Tafsir Surah Saffat Ayat 169 – 182 (Kemenangan untuk kebenaran)

Ayat 169: Sambung kata-kata Musyrikin Mekah yang kalaulah mereka dapat wahyu dari Allah.

لَكُنّا عِبادَ اللهِ المُخلَصينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

We would have been the chosen servants of Allāh.”

(MELAYU)

benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)”.

 

Mereka kata jikalau mereka dapat wahyu dari Allah, maka mereka akan menjadi orang yang beriman. Mereka kata yang mereka akan taat dan mereka akan betul-betul selamat.

Ini adalah kata-kata mereka sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul. Kononnya mereka kata mereka akan ikut wahyu itu. Kata-kata mereka ini juga ada disebut dalam Fatir:42

وَأَقسَموا بِاللهِ جَهدَ أَيمٰنِهِم لَئِن جاءَهُم نَذيرٌ لَّيَكونُنَّ أَهدىٰ مِن إِحدَى الأُمَمِ ۖ فَلَمّا جاءَهُم نَذيرٌ مّا زادَهُم إِلّا نُفورًا

Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran),


 

Ayat 170: Tapi apa yang terjadi apabila Nabi Muhammad telah diangkat dan benar-benar wahyu disampaikan kepada mereka?

فَكَفَروا بِهِ ۖ فَسَوفَ يَعلَمونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

But they disbelieved in it,¹ so they are going to know.

  • i.e., in their own message, the Qur’ān.

(MELAYU)

Tetapi mereka mengingkarinya (Al Quran); maka kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu).

 

Kata-kata mereka itu kosong sahaja kerana apabila Allah lantik Nabi Muhammad, mereka tolak baginda dan wahyu yang baginda bawa. Maknanya, kata-kata mereka sebelum itu yang hendak taat kepada wahyu itu adalah bohong sahaja.


 

Ayat 171: Ayat tabshir. Allah nak pujuk Nabi Muhammad yang telah ditolak dan ditentang oleh umat baginda sendiri.

وَلَقَد سَبَقَت كَلِمَتُنا لِعِبادِنَا المُرسَلينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And Our word [i.e., decree] has already preceded for Our servants, the messengers,

(MELAYU)

Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,

 

Allah telah meletakkan takdir dari Lauh Mahfuz lagi kepada para rasul. Apakah takdir itu?


 

Ayat 172: 

إِنَّهُم لَهُمُ المَنصورونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

[That] indeed, they would be those given victory

(MELAYU)

(yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan.

 

Allah beritahu yang pasti para Rasul akan berjaya mengatasi kaum mereka. Ini seperti yang disebut dalam ayat yang lain:

{كَتَبَ اللهُ لأغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ}

Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Al-Mujadilah: 21)

Ayat ini memberitahu kita satu perbezaan di antara ‘nabi’ dan juga ‘Rasul’. Nabi ada juga yang dibunuh tetapi para Rasul akan sentiasa mendapat pertolongan dan perlindungan daripada Allah. Sebagai contoh, Nabi Yahya telah dibunuh. Dan ramai juga Nabi dari kalangan Bani Israil yang dibunuh oleh bangsa mereka sendiri.

Jadi, janji Allah dalam ayat ini adalah kepara ‘Rasul’, dan bukan kepada Nabi.


 

Ayat 173:

وَإِنَّ جُندَنا لَهُمُ الغٰلِبونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And [that] indeed, Our soldiers [i.e., the believers] will be those who overcome.¹

  • If not in this world, then definitely in the Hereafter.

(MELAYU)

Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang,

 

Tentera Allah yang dimaksudkan ada banyak, termasuk para malaikat, anbiya’ dan pengikut mereka.

Walaupun kadangkala para pengikut kebenaran dalam keadaan lemah, tapi Allah hendak memberitahu yang akhirnya mereka akan menang. Kebenaran yang mereka sampaikan itu akhirnya akan tertegak. Mungkin bukan pada hayat mereka, tapi pada hayat anak-anak mereka.

Dan kalau mereka tidak menang di dunia, mereka tetap akan menang di akhirat kelak. Ini seperti yang Allah sebut di tempat yang lain:

{إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ}
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat) (Al-Mu-min: 51)

 

Ayat 174: Ayat zajrun dan takhwif duniawi.

فَتَوَلَّ عَنهُم حَتّىٰ حينٍ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

So, [O Muḥammad], leave them for a time.

(MELAYU)

Maka berpalinglah kamu (Muhammad) dari mereka sampai suatu ketika.

 

Maka Allah memberitahu kepada Rasulullah dan para sahabat supaya jangan risau dengan ganggunan dan kezaliman golongan musyrikin Mekah itu. Waktu itu mereka memang dalam keadaan lemah dan pemuka Quraish yang berkuasa. Maka Allah memberitahu baginda supaya jangan bersedih dengan penolakan mereka. Dalam ayat sebelum ini telah diberitahu yang para Rasul akan dibantu.

Artinya, bersabarlah kamu dalam menghadapi gangguan mereka yang menyakitkan terhadap dirimu, tunggulah sampai batas waktu yang ditetapkan; kerana sesungguhnya Kami akan menjadikan bagimu kesudahan yang baik, pertolongan dari Kami dan kemenangan.


 

Ayat 175:

وَأَبصِرهُم فَسَوفَ يُبصِرونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And see [what will befall] them, for they are going to see.

(MELAYU)

Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat (azab itu).

 

Kalau mereka tetap degil juga, maka nanti tengoklah apa yang akan terjadi kepada mereka. Kamu akan lihat mereka dimasukkan ke dalam neraka dan mereka sendiri akan melihat suasana dalam neraka itu! Ungkapan ini mengandung ancaman dan peringatan terhadap mereka.

Ketika ayat ini diturunkan, umat Islam waktu itu amat lemah di Mekah. Tapi dalam masa lebih kurang 15 tahun, penduduk Arab dapat melihat bagaimana Nabi Muhammad bersama dengan para sahabat telah dapat memasuki Mekah dan menakluki Mekah.

Dan setelah Islam semakin kuat, golongan Arab yang dipandang sepi sahaja oleh penduduk dunia yang lain telah dapat menakluki sebahagian besar dunia ini apabila mereka berpegang kepada wahyu Allah. Semua ini tidak dapat dinafikan kerana ianya sudah ada dalam lipatan sejarah.


 

Ayat 176:

أَفَبِعَذابِنا يَستَعجِلونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Then for Our punishment are they impatient?

(MELAYU)

Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan?

 

Azab yang dijanjikan dalam neraka itu amatlah teruk sekali. Tapi ada orang kafir yang menentang ajaran tauhid telah mengejek orang yang berdakwah kepada mereka dengan berkata: “kalau benar kami akan masuk neraka, maka berilah azab itu sekarang! Mana dia azab itu?”

Maka Allah menegur mereka: adakah patut mereka minta azab disegerakan? Sepatutnya mereka minta diselamatkan dari azab tapi mereka minta disegerakan. Orang jenis apa itu?


