fil ilmi.

Di sini Allah ﷻ tidak perlu sebut Dia tahu perkara yang zahir kerana itu makhluk pun tahu.

 

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya

Kemaskini: 9 Julai 2023

Ringkasan Surah Tawbah


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Ustaz Abdul Muien

Ustaz Solahuddin

Maariful Qur’an

Tafsir Surah Tawbah Ayat 73 – 74 (Perangi Kafir dan Munafik)

TIDAK MENGENANG BUDI

Tawbah Ayat 73: Ini adalah targhib (ajakan) kepada jihad. Ayat yang sama juga diulang di dalam Tahreem:9

يٰأَيُّهَا النَّبِيُّ جٰهِدِ الكُفّارَ وَالمُنٰفِقينَ وَاغلُظ عَلَيهِم ۚ وَمَأوىٰهُم جَهَنَّمُ ۖ وَبِئسَ المَصيرُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

O Prophet, fight against the disbelievers and the hypocrites and be harsh upon them. And their refuge is Hell, and wretched is the destination.

(MALAY)

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.

 

يٰأَيُّهَا النَّبِيُّ جٰهِدِ الكُفّارَ وَالمُنٰفِقينَ

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, 

Nabi Muhammad ﷺ diarahkan untuk melawan orang kafir dan munafikin. Telah dijelaskan sebelum ini bahawa munafik itu juga adalah kufur sebenarnya. Akan tetapi dalam sirah, kita tahu yang Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah berperang dengan puak munafik kerana mereka pada luarannya nampak sebagai orang Islam sahaja. Maka tidak boleh perangi mereka dengan perang qital (dengan mata pedang). Malah Rasulullah ﷺ pernah melarang para sahabat untuk membunuh golongan munafik,

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ قَالَ سَمِعَ عَمْرٌو جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ الْأَنْصَارِيُّ يَا لَلْأَنْصَارِ وَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَسَعَ رَجُلٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ فَسَمِعَهَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ فَقَالَ قَدْ فَعَلُوهَا وَاللَّهِ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ قَالَ عُمَرُ دَعْنِي أَضْرِبُ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ فَقَالَ دَعْهُ لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ
Telah menceritakan kepada kami [Sufyan bin ‘Uyainah] dia berkata; dia mendengar [‘Amru] [Jabir bin ‘Abdullah رضي الله عنهما] berkata; “Kami pernah menyertai Rasulullah ﷺ dalam suatu peperangan. Tiba-tiba seorang sahabat daripada kaum Muhajirin melanggar punggung seorang sahabat daripada kaum Ansar. Lalu sahabat Ansar itu berseru; ‘Hai orang-orang Ansar ke marilah! ‘ Kemudian sahabat Muhajirin itu berseru pula; ‘Hai orang-orang Muhajirin, ke marilah! ‘ Mendengar seruan-seruan seperti itu, Rasulullah ﷺ pun berkata: ‘Mengapa kalian masih menggunakan cara-cara panggilan jahiliah? ‘ Para sahabat berkata; ‘Ya Rasulullah, tadi ada seorang sahabat daripada kaum Muhajirin melanggar punggung seorang sahabat daripada kaum Ansar.’ Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tinggalkanlah panggilan dengan cara-cara jahiliah, kerana yang demikian itu akan menimbulkan kesan yang buruk.’ Ternyata peristiwa itu didengari oleh Abdullah bin Ubay, seorang tokoh munafik, dan berkata; ‘Mereka benar-benar telah melakukannya? Sungguh apabila kita telah kembali ke Madinah, maka orang-orang yang lebih kuat akan dapat mengusir orang-orang yang lebih lemah di sana.’ Mendengar pernyataan itu, Umar رضي الله عنه berkata; ‘Ya Rasulullah, izinkanlah saya untuk memenggal leher orang munafik ini.’ Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Biarkan dan lepaskanlah dia! Supaya orang-orang tidak berkata bahawasanya Muhammad membunuh sahabatnya.’
(Sahih Muslim (4682))

Maka yang dimaksudkan dengan ayat ini: Perangi orang kafir yang nyata itu dengan perang dan dengan munafik itu kena diperangi menggunakan lisan (dengan dakwah dan hujah). Patahkan hujah mereka, jangan biarkan mereka bermaharajalela menyesatkan masyarakat Muslim yang lain kerana kalau dibiarkan, mereka akan mempengaruhi orang lain pula.

Di dalam ayat 68, apabila menyebut tentang janji balasan azab, Allah ﷻ sebut golongan Munafik dahulu, kerana mereka lebih teruk jika dibandingkan dengan golongan kafir. Akan tetapi di sini apabila menyebut tentang perang kepada mereka, disebut golongan kafir dahulu. Ini adalah kerana golongan kafir boleh diperangi dengan pedang sedangkan golongan Munafik diperangi dengan cara lisan. Maka ia disusun daripada yang paling keras kepada yang kurang keras.

Begitulah pendapat Ibnu Abbas رضي الله عنهما yang mengatakan bahawa Allah ﷻ memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan senjata dan orang-orang munafik dengan lisan, serta jangan bersikap lemah lembut terhadap mereka.

 

وَاغلُظ عَلَيهِم

dan bersikap keraslah terhadap mereka. 

Jangan berlembut dengan mereka kerana mereka akan ambil peluang. Bersikap keraslah dengan mereka supaya mereka tahu yang kita tegas dan tidak boleh diambil mudah.

Hal itu merupakan kebalikan daripada apa yang telah diperintahkan-Nya terhadap orang-orang Mukmin. Allah ‎ﷻ memerintahkan Nabi-Nya untuk bersikap lemah lembut kepada orang-orang yang mengikuti baginda, iaitu kaum Mukmin.

Yang menjadi masalah lebih besar adalah untuk berurusan dengan puak munafikin kerana mereka itu pada zahirnya nampak sebagai Muslim. Nabi Muhammad ﷺ seorang yang lemah lembut dengan para Muslim. Maka Allah ﷻ beri arahan kepada baginda sebelum sampai ke Madinah semasa pulang dari Tabuk, jangan berlembut lagi dengan mereka. Allah ﷻ pesan awal-awal sebelum jumpa mereka lagi. Sebelum mereka ada peluang untuk mengadap Nabi ﷺ dan memberikan alasan-alasan mereka.

Di dalam ayat ini disebut kena bersikap keras dengan orang kafir, akan tetapi apabila Nabi Musa عليه السلام diarahkan untuk berdakwah kepada Firaun, baginda disuruh berlembut dengannya. Kenapa pula begitu? Ini disebut dalam Taha:43-44

اذهَبا إِلىٰ فِرعَونَ إِنَّهُ طَغىٰ
“Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas dalam kekufurannya.

فَقولا لَهُ قَولًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَو يَخشىٰ
“Kemudian hendaklah kamu berkata kepadanya, dengan kata-kata yang lemah-lembut, semoga ia beringat atau takut”.

Ini mengajar kita di dalam dakwah, kena berlembut, berkata-kata dengan lunak. Akan tetapi apabila sudah sampai ke tahap berperang, tentulah tidak ada lembut-lembut lagi. Namun begitu kalau sudah lama berdakwah tetapi yang didakwah tetap berdegil maka boleh juga berkeras sedikit kepada mereka seperti yang dilakukan oleh Nabi Musa عليه السلام di dalam Isra’:102

قالَ لَقَد عَلِمتَ ما أَنزَلَ هٰؤُلاءِ إِلّا رَبُّ السَّماواتِ وَالأَرضِ بَصائِرَ وَإِنّي لَأَظُنُّكَ يا فِرعَونُ مَثبورًا
Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahawa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”.

Sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ pun amat berlembut dengan orang yang tidak berilmu seperti Arab Badwi yang mahu membuang air kecil di masjid. Sebaliknya apabila dengan para sahabat yang sudah lama belajar dengan baginda, baginda keras pula dan kadangkala merah muka baginda memarahi mereka. Begitu juga nanti kita akan belajar bagaimana baginda telah memulau sahabat seperti Ka’ab bin Malik رضي الله عنه yang tidak menyertai Perang Tabuk. Maka kena lihat kepada situasi.