 

Ayat 177: Oleh kerana mereka minta azab, maka Allah beri azab kepada mereka.

فَإِذا نَزَلَ بِساحَتِهِم فَساءَ صَباحُ المُنذَرينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

But when it descends in their territory, then evil is the morning of those who were warned.

(MELAYU)

Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu.

 

Ini adalah apabila azab turun di halaman rumah mereka. Azab yang mereka minta-minta dahulu, sekarang sudah sampai. Dulu telah diancamkan kepada mereka, tapi mereka tidak percaya. Maka, rasalah sekarang.


 

Ayat 178:

وَتَوَلَّ عَنهُم حَتّىٰ حينٍ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And leave them for a time.

(MELAYU)

Dan berpalinglah kamu dari mereka hingga suatu ketika.

 

Ini kali kedua Allah beri nasihat kepada Nabi untuk tidak pedulikan mereka yang menentang. Allah nasihat supaya jangan peduli apa yang mereka kata dan jangan bersedih dengan keadaan mereka itu.


 

Ayat 179:

وَأَبصِر فَسَوفَ يُبصِرونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And see, for they are going to see.

(MELAYU)

Dan lihatlah, maka kelak mereka juga akan melihat.

 

Kamu tengoklah nanti apa yang akan terjadi kepada mereka dan mereka juga akan melihat.


 

Ayat 180: Sekarang kita masuk ke dalam kesimpulan surah.

سُبحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمّا يَصِفونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Exalted is your Lord, the Lord of might, above what they describe.

(MELAYU)

Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan.

 

Allah maha suci dari apa yang mereka katakan itu. Apa yang mereka sifatkan tentang Allah tidak benar sama sekali.

Allah tidak memerlukan pasangan, tidak memerlukan anak dan tidak memerlukan perantaraan dalam berdoa. Kerana Allah Maha Perkasa. Allah bukan seperti manusia yang memerlukan semua itu.


 

Ayat 181:

وَسَلٰمٌ عَلَى المُرسَلينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And peace upon the messengers.

(MELAYU)

Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul.

 

Sekali lagi Allah memberi kesejahteraan kepada para Rasul yang telah menjalankan tugas mereka.


 

Ayat 182: 

وَالحَمدُ ِللهِ رَبِّ العٰلَمينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And praise to Allāh, Lord of the worlds.

(MELAYU)

Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.

 

Dan akhir sekali Allah memuji DiriNya sendiri. Kerana Allah memang layak dipuij. Segala pujian yang khas adalah milik Allah.

Allahu a’lam. Sekian tafsir Surah Saffat ini. Sambung ke surah yang seterusnya, Surah Sad.

Tarikh: 14 Februari 2018


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Tafhim-ul-Qur’an, Abul A’la Maududi

Tafsir Surah Saffat Ayat 154 – 168 (Salah faham tentang malaikat)

Ayat 154:

ما لَكُم كَيفَ تَحكُمونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

What is

with you? How do you make judgement?

(MELAYU)

Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan?

 

Kalimah ما لَكُم bermaksud lebih kurang begini: “Apa yang tidak kena dengan kamu ini?”

Ini sambungan tempelak Allah kepada pemahaman salah musyrikin Mekah yang sampai mengatakan para malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah. Allah kutuk mereka: Bagaimana mereka boleh sampai mencapai kepada pemahaman yang amat jauh dari kebenaran ini? Bagaimana boleh jadi teruk sampai begitu sekali?


 

Ayat 155:

أَفَلا تَذَكَّرونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Then will you not be reminded?

(MELAYU)

Maka apakah kamu tidak memikirkan?

 

Kenapa kamu tidak menggunakan intelek kamu untuk berfikir? Tidakkah pakai dalil aqli? Tidakkah pakai otak dan akal yang Allah telah berikan? Kenapa sampai boleh tertipu dengan hujah yang tidak ada bukti?


 

Ayat 156:

أَم لَكُم سُلطٰنٌ مُّبينٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Or do you have a clear authority?

(MELAYU)

Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?

 

Kalau ‘dalil aqli’ kamu tidak mahu gunakan, maka adakah pada kamu ‘dalil naqli’? Adakah wahyu dalam bentuk kitab yang kamu ada yang mengatakan memang para malaikat itu anak-anak perempuan Allah?

Tentulah mereka tidak ada kerana Arab Mekah tidak ada kitab wahyu di tangan mereka. Kalau ada Suhuf Nabi Ibrahim pun, ianya sudah terlalu lama dan tidak ada di tangan mereka lagi.


 

Ayat 157:

فَأتوا بِكِتٰبِكُم إِن كُنتُم صٰدِقينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Then produce your scripture, if you should be truthful.

(MELAYU)

Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar.

 

Allah cabar mereka, kalau ada kitab wahyu, maka bawalah kitab kalau mereka ada. Tentu sekali mereka tidak ada kitab itu.


 

Ayat 158:

وَجَعَلوا بَينَهُ وَبَينَ الجِنَّةِ نَسَبًا ۚ وَلَقَد عَلِمَتِ الجِنَّةُ إِنَّهُم لَمُحضَرونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And they have made [i.e., claimed] between Him and the jinn a lineage, but the jinn have already known that they [who made such claims] will be brought [to punishment].

(MELAYU)

Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahawa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka),

 

Ada juga golongan musyrikin Mekah yang kata bahawa jin itu juga adalah anak-anak Allah. Bukan semua tapi ada sesetengah kabilah Arab Mekah itu kata Allah berkahwin dengan anak perempuan jin dan lahir malaikat.

Mujahid mengatakan bahawa orang-orang musyrik menganggap malaikat-malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah Swt. Maka Abu Bakar r.a. bertanya kepada mereka, “Lalu siapakah ibunya?” Mereka (orang-orang musyrik) menjawab, “Anak-anak perempuan jin yang terkemuka.” Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Qatadah dan Ibnu Zaid.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. (Ash-Shaffat: 158) Musuh-musuh Allah mengatakan bahawa Dia dan iblis adalah dua bersaudara, Mahasuci lagi Mahatinggi Allah dari hal tersebut dengan ketinggian yang setinggi-tingginya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ini tidak benar, dan nanti di akhirat kelak, semua jin kafir itu tahu yang mereka akan dimasukkan ke dalam azab Allah.


 

Ayat 159:

سُبحٰنَ اللهِ عَمّا يَصِفونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Exalted is Allāh above what they describe,

(MELAYU)

Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan,

 

Allah maha suci dari apa yang mereka perkatakan itu. Mereka hanya berbohong sahaja dan memperkatakan perkara yang amat jauh dari kebenaran.


 

Ayat 160:

إِلّا عِبادَ اللهِ المُخلَصينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Except the chosen servants of Allāh [who do not share in that sin].

(MELAYU)

Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari (dosa).