Namun begitu kepada orang Munafik, maksud غلظ kepada mereka adalah syariat dikenakan penuh terhadap mereka, bukannya ada diskaun. Semua yang Muslim kena buat, mereka pun kena buat tanpa pengecualian. Bukanlah bercakap kasar dengan mereka atau hina mereka kerana cara ini tidak bersesuaian dengan ajaran dan perbuatan Nabi ﷺ. Lihatlah walaupun semasa dikenakan Hukum Hudud pun baginda tidak benarkan para sahabat mencela,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَنَتْ الْأَمَةُ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا فَلْيَجْلِدْهَا وَلَا يُثَرِّبْ ثُمَّ إِنْ زَنَتْ فَلْيَجْلِدْهَا وَلَا يُثَرِّبْ ثُمَّ إِنْ زَنَتْ الثَّالِثَةَ فَلْيَبِعْهَا وَلَوْ بِحَبْلٍ مِنْ شَعَرٍ
Daripada [Abu Hurairah رضي الله عنه ] bahawa beliau mendengarnya berkata; Nabi ﷺ bersabda: “Jika seorang budak wanita berzina dan terbukti penzinaannya maka dia dihukum sebat tanpa dicela dan dihinakan. Jika berzina lagi maka dihukum sebat tanpa dicela dan dihinakan dan jika berzina lagi untuk ketiga kalinya maka juallah sekalipun dengan harga senilai sehelai rambut”.
(Sahih Bukhari (2008))

Begitulah sikap Rasulullah ﷺ dengan umat baginda walaupun mereka telah melakukan kesalahan yang besar. Ini seperti disebut dalam Ali Imran:159

فَبِما رَحمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُم ۖ وَلَو كُنتَ فَظًّا غَليظَ القَلبِ لَانفَضّوا مِن حَولِكَ
Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) daripada Allah (kepadamu wahai Muhammad), engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu.

Maknanya kena bercakap dengan cara yang baik-baik. Boleh tegas tetapi jangan sampai menghina, mencaci, memaki, perli dan sebagainya. Jika dengan cara keras dan makian begitulah kita berdakwah mengajar agama tentulah tidak memberi kesan yang baik kepada manusia. Manusia pun benci dan tidak mahu dengar apa yang kita sampaikan. Mereka akan tinggalkan kita begitu sahaja.

 

وَمَأوىٰهُم جَهَنَّمُ ۖ وَبِئسَ المَصيرُ

Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.

Bersikap keraslah ke atas mereka sebab balasan mereka adalah neraka jahannam kalau mereka tidak berubah juga. Takkan kita tidak kasihan mereka masuk neraka? Kalimah مَأوىٰ adalah tempat yang sepatutnya kita rasa aman, tetapi Allah ﷻ perli kerana neraka bukanlah tempat yang aman. Oleh kerana tempat mereka adalah neraka maka jangan beri mereka hidup senang sebagai orang kafir di bumi Allah ﷻ ini.

Ingatkan kepada mereka yang mereka akan ke neraka kalau mereka tidak ubah sikap mereka dan neraka itu adalah tempat tinggal yang paling buruk. Malah Allah ﷻ kata tempat itu sebagai مَأوىٰ kerana mereka akan kekal di dalamnya. Ini sepatutnya amat menakutkan mereka kerana kalau setakat masuk sahaja, ada kemungkinan boleh keluar, bukan? Akan tetapi bila dikatakan مَأوىٰ maka ia memberi isyarat yang mereka akan kekal di dalamnya sampai bila-bila.

Begitu juga kalimah المَصيرُ digunakan untuk mengatakan mereka akan kekal kerana المَصيرُ adalah kampung asal. Kadangkala kita merantau ke merata-rata tempat tetapi kampung asal adalah tempat yang kita akan pulang akhirnya. Mereka itu akan pulang dan kekal di ‘kampung asal’ mereka iaitu di neraka.


 

Tawbah Ayat 74: Sekarang Allah ﷻ jelaskan kenapa perlu perangi golongan Munafik itu. Allah ﷻ sebutkan kesalahan-kesalahan yang mereka telah lakukan.