 

Yang diselamatkan dari tertipu ini adalah hamba Allah yang ikhlas sahaja.


 

Ayat 161:

فَإِنَّكُم وَما تَعبُدونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

So indeed, you [disbelievers] and whatever you worship,

(MELAYU)

Maka sesungguhnya kamu dan apa-apa yang kamu sembah itu,

 

Allah menegaskan yang mereka dan sembahan-sembahan selain Allah itu tidak akan memberi kesan.


 

Ayat 162:

ما أَنتُم عَلَيهِ بِفٰتِنينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

You cannot tempt [anyone] away from Him

(MELAYU)

Sekali-kali tidak dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah,

 

Yang dimaksudkan adalah Nabi Muhammad. Mereka tidak akan dapat sesatkan Nabi Muhammad. Mereka tidak boleh juga menjerumuskan sesiapa ke dalam kesesatan.


 

Ayat 163: Tapi bukan semua akan terselamat. Siapakah yang akan terkesan?

إِلّا مَن هُوَ صالِ الجَحيمِ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Except he who is to [enter and] burn in the Hellfire.¹

  • Due to his disbelief and evil deeds.

(MELAYU)

kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala.

 

Kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak akan dapat memasukkan sesiapa pun ke dalam neraka kecuali mereka yang memang telah ditetapkan akan masuk ke dalam neraka.

Siapa yang masuk ke dalam neraka sudah ada dalam taqdir Allah, mereka itu pasti akan masuk neraka.


 

Ayat 164: Allah menaqalkan kata-kata para malaikat.

وَما مِنّا إِلّا لَهُ مَقامٌ مَّعلومٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

[The angels say],¹ “There is not among us any except that he has a known position.²

  • Refuting what the disbelievers had said about them.
  • For worship. Or “an assigned task” to perform.

(MELAYU)

Tiada seorangpun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu,

 

Sekarang para malaikat yang beratur menunggu arahan Allah berkata.

Mereka tahu kedudukan mereka di dalam barisan Allah dan mereka sedang bersiap sedia. Mereka itu tentera Allah, bukannya anak-anak perempuan Allah.

Ketaatan mereka sepenuhnya kepada Allah taala dan mereka tidak boleh lebih dari itu. Jadi janganlah nak kata para malaikat itu boleh tolong manusia pula kalau diminta tolong kepada mereka, kerana mereka hanya taat kepada Allah sahaja.

Jadi, apabila ada yang kata mereka berkawan dengan malaikat dan malaikat tolong macam-macam, itu adalah kata-kata bohong sahaja. Samada yang bercakap itu berbohong, atau mereka sendiri kena tipu oleh syaitan.


 

Ayat 165:

وَإِنّا لَنَحنُ الصّافّونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And indeed, we are those who line up [for prayer].

(MELAYU)

dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah).

 

Para malaikat itu seperti tentera dalam barisan saf yang menunggu arahan dari Allah.


 

Ayat 166:

وَإِنّا لَنَحنُ المُسَبِّحونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And indeed, we are those who exalt Allāh.”

(MELAYU)

Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah).

 

Mereka kata mereka banyak melakukan Tasbih kepada Allah. Mereka sentiasa tolak kata-kata mereka yang melakukan syirik. Para malaikat itu kata: Allah tidak seperti yang dikatakan oleh golongan musyrik itu.


 

Ayat 167: Sekarang Allah menaqalkan pula kata-kata golongan musyrik.

وَإِن كانوا لَيَقولونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And indeed, they [i.e., the disbelievers] used to say,¹

  • Before the revelation of the Qur’ān.

(MELAYU)

Sesungguhnya mereka benar-benar akan berkata:

 

Allah memberitahu yang orang Mekah pernah berkata sebelum Nabi Muhammad dilantik menjadi Nabi. Apakah kata-kata mereka itu?


 

Ayat 168:

لَو أَنَّ عِندَنا ذِكرًا مِّنَ الأَوَّلينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

“If we had a message from [those of] the former peoples,

(MELAYU)

“Kalau sekiranya di sisi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu,

 

Orang-orang kafir Mekah itu telah pernah berkata yang jikalau mereka mendapat wahyu seperti orang-orang yang terdahulu. Ini adalah janji-janji kosong mereka sahaja. Mereka nak kata, kalau mereka dapat wahyu, tentu mereka akan beriman.

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya.

Tarikh: 14 Februari 2018


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Tafhim-ul-Qur’an, Abul A’la Maududi

Tafsir Surah Saffat Ayat 141 – 153 (Kisah Nabi Yunus)

Ayat 141:

فَساهَمَ فَكانَ مِنَ المُدحَضينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And he drew lots¹ and was among the losers.

  • To determine who would be cast overboard in order to save the other passengers. Having been overloaded, the ship was on the verge of sinking.

(MELAYU)

kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.

 

Kalimah ساهم maksudnya mengundi. Nabi Yunus a.s. telah menaiki kapal itu dan kapal itu hampir untuk tenggelam. Dalam ayat sebelum ini pun sudah disebut yang muatan kapal itu memang sudah penuh. Apabila di tengah lautan, maka air naik dari semua sisi, maka ketua kapal telah membuat keputusan untuk membuang barang muatan termasuk juga manusia. Kerana kapal itu tidak dapat menanggung kesemua muatan kapal.

Maka untuk memilih siapakah manusia yang patut dibuang maka mereka telah mengadakan pengundian. Dan Nabi Yunus ditakdirkan oleh Allah antara orang yang terpilih dalam undian itu dan baginda hendak dibuang dari kapal. Undian telah dibuat tiga kali, tapi ketiga-tiga kali itu nama Nabi Yunus telah naik. Maka tahulah baginda yang memang Allah yang menentukannya.


 

Ayat 142:

فَالتَقَمَهُ الحوتُ وَهُوَ مُليمٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Then the fish swallowed him, while he was blameworthy.¹

  • For having given up hope on his people prematurely and having left them without permission from Allāh.

(MELAYU)

Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.

 

Selepas baginda dibuang ke dalam laut, maka baginda telah ditelan dengan sekali telan oleh seokor ikan paus yang besar. Kisah ini masyhur dalam sejarah umat Islam.

Nabi Yunus merasa bersalah dan dipenuhi dengan perasaan dukacita kerana mendapat dugaan Allah itu. Baginda sedar yang baginda telah dikenakan dengan musibah itu.

Para ulama berselisih pendapat tentang berapa lama Nabi Yunus berada di dalam perut ikan besar itu. Suatu pendapat mengatakan tiga hari, ini menurut Qatadah. Ada yang menyebutkan tujuh hari, ini menurut Ja’far As-Sadiq r.a. Dan menurut pendapat lainnya empat puluh hari, ini menurut Abu Malik.

Mujahid pula telah meriwayatkan dari Asy-Sya’bi, bahawa Nabi Yunus ditelan oleh ikan besar di waktu pagi hari, dan dikeluarkan darinya pada petang hari. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui tentang lamanya dia berada di dalam perut ikan.

Mungkin timbul persoalan kenapa Allah menghukum Nabi Yunus sebegini? Adakah Allah benci dan marah kepada baginda? Kita kena sedar yang Nabi Yunus dihukum oleh Allah kerana Allah sayang kepada baginda. Sebagaimana kita dengan kawan kita: kita akan tegur mereka jikalau mereka ada melakukan kesalahan. Kita tegur bukan kerana kita benci tapi kerana kita sayang mereka dan kita tidak mahu mereka terus jauh daripada kita.

Tetapi kepada kawan yang kita tidak kisah kualiti persahabatan kita dengan mereka, samaada ada ataupun tidak, maka kita terus tinggalkan sahaja dan tidak hiraukan dia lagi. Oleh itu, apabila Allah tegur Nabi Yunus dengan memberikan azab kepada baginda, itu adalah teguran sayang Allah kepada baginda. Jangan kita salah sangka pula.

Baginda bersedih kerana baginda telah melakukan ijtihad yang tersilap. Maka tidak boleh kita kata baginda telah berdosa. Kerana para Nabi tidak berdosa kerana maksum. Maka paling kuat yang mereka telah lakukan adalah ijtihad yang kurang tepat sahaja.


 

Ayat 143:

فَلَولا أَنَّهُ كانَ مِنَ المُسَبِّحينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And had he not been of those who exalt Allāh,

(MELAYU)

Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,

 

Nabi Yunus adalah seorang kuat bertasbih. Walaupun baginda telah dikenakan dengan musibah dimasukkan ke dalam perut ikan, tetapi amalan tasbih baginda semasa di dalam perut ikan itu telah menyelamatkannya.

Tasbih di sini bermaksud dengan maksud ‘taubat’. Baginda sedar tentang kesilapan baginda dan baginda memohon ampun kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya. Doa baginda telah disebut dalam Anbiya:87

وَذَا النّونِ إِذ ذَهَبَ مُغاضِبًا فَظَنَّ أَن لَن نَقدِرَ عَلَيهِ فَنادىٰ فِي الظُّلُماتِ أَن لا إِلٰهَ إِلّا أَنتَ سُبحانَكَ إِنّي كُنتُ مِنَ الظّالِمينَ

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahawa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka dia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahawa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.

Maka ini adalah pengajaran daripada Allah sendiri bagaimana untuk menyelesaikan masalah kita semasa di dunia iaitu dengan melakukan banyak Tasbih. Kerana kalau kita telah melakukan kesalahan, maka Allah mungkin beri peringatan kepada kita dengan mengenakan musibah kepada kita. Maka kita kenalah minta ampun kepada Allah.

Menurut suatu pendapat lain sehubungan dengan makna ayat ini, bahawa sekiranya dia tidak pernah mengerjakan amal soleh di masa sukanya. Demikianlah menurut takwil yang dikemukakan oleh Ad-Dahhak ibnu Qais Abul Aliyah, Wahb ibhu Munabbih, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas disebutkan:
” تَعَرف إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ”
Kenalilah Allah di masa suka, niscaya Dia mengenalmu di masa duka(mu)

 

Ayat 144:

لَلَبِثَ في بَطنِهِ إِلىٰ يَومِ يُبعَثونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

He would have remained inside its belly until the Day they are resurrected.¹

  • Meaning that the belly of the fish would have become his grave.

(MELAYU)

niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.

 

Ini adalah sambungan dari ayat sebelum ini: kalaulah Nabi Yunus tidak berserah diri dan melakukan banyak tasbih dan bertaubat kepada Allah, tentulah baginda akan tetap ada di dalam ikan paus itu sampai ke hari Kiamat.

Kalaulah baginda tidak diselamatkan oleh Allah, maka Allah akan kekalkan baginda di dalam perut ikan itu sampai ke hari kiamat. Dan kalau Allah buat begitu, maka Allah akan kekalkan ikan itu tidak hancur supaya jasad Nabi Yunus akan dibangkitkan daripada perut ikan itu.

Maknanya, bukanlah ikan itu kekal sekarang. Ini penting kerana ada yang kata ikan paus itu masih hidup lagi. Ini tidak benar, kerana ikan itu akan dikekalkan kalau Nabi Yunus tetap dalam ikan paus itu sahaja. Kerana Nabi Yunus tidak ada lagi dalam tubuhnya, maka ikan itu pun tidak dikekalkan.

Ini mengajar kita bahawa bukanlah ikan itu kekal sampai ke hari kiamat kerana tidak ada makhluk yang akan hidup lama sebegitu. Kerana Allah tidak jadikan seperti yang disebut di dalam ayat ini kerana Nabi Yunus telah dikeluarkan dari perut ikan itu. Maka kena perbetulkan kembali fahaman salah itu.

Atau satu lagi fahaman yang lebih bagus: Nabi Yunus dan ikan itu akan mati dan Nabi Yunus akan terus terkubur dalam perut ikan itu sampai hari Kiamat. Maknanya, bukanlah kedua-dua ikan dan Nabi Yunus akan hidup sampai ke hari Kiamat, tapi kedua-duanya tetap akan mati seperti biasa.


 

Ayat 145:

۞ فَنَبَذنٰهُ بِالعَراءِ وَهُوَ سَقيمٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

But We threw him onto the open shore while he was ill.

(MELAYU)

Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit.

 

Maka Allah telah takdirkan Nabi Yunus dimuntahkan oleh ikan itu ke pantai yang kering. Maknanya tidak ada tumbuhan yang dapat memberi lindungan kepada baginda dan tidak ada makanan untuk baginda.

Dan waktu itu tentu Nabi Yunus di dalam keadaan yang amat sakit kerana baginda tidak dapat makanan di dalam ikan itu dan tubuh baginda telah dihakis dengan asid di dalam perut ikan. Maka kulit baginda sudah tidak ada dan tentulah baginda dalam kesakitan yang amat sangat.

Memang lemah sekali tubuh baginda. Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan bahawa tubuh Nabi Yunus ketika itu tak ubahnya seperti itik yang masih belum tumbuh bulunya (yaitu baru menetas). As-Saddi mengatakan bahawa keadaan Nabi Yunus saat itu mirip dengan bayi yang baru lahir. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a. dan Ibnu Zaid.

 

Ayat 146:

وَأَنبَتنا عَلَيهِ شَجَرَةً مِّن يَقطينٍ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And We caused to grow over him a gourd vine.¹

  • Which is known to give cooling shade and to be a repellent of flies.

(MELAYU)

Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.

 

Dan untuk mengubati kesakitan kulit baginda, maka Allah telah menumbuhkan pokok dari jenis labu. Maka baginda telah menempel tubuh baginda dengan daun ataupun dengan bahagian daripada pokok labu itu. Dan baginda boleh makan buah labu itu untuk mendapatkan tenaga.