يَحلِفونَ بِاللَّهِ ما قالوا وَلَقَد قالوا كَلِمَةَ الكُفرِ وَكَفَروا بَعدَ إِسلٰمِهِم وَهَمّوا بِما لَم يَنالوا ۚ وَما نَقَموا إِلّا أَن أَغنٰهُمُ اللَّهُ وَرَسولُهُ مِن فَضلِهِ ۚ فَإِن يَتوبوا يَكُ خَيرًا لَّهُم ۖ وَإِن يَتَوَلَّوا يُعَذِّبهُمُ اللَّهُ عَذابًا أَليمًا فِي الدُّنيا وَالآخِرَةِ ۚ وَما لَهُم فِي الأَرضِ مِن وَلِيٍّ وَلا نَصيرٍ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

They swear by Allāh that they did not say [anything against the Prophet ()] while they had said the word of disbelief and disbelieved after their [pretense of] Islām and planned that which they were not to attain.¹ And they were not resentful except [for the fact] that Allāh and His Messenger had enriched them of His bounty.² So if they repent, it is better for them; but if they turn away, Allāh will punish them with a painful punishment in this world and the Hereafter. And there will not be for them on earth any protector or helper.

  • i.e., the murder of Prophet Muḥammad ().
  • i.e., for no reason. On the contrary, they should have been grateful.

(MALAY)

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahawa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali kerana Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan kurnia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, nescaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.

 

يَحلِفونَ بِاللَّهِ ما قالوا

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahawa mereka tidak mengatakan

Puak munafikin itu sanggup bersumpah dengan nama Allah ﷻ yang mereka tidak kata pun yang mereka ada buat perancangan untuk membunuh Nabi ﷺ. Maka ini adalah sifat golongan Munafik itu iaitu suka bersumpah kerana kalimah يَحلِفونَ di dalam bentuk fi’il mudhari’ yang membawa maksud mereka selalu melakukannya.

Mereka terpaksa menggunakan sumpah kerana mereka sendiri sedar yang orang susah untuk percaya kepada mereka. Maka mereka terpaksa menguatkan persaksian mereka dengan sumpah. Sedangkan orang Mukmin tidak perlu melakukannya kerana kita sentiasa berkata yang benar. Maka jangan suka bersumpah dalam kata-kata kita kerana itu adalah perbuatan buruk yang menjadi kebiasaan puak Munafik.

Ayat ini merujuk kepada perbincangan rahsia di antara mereka. Apabila ditanya tentangnya, mereka bersumpah mereka tidak melakukannya. Ada juga asbabun nuzul lain yang diriwayat tentang ayat ini.

Pada suatu hari seorang sahabat yang bernama Umair bin Sa’d رضي الله عنه mendengar seorang munafik bernama Jullas bin Suwaid bin Shamit, sedang berbincang-bincang di rumahnya, dengan berkata, “Seandainya laki-laki ini memang benar, tentulah kita ini lebih jelek daripada keldai-keldai!” Yang dimaksudkan dengan laki-laki di sini ialah Rasulullah ﷺ.

Beliau pun segera menemui Jullas seraya berkata, “Demi Allah, hai Jullas! Engkau adalah orang yang paling kucintai, dan yang paling banyak berjasa kepadaku, dan yang paling tidak kusukai akan ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan. Engkau telah melontarkan ucapan, seandainya ucapan itu kusebarkan dan sumbernya daripadamu, nescaya akan menyakitkan hatimu. Tetapi seandainya kubiarkan, tentulah agamaku akan tercemar. Padahal hak agama itu lebih utama ditunaikan. Daripada itu aku akan menyampaikan apa yang kudengar kepada Rasulullah!”

Setelah mendapat laporan daripada Umair رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ mengirimkan orang mencari Jullas. Ketika dihadapkan kepada Rasulullah ﷺ, Jullas mengingkari ucapannya. Bahkan, dia mengangkat sumpah palsu atas nama Allah ﷻ. Maka turunlah ayat ini menyatakan apa yang benar.

 

وَلَقَد قالوا كَلِمَةَ الكُفرِ

Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, 

Allah ﷻ beritahu yang mereka memang telah membuat perancangan jahat itu. Itulah yang dimaksudkan dengan ‘kalimah kufur’ itu. Kalau zaman sekarang, ‘kalimat kufur’ boleh membawa maksud lain.

Mereka juga selalu mengatakan kalimah-kalimah kufur yang kalau disebut boleh menyebabkan jatuh kufur. Namun Allah ﷻ tidak sebut di sini kerana Allah ﷻ tidak mahu ia masuk ke dalam Al-Qur’an dan dibaca-baca sebagai ibadah pula. Sebagai contoh, mereka selalu mengutuk dan menghina Rasulullah ﷺ adalah perbuatan kufur.