Tidak dapat dikenalpasti apakah jenis pokok ini tetapi ianya dapat memberi perlindungan kepada baginda supaya kulit baginda kembali sihat. Yang kita boleh agak, ianya adalah jenis pokok melata seperti labu. Ada yang mengatakan pokok itu adalah Labu Air. Dengan adanya daun pokok itu yang menyeliputi tubuh baginda, maka dapat menghalang serangan serangga.

Sebagian di antara ulama menyebutkan beberapa keistimewaan dari buah labu ini antara lain cepat pertumbuhannya, rendang pohonnya, besar, dan lembut buahnya. Buah labu tidak pernah dihinggapi oleh lalat, buahnya terasa enak dan dapat dimakan baik dalam keadaan mentah mahupun dimasak, boleh dimakan sekali dengan kulitnya.


 

Ayat 147: Bagaimana pula dengan kaum baginda yang baginda tinggalkan?

وَأَرسَلنٰهُ إِلىٰ مِائَةِ أَلفٍ أَو يَزيدونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And We sent him¹ to [his people of] a hundred thousand or more.

  • i.e., returned him thereafter.

(MELAYU)

Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.

 

Kisah kaum baginda yang telah menentang baginda telah disebut dalam Surah Yunus. Kerana mereka menentang baginda, maka baginda ambil keputusan untuk meninggalkan mereka (walaupun Allah belum beri kebenaran lagi).

Kerana penolakan mereka itu, maka Allah sepatutnya memberikan azab dunia kepada mereka yang dapat menghancurkan mereka. Tapi kerana Nabi Yunus telah meninggalkan mereka terlalu awal, maka Allah tidak meneruskan azab itu. Mereka dah nampak azab itu dan mereka telah bertaubat.

Kalau kisah bangsa lain yang dihancurkan, apabila mereka nampak azab dan telah bertaubat, mereka tidak dapat penangguhan lagi kerana mereka dah nampak azab. Tapi kerana Nabi Yunus telah meninggalkan mereka sebelum waktunya, maka Allah tidak jadi meneruskan azab itu. Kerana nanti mereka ada alasan dengan mengatakan Rasul mereka meninggalkan mereka. Ini seperti pengertian yang terdapat pada ayat lain melalui firman-Nya:

{فَلَوْلا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ}

Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu. (Yunus: 98)

Maka mereka telah bertaubat dan sedar kesalahan mereka selama ini. Mereka mencari-cari baginda kerana hendak beriman dengan Nabi Yunus. Dan akhirnya baginda telah kembali kepada kaum itu dan waktu itu mereka semuanya telah beriman. Oleh kerana itu baginda telah menjadi Rasul kepada 100,000 umat manusia ataupun lebih.


 

Ayat 148:

فَئآمَنوا فَمَتَّعنٰهُم إِلىٰ حينٍ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And they believed, so We gave them enjoyment [of life] for a time.

(MELAYU)

Lalu mereka beriman, kerana itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.

 

Dan kaum baginda itu telah benar-benar beriman apabila mereka melihat azab yang datang kepada mereka. Waktu itu mereka terus mencari Nabi Yunus untuk beriman, tapi baginda telah tiada. Maka mereka telah keluar ke tengah padang dan mereka menyatakan keimanan mereka beramai-ramai.

Dan Allah telah ampunkan kesalahan mereka sebelum itu dan kerana keimanan mereka, Allah berikan kesenangan kepada mereka sehingga ajal mereka sampai. Mereka mendapat kesenangan hidup selama mereka dikandung hayat di dunia ini.

Maka ini mengajar kita bahawa orang beriman pun akan mendapat nikmat kehidupan dunia dan bukanlah mereka itu menidakkan kehidupan dunia. Asalkan hidup dengan taat kepada Allah, boleh sahaja untuk kita menikmat segala nikmat yang Allah berikan dalam dunia ini.

♦ Maka sudah habis kisah para Nabi di dalam surah ini. Allah hendak memberitahu bahawa para nabi itu juga diuji dan mereka juga berharap dan bergantung kepada Allah. Mereka tidak ada kuasa pada diri mereka melainkan Maka kalau begitu maka mereka tidak layak untuk di sembah dan dipuja.


 

Ayat 149: Sekarang sudah masuk kepada permulaan yang membawa kepada penutup Surah ini. Apabila sudah sampai di hujung, sekarang perbincangan kembali kepada perbincangan asal surah ini yang telah disentuh di awal surah. Iaitu membincangkan tentang tauhid.

فَاستَفتِهِم أَلِرَبِّكَ البَناتُ وَلَهُمُ البَنونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

So inquire of them, [O Muḥammad], “Does your Lord have daughters while they have sons?¹

  • The people of Makkah claimed that the angels were daughters of Allāh, yet they preferred sons for themselves.

(MELAYU)

Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki,

 

Allah suruh Nabi tanya fatwa mereka. Minta dalil dari mereka sendiri. Dengan pertanyaan seperti ini, sebenarnya akan melemahkan hujah mereka. Macam kita dengan orang yang ahli hawa’ dan bid’ah, selalukan minta dalil dari mereka. Paksa mereka untuk fikir sendiri dari mana dalil yang mereka pakai. Supaya mereka nilai sendiri dalil mereka itu kuat atau tidak.

Di awal sudah ini sudah disebut tentang malaikat. Allah telah beritahu di awal surah ini bahawa para malaikat itu adalah tentera Allah. Kalau sudah tertera, maka tentulah tidak patut jikalau mereka dikatakan sebagai anak-anak perempuanNya pula.

Fahaman mereka ini telah banyak disebut dalam ayat-ayat yang lain: An-Nisa’: 117, An-Nahl: 57-58, Isra’: 40, Az-Zukhruf: 16; 19, An-Najm: 21-27.

Tetapi musyrikin Mekah berfahaman bahawa para malaikat itu adalah anak perempuan Allah dan mereka sembah para malaikat itu untuk menyampaikan doa mereka kepada Allah. Ini adalah cara tawasul yang salah. Kerana kita sepatutnya berdoa terus kepada Allah dan bukannya menggunakan perantaraan sesiapa pun.

Maka iktikad musyrikin Mekah adalah para malaikat itu anak perempuan Allah. Tapi ini memang tidak patut sama sekali kerana kalau mereka sendiri pun tidak suka kalau mereka mendapat anak perempuan. Tidak patut sekali benda yang mereka tidak suka itu mereka nisbahkan kepada Allah pula.

Ayat ini bukan hendak mengatakan Allah ada anak pula kerana jikalau kata Allah ada anak lelaki pun, itu sudah fahaman syirik. Masalahnya sekarang mereka lebih teruk lagi kerana mereka memberi sesuatu yang mereka tidak suka kepada Allah. Maknanya mereka sudah sesat jauh sangat. Yang tidak suka pula yang mereka beri kepada Allah.

Bagaimana pula dengan perbuatan orang Islam sekarang berkenaan anak-anak mereka? Kalau mereka ada beberapa orang anak, maka anak yang bijak mereka suruh jadi doktor ataupun peguam tetapi anak yang tidak berapa pandai pula mereka hantar untuk belajar agama. Maka kerana itulah ada ahli agama neraka ini yang tidak berapa bijak kerana memang mereka bukan asalnya orang yang bijak. Sepatutnya anak-anak yang pandailah yang dihantar menjadi ustaz, tapi sebaliknya yang berlaku. Sebab itulah banyak fahaman salah dalam masyarakat sekarang. Perkara yang mudah pun ustaz-ustaz kita tidak faham.

Jadi di sini benih kesyirikan bermula adalah kerana mereka melebihkan diri sendiri daripada Allah. Benda yang baik mereka hendak, tetapi benda yang mereka tidak suka mereka serahkan kepada Allah. Dari situ sudah ada salah faham yang berleretan menjadi fahaman yang lebih teruk. Akhirnya mereka menyembah berhala dan selain Allah.


 

Ayat 150:

أَم خَلَقنَا المَلٰئِكَةَ إِنٰثًا وَهُم شٰهِدونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Or did We create the angels as females while they were witnesses?”

(MELAYU)

atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?

 

Allah mempersoalkan fahaman mereka yang mengatakan para malaikat itu anak-anak perempuanNya pula. Tentu ini tidak benar sama sekali. Mereka tidak ada dalil dalam perkara ini melainkan hujah bohong sahaja.

Bagaimana lagi mereka hendak berhujah? Adakah mereka sendiri lihat penciptaan para malaikat itu yang menyebabkan mereka tahu malaikat itu anak perempuan? Atau, adakah mereka dapat lihat malaikat-malaikat itu berjantina perempuan? Bila masa pula mereka boleh lihat malaikat?


 

Ayat 151:

أَلا إِنَّهُم مِّن إِفكِهِم لَيَقولونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Unquestionably, it is out of their [invented] falsehood that they say,

(MELAYU)

Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan:

 

Apabila berbohong atas perkara agama, maka kalimah yang digunakan adalah افك. Kerana hati mereka ada masalah, maka mereka memperkatakan perkara bohong sahaja. Mereka mereka-reka hujah dan memperkatakan perkara yang mereka sendiri tidak tahu.

Apa yang mereka kata?


 

Ayat 152:

وَلَدَ اللهُ وَإِنَّهُم لَكٰذِبونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

“Allāh has begotten,” and indeed, they are liars.

(MELAYU)

“Allah beranak”. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.

 

Mereka mengatakan Allah ada anak pula, tanpa dalil yang sah. Adakah mereka sangka Allah itu seperti makhluk yang memerlukan anak?


 

Ayat 153:

أَصطَفَى البَناتِ عَلَى البَنينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Has He chosen daughters over sons?

(MELAYU)

Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?

 

Kalaulah Allah ada anak, takkan Allah nak pilih perempuan pula sebagai anakNya? Ini adalah kerana mereka ada iktikad yang Allah ada anak perempuan sahaja, tidak ada anak lelaki. Adakah patut, sedangkan mereka sendiri berfahaman yang anak perempuan lebih rendah darjatnya kalau dibandingkan dengan anak lelaki.

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya.

Tarikh: 14 Februari 2018


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Tafhim-ul-Qur’an, Abul A’la Maududi

Tafsir Surah Saffat Ayat 127 – 140 (Kisah Nabi Luth dan Yunus)

Ayat 127: Sambungan kisah Nabi Ilyas a.s.

فَكَذَّبوهُ فَإِنَّهُم لَمُحضَرونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And they denied him, so indeed, they will be brought [for punishment],

(MELAYU)

Maka mereka mendustakannya, kerana itu mereka akan diseret (ke neraka),

 

Umat Bani Israil tidak mahu menerima dakwah dari Nabi Ilyas dan kerana itu mereka akan dihadhirkan di neraka kelak untuk menerima hukuman azab mereka.


 

Ayat 128:

إِلّا عِبادَ اللهِ المُخلَصينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Except the chosen servants of Allāh.

(MELAYU)

kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).

 

Yang selamat adalah hamba-hamba Allah yang ikhlas dalam ibadat mereka.


 

Ayat 129:

وَتَرَكنا عَلَيهِ فِي الآخِرينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And We left for him [favorable mention] among later generations:

(MELAYU)

Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.

 

Nama Nabi Ilyas juga harum disebut sebagai salah seorang Nabi Bani Israil yang telah berjasa kepada kaum itu. Disebut-sebut dalam Qur’an sebagai nama yang baik yang menjadi tauladan.


 

Ayat 130:

سَلٰمٌ عَلىٰ إِل ياسينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

“Peace upon Elias.”¹

  • Ilyāseen is said by some commentators to be a plural form, meaning “Elias and those who followed him.”

(MELAYU)

(yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas”

 

Kalimah ilyaasiin merujuk kepada Nabi Ilyas dan juga orang-orang mengikut jejak langkah baginda. Allah memberikan kesejahteraan kepada mereka.


 

Ayat 131:

إِنّا كَذٰلِكَ نَجزِي المُحسِنينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Indeed, We thus reward the doers of good.

(MELAYU)

Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

 

Itulah balasan yang baik yang Allah berikan kepada mereka yang sanggup beriman sempurna.


 

Ayat 132:

إِنَّهُ مِن عِبادِنَا المُؤمِنينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Indeed, he was of Our believing servants.

(MELAYU)

Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

 

Allah memuji Nabi Ilyas dengan mengatakan yang memang baginda benar-benar seorang yang beriman sempurna.


 

Ayat 133: Sekarang kita masuk ke dalam kisah ke 5 iaitu kisah Nabi Luth a.s.

وَإِنَّ لوطًا لَّمِنَ المُرسَلينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And indeed, Lot was among the messengers.

(MELAYU)

Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul.

 

Sekarang kita masuk ke dalam kisah Nabi Luth a.s.


 

Ayat 134:

إِذ نَجَّينٰهُ وَأَهلَهُ أَجمَعينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

[So mention] when We saved him and his family, all,

(MELAYU)

(Ingatlah) ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya (pengikut-pengikutnya) semua,

 

Allah suruh kita mengenang kembali kisah baginda yang telah diselamatkan bersama dengan ahli keluarga baginda.


 

Ayat 135:

إِلّا عَجوزًا فِي الغٰبِرينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Except an old woman [i.e., his wife] among those who remained [with the evildoers].

(MELAYU)

kecuali seorang perempuan tua (isterinya yang berada) bersama-sama orang yang tinggal.

 

Apabila dikatakan ‘keluarga’ baginda diselamatkan, tidaklah termasuk isterinya yang tidak diselamatkan kerana dia ditinggalkan bersama dengan kaumnya yang dimusnahkan kerana penolakan mereka kepada dakwah baginda.


 

Ayat 136:

ثُمَّ دَمَّرنَا الآخَرينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Then We destroyed the others.