Maka ini mengajar kita supaya berhati-hati dengan perkataan yang keluar daripada mulut kita. Contohnya kalau kita merendah-rendahkan Hukum Hudud dengan mengatakan ia tidak patut, tidak sesuai di zaman sekarang, ia adalah hukum kuno dan kolot, maka ini adalah kalimah kufur kerana menghina hukum Allah ﷻ. Atau kalau kita hina perbuatan Sunnah yang dilakukan oleh manusia (seperti simpan janggut) kerana ia menghina Rasulullah ﷺ.

 

وَكَفَروا بَعدَ إِسلٰمِهِم

dan telah menjadi kafir sesudah Islam

Mereka telah zahirkan kufur setelah mereka zahirkan Islam. Bukannya mereka menjadi kufur selepas keluar Islam kerana munafik zaman Nabi ﷺ itu memang tidak pernah masuk Islam pun. Oleh itu, bukanlah mereka murtad, namun sebenarnya mereka tidak pernah menjadi Muslim pun kerana untuk menjadi murtad, kena masuk Islam dulu.

Dengan perlakuan mereka yang jelas menentang Islam, mereka sudah zahirkan apakah isi hati mereka yang sebenarnya.

Kita kena faham yang ada dua jenis munafik. Ada munafik yang hanya dia tahu dia munafik – dia zahirkan dia Muslim di mata manusia. Akan tetapi fahamannya kufur kerana dia tidak percaya dengan Islam.

Satu lagi adalah jenis munafik yang tidak tahu. Orang yang munafik itu pun tidak tahu yang dia itu ada sifat munafik. Dia sangka dia sudah seorang Muslim tetapi sebenarnya pada mata Allah ﷻ dia seorang munafik. Inilah jenis munafik yang ditakuti oleh para sahabat seperti Sayyidina Umar رضي الله عنه. Beliau amat risau kalau-kalau beliau ada sifat nifak itu kerana beliau sendiri pun tidak pasti sama ada beliau termasuk orang yang munafik pada mata Allah ﷻ .

Sedangkan Sayyidina Umar رضي الله عنه yang jauh lebih tinggi imannya daripada kita pun dan sudah dijamin syurga pun sentiasa takut bergelar munafik di mata Allah ﷻ, maka apatah lagi kita ini? Kita pun mestilah lebih lagi takut dalam perkara ini kerana perkara ini amat bahaya. Kena jaga hati kita dan periksa sama ada kita ada sifat-sifat munafik. Sebab itu Allah ‎ﷻ banyak sebut sifat-sifat munafik supaya kita boleh periksa diri kita.

Namun kita kena tahulah yang sifat munafik ini adalah rahsia hati. Janganlah kita memandai menuduh sesiapa pun sebagai munafik hanya kerana orang itu ada sifat-sifat munafik pula. Siapa kita untuk tahu orang itu munafik? Maka yang lebih utama adalah kita belajar sifat-sifat itu untuk periksa diri kita, bukannya untuk dijadikan senjata untuk menuduh dan melabel orang lain. Kemudian kita kena tahu jikalau sifat itu ada pada orang lain supaya kita boleh berhati-hati dengan dia.

Nabi Muhammad ﷺ pun tidak tahu siapa munafik melainkan diberitahu dengan wahyu. Kalau ada yang kata dia tahu kemunafikan orang lain, adakah dia lebih hebat daripada Rasulullah ﷺ sendiri? Adakah kamu dapat wahyu juga seperti Rasulullah ﷺ? Malangnya ramai yang menggunakan tuduhan munafik ini sebagai senjata. Kalau ada yang dia tidak suka, maka dia tuduh orang itu munafik. Ini amat salah sekali.

Kita yang sudah belajar ilmu agama ini kena berhati-hati dalam perkara ini. Tambah pula kalau kita sudah belajar tafsir Al-Qur’an, janganlah kita menuduh orang lain sebagai munafik pula. Kita sepatutnya tahu yang sifat munafik itu adalah rahsia Allah ﷻ. Kalau pun kita nampak orang itu ada sifat-sifat munafik, tentu kita tidak pasti lagi sama ada dia munafik atau tidak. Paling kuat kita boleh kata: dia ada sifat munafik.