(MELAYU)

Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain.

 

Maka isterinya dan kaumnya itu telah dimusnahkan sehancur-hancurnya.


 

Ayat 137:

وَإِنَّكُم لَتَمُرّونَ عَلَيهِم مُّصبِحينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And indeed, you pass by them in the morning

(MELAYU)

Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi,

 

Allah memberitahu bahawa Arab Mekah akan melalui kawasan bekas penempatan kaum Nabi Luth itu tapi tanpa disedari kerana ianya telah tertanam. Mereka akan melalui kawasan itu pada waktu siang semasa perjalanan mereka ke tempat yang lain.


 

Ayat 138:

وَبِاللَّيلِ ۗ أَفَلا تَعقِلونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And at night. Then will you not use reason?

(MELAYU)

dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?

 

Dan mereka juga akan melalui kawasan itu pada waktu malam. Ini maknanya kawasan penempatan kaum Nabi Luth itu memang ada dilalui oleh Arab Mekah dalam musafir mereka ke Yaman dan Syam.

Musyrikin Mekah diajak untuk mengambil pengajaran dari apa yang terjadi kepada kaum Nabi Luth itu. Tidakkah mereka mahu mengambil pengajaran dari apa yang terjadi itu. Adakah mereka sanggup kalau apa yang terjadi kepada kaum Nabi Luth itu dikenakan kepada mereka juga?

Tamat Ruku’ 4 dari 5 ruku’ dalam surah ini.


 

Ayat 139: Sekarang masuk ke dalam kisah ke 6 iaitu kisah Nabi Yunus a.s.

وَإِنَّ يونُسَ لَمِنَ المُرسَلينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And indeed, Jonah was among the messengers.

(MELAYU)

Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,

 

Seorang lagi Nabi dari kalangan Bani Israil adalah Nabi Yunus a.s.


 

Ayat 140:

إِذ أَبَقَ إِلَى الفُلكِ المَشحونِ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

[Mention] when he ran away to the laden ship.

(MELAYU)

(ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan,

 

Kalimah أَبَقَ bermaksud lari dari sesuatu dan ia digunakan khusus apabila seorang hamba lari dari tuannya.

Ini merujuk kepada Nabi Yunus apabila baginda sudah tidak tahan dengan penolakan kaum baginda dan baginda ambil keputusan untuk meninggalkan mereka sebelum keputusan diberikan oleh Allah untuk melakukannya. Maksudnya baginda telah meninggalkan arahan Allah untuk tetap duduk dengan kaum baginda. Ini kerana baginda telah berijtihad bahawa telah cukup masa diberikan oleh baginda dan baginda rasa yang baginda sudah boleh meninggalkan mereka.

Baginda meninggalkan mereka dan menuju ke arah laut dan baginda sampai ke satu kapal yang penuh. Kisah baginda ini lebih banyak disebut dalam surah yang lain dan disebut secara ringkas sahaja dalam surah ini.

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya.

Tarikh: 13 Februari 2018


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Tafhim-ul-Qur’an, Abul A’la Maududi

Tafsir Surah Saffat Ayat 114 – 126 (Kisah Nabi Ilyas a.s.)

Ayat 114: Sekarang masuk ke dalam kisah ke Nabi yang ke 3 iaitu kisah Nabi Musa dan Nabi Harun a.s.

وَلَقَد مَنَنّا عَلىٰ موسىٰ وَهٰرونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And We did certainly confer favor upon Moses and Aaron.

(MELAYU)

Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun.

 

Selepas disebut kisah para Nabi sebelum ini, sekarang Allah beri contoh keturunan Nabi Ibrahim dan Ishaq yang baik iaitu Nabi Musa dan juga Nabi Harun.


 

Ayat 115:

وَنَجَّينٰهُما وَقَومَهُما مِنَ الكَربِ العَظيمِ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And We saved them and their people from the great affliction,

(MELAYU)

Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar.

 

Allah telah menyelamatkan mereka daripada ‘bencana yang besar’. Bencana besar yang dimaksudkan adalah perhambaan Firaun ke atas Bani Israil.

Lihat bagaimana kalimah الكَربِ digunakan untuk Nabi Nuh dan juga Nabi Musa kerana kedua-dua mereka terlibat dengan azab dengan air, iaitu musuh mereka dimatikan dan dimusnahkan dengan air. Tapi mereka diselamatkan dari azab yang dikenakan kepada kaum mereka yang menentang itu.


 

Ayat 116:

وَنَصَرنٰهُم فَكانوا هُمُ الغٰلِبينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And We supported them so it was they who overcame.

(MELAYU)

Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang.

 

Allah telah membantu Nabi Musa dan kaumnya untuk mengalahkan Firaun. Nabi Musa dan Nabi Harun telah berjaya membawa Bani Israil keluar dari Mesir menyeberangi lautan. Memang asalnya kaum Bani Israil itu yang ditindas dan dihinakan tapi akhir sekali, mereka yang menang dan selamat dari cengkaman musuh mereka.


 

Ayat 117:

وَءآتَينٰهُمَا الكِتٰبَ المُستَبينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And We gave them the explicit Scripture [i.e., the Torah],

(MELAYU)

Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas.

 

Nabi Musa dan Nabi Harun telah diberikan dengan Kitab Taurat. Dan kalimah yang digunakan untuk menyebut tentang kitab itu adalah المُستَبينَ (yang jelas) dan ianya khusus digunakan untuk kitab Taurat. Kalimah المُستَبينَ digunakan kerana ianya amat jelas.

Jadi mereka tidak patut ada kekeliruan dengan apa yang ada di dalam Kitab Taurat itu kerana telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang agama. Dan bukan itu sahaja, kerana sepatutnya telah dijelaskan dalam Kitab Taurat itu tentang siapakah yang disembelih oleh Nabi Ibrahim. Tapi kerana dengki, mereka sanggup menukar apa yang ada dalam kitab wahyu mereka sendiri dengan mengatakan yang disembelih adalah Nabi Ishaq, bukannya Nabi Ismail.


 

Ayat 118:

وَهَدَينٰهُمَا الصِّرٰطَ المُستَقيمَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And We guided them on the straight path.

(MELAYU)

Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus.

 

Allah telah memberi hidayah kepada mereka untuk membawa mereka ke jalan yang lurus. Iaitu menggunakan wahyu yang ada dalam Kitab Taurat yang disebut sebelum ini.


 

Ayat 119:

وَتَرَكنا عَلَيهِما فِي الآخِرينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And We left for them [favorable mention] among later generations:

(MELAYU)

Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian;

 

Nama mereka berdua telah terkenal zaman berzaman dan disebut dengan baik sekali oleh manusia.


 

Ayat 120:

سَلٰمٌ عَلىٰ موسىٰ وَهٰرونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

“Peace upon Moses and Aaron.”

(MELAYU)

(yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun”.