 

وَهَمّوا بِما لَم يَنالوا

dan mengingini sangat apa yang mereka tidak dapat mencapainya, 

Ulama’ memasukkan Asbabun Nuzul ayat ini, iaitu golongan munafik itu hendak membunuh Rasulullah ﷺ. Semasa dalam perjalanan balik dari Tabuk, mereka telah membuat keputusan untuk membunuh Nabi ﷺ. Mereka tahu yang semasa pulang dari Tabuk, mereka akan melalui lembah yang sempit yang hanya boleh dilalui oleh seorang sahaja pada satu-satu masa. Maka mereka nampak itu peluang untuk membunuh Nabi ﷺ waktu itu kerana pengiring Nabi ﷺ akan hanya ada di hadapan dan belakang baginda sahaja.

Imam Ahmad رحمه الله mengatakan:

عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ قَالَ: لَمَّا أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من غَزْوَةِ تَبُوكَ، أَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ الْعَقَبَةَ فَلَا يَأْخُذْهَا أَحَدٌ. فَبَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُودُهُ حُذَيْفَةُ وَيَسُوقُهُ عَمَّارٌ، إِذْ أَقْبَلَ رَهْطٌ مُتَلَثِّمُونَ عَلَى الرَّوَاحِلِ فَغَشَوْا عَمَّارًا وَهُوَ يَسُوقُ بِرَسُولِ اللَّهِ، وَأَقْبَلَ عَمَّارٌ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَضْرِبُ وُجُوهَ الرَّوَاحِلِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحُذَيْفَةَ: “قَدْ، قَدْ” حَتَّى هَبَطَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، [فَلَمَّا هَبَطَ] نَزَلَ وَرَجَعَ عَمَّارٌ، فَقَالَ: “يَا عَمَّارُ، هَلْ عَرَفْتَ الْقَوْمَ؟ ” فَقَالَ: قَدْ عَرَفْتُ عَامَّةَ الرَّوَاحِلِ، وَالْقَوْمُ مُتَلَثِّمُونَ. قَالَ: “هَلْ تَدْرِي مَا أَرَادُوا؟ ” قَالَ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: “أَرَادُوا أَنْ يُنْفِرُوا بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَطْرَحُوهُ”. قَالَ: فَسَارَّ عَمَّارٌ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: نَشَدْتُكَ بِاللَّهِ كَمْ تَعْلَمُ كَانَ أَصْحَابُ الْعَقَبَةِ؟ قَالَ: أَرْبَعَةَ عَشَرَ. فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ مِنْهُمْ فَقَدْ كَانُوا خَمْسَةَ عَشَرَ. قَالَ: فَعَذَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ ثَلَاثَةً قَالُوا: وَاللَّهِ مَا سَمِعْنَا مُنَادِيَ رَسُولِ اللَّهِ، وَمَا عَلِمْنَا مَا أَرَادَ الْقَوْمُ. فَقَالَ عَمَّارٌ: أَشْهَدُ أَنَّ الِاثْنَيْ عَشَرَ الْبَاقِينَ حَرْبٌ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
Daripada Abu Tufail yang menceritakan bahawa ketika Rasulullah ﷺ ketika kembali dari medan Tabuk, baginda memerintahkan kepada juru penyeru untuk menyerukan, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ akan mengambil jalan ‘Aqabah, maka janganlah ada seseorang yang menempuhnya.” Ketika unta kenderaan Rasulullah ﷺ dituntun oleh Huzaifah رضي الله عنه dan digiring oleh Ammar رضي الله عنه, tiba-tiba datanglah segolongan orang yang mengenderai unta, semuanya memakai cadar. Mereka menutupi Ammar رضي الله عنه yang sedang menggiring unta kenderaan Rasulullah ﷺ. Maka Ammar رضي الله عنه memukul bahagian depan pelana unta mereka, sedangkan Rasulullah ﷺ bersabda kepada Huzaifah رضي الله عنه, “Hentikanlah, hentikanlah.” Setelah unta kenderaan Rasulullah ﷺ menunduk, maka Rasulullah ﷺ turun daripada unta kenderaannya, dan saat itu Ammar رضي الله عنه telah kembali. Rasulullah ﷺ bersabda, “Hai Ammar, tahukah siapakah kaum itu tadi?” Ammar رضي الله عنه menjawab, “Sesungguhnya saya mengenali pelana mereka, tetapi orang-orangnya kami tidak tahu kerana memakai cadar.” Rasulullah ﷺ bertanya. ”Tahukah kamu, apakah yang mereka maksudkan?” Ammar رضي الله عنه menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Mereka bermaksud mengasingkan unta kenderaan Rasulullah ﷺ, lalu menjatuhkannya dari atas unta kenderaannya.” Lalu Ammar رضي الله عنه bertanya kepada salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ. Untuk itu dia berkata, “Aku memohon kepadamu dengan nama Allah. Menurut pengetahuanmu ada berapakah jumlah orang-orang yang di ‘Aqabah itu?” Orang itu menjawab, “Ada empat belas orang lelaki.” Ammar رضي الله عنه berkata, “Jika engkau termasuk seseorang daripada mereka, bererti jumlah mereka ada lima belas orang.” Rasulullah ﷺ mengecualikan tiga orang di antara mereka. Ketiga orang itu berkata, “Demi Allah, kami tidak mendengar juru seru Rasulullah ﷺ, dan kami tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh kaum itu.” Maka Ammar رضي الله عنه berkata, “Saya bersaksi bahawa kedua belas orang itu mengobarkan peperangan terhadap Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan di dunia dan pada hari semua saksi bangkit tegak (yakni hari kiamat).
(Musnad Ahmad (23792))
Sanadnya kuat menurut syarat Imam Muslim

Kedudukan perkara yang sebenar telah diberitahu kepada Rasulullah ﷺ dengan cara wahyu. Nabi ﷺ dapat tahu siapakah mereka yang telah cuba membunuh baginda. Oleh itu Nabi ﷺ telah memanggil mereka bertanyakan perkara itu dan mereka bersumpah mengatakan mereka tidak membuat rancangan untuk membunuh baginda.

Nabi Muhammad ﷺ mendapat berita itu melalui wahyu. Maka baginda tahu siapakah yang membuat perancangan itu. Baginda hanya memberitahu Huzaifah ibn Yaman رضي الله عنه sahaja tentang siapakah orang itu. Huzaifah رضي الله عنه mesti menjaga rahsia itu sampai bila-bila. Kerana itulah maka Huzaifah رضي الله عنه digelar sebagai pemegang rahsia yang tidak boleh diketahui oleh seorang pun, kerana beliau sahaja tahu berkenaan ciri-ciri dan diri orang-orang munafik yang terlibat dalam peristiwa itu. Rasulullah ﷺ telah memberitahukan kepadanya mengenai mereka, tidak kepada selainnya.

Imam Muslim رحمه الله telah meriwayatkan bahawa Nabi ﷺ pernah bersabda:

“فِي أَصْحَابِي اثْنَا عَشَرَ مُنَافِقًا، لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدُونَ رِيحَهَا حَتَّى يَلِجَ [الْجَمَلُ] فِي سَمِّ الْخِيَاطِ: ثَمَانِيَةٌ تَكْفِيكَهُمُ الدُّبَيْلة: سِرَاجٌ مِنْ نَارٍ يَظْهَرُ بَيْنَ أكتافه حَتَّى يَنْجُمَ مِنْ صُدُورِهِمْ”
Di antara sahabatku terdapat dua belas orang munafik, mereka tidak dapat masuk syurga dan tidak pula dapat mencium baunya hingga unta dapat masuk ke dalam lubang jarum (yakni mustahil mereka masuk syurga). Lapan orang di antaranya telah cukup dibalas dengan Dahilah, iaitu pelita api yang muncul di antara kedua belikat mereka, lalu menembus dada mereka.
(Sahih Muslim (2779))

Maka apa yang mereka telah rancangkan itu tidak mampu mereka capai. Allah ﷻ menggagalkan rancangan mereka. Kemudian mereka telah cuba melemahkan Islam dari dalam pula. Antaranya mereka menuduh A’isyah رضي الله عنها telah berzina. Dengan cara itu mereka hendak menjatuhkan maruah Rasulullah ﷺ dan secara tidak langsung, Islam menjadi lemah.

Itu adalah kisah pada zaman Nabi Muhammad ﷺ. Kalau zaman lain seperti sekarang, maka tafsir mestilah disesuaikan dengan zaman. Ada perkara yang diinginkan sangat oleh puak munafik tetapi mereka tidak akan dapat capai. Mungkin mereka mahu menjatuhkan Islam dari dalam juga. Bukankah ada yang melakukan berbagai-bagai kritikan terhadap syariat Islam seperti mengatakan kedudukan wanita yang kononnya ditindas, Hukum Hudud yang mereka lama dianggap kuno, dan sebagainya?