 

Allah telah memberi kesejahteraan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun.


 

Ayat 121:

إِنّا كَذٰلِكَ نَجزِي المُحسِنينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Indeed, We thus reward the doers of good.

(MELAYU)

Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

 

Kelebihan yang mereka dapati itu adalah kerana mereka telah berbuat baik. Allah boleh beri pembalasan yang baik kalau manusia telah melakukan kebaikan.


 

Ayat 122:

إِنَّهُما مِن عِبادِنَا المُؤمِنينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Indeed, they were of Our believing servants.

(MELAYU)

Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

 

Allah memberi pujian kepada mereka dengan mengatakan mereka berdua itu pasti orang yang beriman.


 

Ayat 123: Sekarang masuk ke dalam kisah ke 4 iaitu kisah Nabi Ilyas a.s. yang kita jarang sekali dengar.

وَإِنَّ إِلياسَ لَمِنَ المُرسَلينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And indeed, Elias was from among the messengers,

(MELAYU)

Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul.

 

Dikatakan bahawa Nabi Ilyas ini adalah keturunan dari Nabi Harun. Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa dia adalah Ilyas ibnu Nissi ibnu Fanhas ibnul Aizar ibnu Harun ibnu Imran. Baginda diangkat menjadi Nabi selepas zaman Nabi Sulaiman a.s.

Maka baginda juga adalah salah seorang dari Nabi Bani Israil dan hanya disebut dua kali sahaja dalam Qur’an. Selain dari ayat ini, baginda disebut sekali lagi dalam ayat Ali Imran:85.

Tempat tinggal baginda adalah di Jordan. Kaum baginda mengamalkan ajaran syirik dan berhala yang disembah bernama Baal Bakka.


 

Ayat 124:

إِذ قالَ لِقَومِهِ أَلا تَتَّقونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

When he said to his people, “Will you not fear Allāh?

(MELAYU)

(ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa?

 

Oleh kerana kaumnya itu mengamalkan ajaran syirik, maka baginda berdakwah kepada mereka supaya bertaqwa dan takut kepada Allah. Ini kerana mereka dahulunya adalah dalam agama tauhid tapi lama kelamaan telah jatuh ke dalam lembah kesyirikan.

Pada mulanya raja mereka pada zaman Nabi Ilyas itu memang beriman, kemudian dia telah murtad dan terus berkelanjutan dalam kesesatannya bersama kaumnya, sehingga tiada seorang pun dari mereka yang beriman. Ini adalah kerana raja itu telah berkahwin dengan wanita syirik dan dia terikut dengan agama syirik isterinya itu.
Maka Nabi Ilyas berdoa kepada Allah untuk memberikan pelajaran terhadap kaumnya, maka Allah menahan hujan dari mereka selama tiga tahun. Akhirnya mereka meminta kepada Nabi Ilyas agar melenyapkan hal tersebut dari mereka; dan mereka menjanjikan kepadanya bahwa jika berhasil, maka mereka akan beriman kepadanya, yaitu jika mereka kembali memperoleh hujan.
Lalu Nabi Ilyas berdoa kepada Allah memohon hujan, maka turunlah hujan kepada mereka sebagaimana biasanya. Akan tetapi, mereka tetap dalam kesesatannya dan bergelimang dalam kekafirannya seperti semula.

 

Ayat 125:

أَتَدعونَ بَعلًا وَتَذَرونَ أَحسَنَ الخٰلِقينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Do you call upon Ba‘l¹ and leave the best of creators –

  • The name of a great idol worshipped by the people and said to mean “lord.”

(MELAYU)

Patutkah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta,

 

Baal adalah nama berhala mereka. Ini adalah salah satu daripada patung berhala yang dibina oleh Bani Israil waktu itu untuk disembah dan dipuja. Baal itu asalnya adalah seorang yang alim dan baik dan mereka telah menjadikan patung asalnya untuk memperingati beliau sahaja.

Ini biasa terjadi akan tetapi lama kelamaan ia menjadi tempat sembahan dan pujaan mereka. Yang sebenarnya dipuja itu bukanlah patung itu tetapi roh Baal itu. Ini adalah kerana lama kelamaan syaitan telah menipu keturunan selepas mereka dengan membisikkan yang tok nenek mereka dahulu menyembah dan bertawasul kepada patung tersebut. Beginilah juga yang terjadi kepada kaum Nabi Nuh dan begitu jugalah yang terjadi kepada mana-mana penyembah berhala pun. Asalnya mereka bukan nak sembah berhala itu, tapi mereka hendak mengingatkan mereka sahaja.

Kerana itulah dilarang gambar digantung kerana ia boleh membawa kepada syirik kalau tidak dihentikan. Kerana lama kelamaan orang akan menjadikan gambar itu sebagai sesuatu yang ada ‘kuasa’, ada kelebihan dan sebagainya.

Maka kerana itulah kita takut apabila melihat golongan Habib yang sesat itu amat suka menggantung gambar Habib-habib mereka yang telah meninggal. Kita melihat ini ada potensi untuk mengajar kesesatan kepada umat manusia. Sekarang pun mereka sudah reka banyak amalan baru dan melakukan ibadat yang melampau-lampau, dan kalau tidak dibendung, lama-lama akan menjadi lebih teruk.

Mereka menyeru kepada berhala mereka itu dengan tujuan untuk menyempurnakan hajat mereka atau untuk menyelesaikan masalah mereka, atau untuk mendapat berkat, ataupun untuk mendapat syafaat. Semua itu sepatutnya diminta kepada Allah, tapi mereka meminta kepada berhala mereka.

Nabi Ilyas menegur mereka yang sanggup meminta kepada berhala mereka dan meninggalkan ‘sebaik-baik Pencipta’. Tentulah yang dimaksudkan adalah Allah.


 

Ayat 126:

اللهَ رَبَّكُم وَرَبَّ ءآبائِكُمُ الأَوَّلينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Allāh, your Lord and the Lord of your first forefathers?”

(MELAYU)

(yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapa-bapamu yang terdahulu?”

 

Dari ini kita dapat tahu yang kaum Nabi Ilyas itu pun kenal Allah dan baginda hanya mengingatkan mereka sahaja.

Maka begitulah puak syirik, mereka bukannya tidak kenal Allah. Sebagaimana juga Musyrikin Mekah itu bukannya tidak kenal Allah malah mereka memang menganggap Allah itu adalah Tuhan yang utama. Tapi dalam masa yang sama, mereka sembah juga ilah-ilah yang lain sebagai wasilah dalam doa.

Maka begitulah juga dengan mereka yang mengamalkan amalan syirik di negara kita pun. Bukannya orang kita tidak kenal Allah, tapi cuma dalam masa yang sama, mereka keliru dengan tauhid dan syirik kerana jahil, maka mereka sembah dan berdoa kepada selain Allah.

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya.

Tarikh: 12 Februari 2018


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Tafhim-ul-Qur’an, Abul A’la Maududi