 

وَما نَقَموا إِلّا أَن أَغنٰهُمُ اللَّهُ وَرَسولُهُ مِن فَضلِهِ

dan mereka tidak mencela, kecuali kerana Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan kurnia-Nya kepada mereka.

Mereka sebenarnya tidak mencela orang Islam dan Rasulullah ﷺ, melainkan kerana Allah ﷻ dan Rasul telah melimpahkan kesenangan kepada mereka. Itu bukan kerana usaha atau kerja mereka tetapi مِن فَضلِهِ iaitu daripada kurnia Allah ﷻ. Mereka cela Islam kerana Allah ﷻ beri kemewahan hidup kepada mereka dan Nabi ﷺ juga telah beri kemudahan kepada mereka. Hidup mereka senang dan kedudukan mereka tinggi. Apa yang mereka minta kepada Nabi ﷺ telah diberi.

Kerana itulah mereka menjadi sombong untuk menerima kebenaran. Mereka itu tidak tahu diuntung kerana sebelumnya ini mereka adalah orang-orang miskin dan papa. Amat menghairankan sekali, mereka boleh pula melecehkan orang yang menjadi penyebab keluarnya mereka daripada kegelapan menuju cahaya dan penyebab kekayaan mereka setelah sebelumnya mereka miskin dan hina.

Namun kemudiannya Allah ﷻ dan Rasul ﷺ telah memberikan mereka harta ghanimah yang menjadikan mereka kaya. Namun mereka memperlecehkan pula baginda. Padahal yang seharusnya mereka lakukan adalah menghormatinya, memuliakannya, dan beriman kepadanya, sehingga terkumpul faktor pendorong kekuatan (beragama) dan keluhuran kemanusiaan. Hanya duit mereka hendak, tetapi taat tidak mahu pula. Maka Allah ﷻ kutuk mereka di dalam ayat ini kerana mereka telah menjadi sombong setelah hidup senang.

 

فَإِن يَتوبوا يَكُ خَيرًا لَّهُم

Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka,

Walaupun telah banyak kesalahan yang mereka telah lakukan, tetapi kalau sekarang ini pun mereka sanggup bertaubat, itu lebih baik bagi mereka. Taubat mereka masih boleh diterima kerana masih ada harapan lagi. Allah ﷻ masih lagi menjemput mereka untuk mengubah perangai mereka itu.

 

وَإِن يَتَوَلَّوا يُعَذِّبهُمُ اللَّهُ عَذابًا أَليمًا فِي الدُّنيا وَالآخِرَةِ

dan jika mereka berpaling, nescaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; 

Namun ingat, sekiranya masih tidak mahu bertaubat juga setelah diberikan peluang, mereka akan dikenakan dengan azab yang pedih di dunia dan juga di akhirat. Di dunia lagi sudah boleh dikenakan azab dan di akhirat pasti lebih lagi. Di dunia lagi fikiran mereka akan berserabut tidak tenang, rasa dengki, rasa tidak puas hati, semua tidak kena pada mereka. Nanti di Akhirat nanti azab untuk mereka lebih dahsyat.

 

وَما لَهُم فِي الأَرضِ مِن وَلِيٍّ وَلا نَصيرٍ

dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai sebarang pelindung dan tidak (pula) penolong di dunia.

Kalau Allah ‎ﷻ telah tetapkan yang mereka akan dikenakan dengan azab, sama ada di dunia atau di akhirat, tidak akan ada yang dapat menolong. Tidak ada وَلِيٍّ maksudnya tidak ada sesiapa pun yang boleh menghalang azab itu.

Maksud نَصيرٍ pula, bila sudah dikenakan dengan azab itu, tidak ada sesiapa pun yang boleh membantu untuk menghentikan azab itu atau untuk kurangkan langsung. Kalau di dunia ini tidak ada penolong, di akhirat tentulah juga tidak ada.

 

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya

Kemaskini: 9 Julai 2023

Ringkasan Surah Tawbah


Rujukan:

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Ustaz Abdul Muien

Maariful Qur’an

Ustaz Solahuddin