Tafsir Surah Rum Ayat 51 – 55 (Bolehkan orang mati mendengar?)

Ayat 51: Masih lagi tentang angin, iaitu sambungan dari ayat-ayat sebelum ini. Tadi disebut manusia suka kalau dapat angin yang membawa hujan.

وَلَئِن أَرسَلنا ريحًا فَرَأَوهُ مُصفَرًّا لَّظَلّوا مِن بَعدِهِ يَكفُرونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

But if We should send a [bad] wind and they saw [their crops] turned yellow, they would remain thereafter disbelievers.¹

  • Denying and ungrateful for the previous favors of Allāh.

(MELAYU)

Dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin lalu mereka melihat (tumbuh-tumbuhan itu) menjadi kuning (kering), benar-benar tetaplah mereka sesudah itu menjadi orang yang engkar.

 

وَلَئِن أَرسَلنا ريحًا فَرَأَوهُ مُصفَرًّا

Dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin lalu mereka melihat (tumbuh-tumbuhan itu) menjadi kuning،

Ini pula jikalau angin yang diberikan itu adalah angin yang tidak baik, di mana angin itu terlalu kuat dan bukannya jenis angin yang bawa hujan. Mungkin angin yang sejuk seperti angin ada ais atau panas yang membahang. Ini jenis angin yang boleh menyebabkan tanaman jadi rosak. Apabila ia rosak, maka ia akan menyebabkan tanaman jadi menguning, menandakan ia akan mati.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahawa angin itu ada lapan macam. Empat di antaranya mengandung rahmat, dan empat lainnya mengandung azab.

Angin yang membawa rahmat ialah an-nasyirat (angin yang menyebarkan hujan), mubasysyirat (angin pembawa berita gembira akan turunnya hujan), mursalat (angin yang membawa awan yang mengandung hujan), dan az-zariyat (angin yang menerbangkan debu dan awan yang mengandung hujan).

Angin yang mengandung azab atau bencana ialah al-‘aqim (angin yang kering) dan angin sar-sar (angin yang menumbangkan pepohonan); kedua jenis angin ini terjadi di daratan. Adapun angin taufan dan angin badai, kedua jenis angin ini terjadi di laut.

Apabila Allah Swt. menghendaki untuk menjadikan angin itu sebagai angin pembawa rahmat, maka Dia menjadikan angin itu pembawa kesuburan, rahmat, dan berita gembira sebelum turunnya hujan. Lalu angin itu membuahi awan sehingga awan menjadi padat mengandung air, sebagaimana jantan membuahi betinanya hingga hamil.

Jika Dia menghendaki untuk menjadikannya sebagai azab, maka Dia menjadikannya angin yang kering dan azab yang memedihkan, serta pembalasan dari-Nya terhadap orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Angin itu akan berupa angin taufan dan badai yang memporak-porandakan segala sesuatu yang dilandanya.

Kalau angin itu lembut lagi basah, manfaatnya ialah menyuburkan tumbuhan dan tubuh haiwan. Sedangkan jenis lainnya menguruskannya, jenis lainnya lagi membinasakan dan menyebabkan penyakit, yang lainnya lagi membuatnya tumbuh dan menguatkan, dan yang lainnya lagi merapuhkan serta melemahkannya.

 

لَّظَلّوا مِن بَعدِهِ يَكفُرونَ

benar-benar tetaplah mereka sesudah itu menjadi orang yang engkar.

Maka mereka waktu itu marah kepada Allah. Bila mereka dapat benda yang mereka suka, mereka tidak bersyukur dengan Allah. Dan bila dapat benda yang buruk, mereka menyalahkan Allah pula. Memang mereka yang sebegitu sentiasa sahaja tidak puas hati dengan Allah. Maka janganlah kita terikut dengan cara itu. Hendaklah kita redha dengan apa yang Allah berikan kepada kita dan takdirkan kepada kita.

Juga maksudnya, mereka mengengkari nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka sebelum itu. Banyak sudah nikmat yang mereka dapat, tapi bila mereka dapat bala bencara, mereka cakap seolah-olah mereka tidak pernah dapat rahmat daripada Allah. Mereka mengengkari nikmat-nikmat yang sebelum itu. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ. لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ. إِنَّا لَمُغْرَمُونَ بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ}

Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. (Al-Waqi’ah: 63) sampai dengan firman-Nya: “bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.” (Al-Waqi’ah: 67)


 

Ayat 52: Bolehkah kita memberi hidayah kepada orang lain?

فَإِنَّكَ لا تُسمِعُ المَوتىٰ وَلا تُسمِعُ الصُّمَّ الدُّعاءَ إِذا وَلَّوا مُدبِرينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

So indeed, you will not make the dead hear, nor will you make the deaf hear the call when they turn their backs, retreating.

(MELAYU)

Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang.

 

فَإِنَّكَ لا تُسمِعُ المَوتىٰ

Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar,

Seperti yang kita tahu, orang mati tidak dapat dengar. Kalau kita jerit atau bom meletup pun, mereka tidak akan bangun dari mati mereka itu. Jadi kita tidak boleh nak pergi ke kuburan sesiapa pun dan bercakap dengan mereka seolah-olah mereka dapat mendengar apa yang kita cakapkan.

Ada banyak pendapat tentang perkara ini dan ada yang mengatakan orang dalam kubur boleh dengar salam kita kepada mereka, boleh tahu kita melawat mereka dan sebagainya. Tapi kita memilih pendapat yang apabila seseorang telah mati, maka mereka mereka tidak ada hubungan dengan orang yang hidup dan mereka tidak dengar apa yang kita katakan terhadap mereka.

Allah memberi isyarat dalam ayat ini yang tidak mahu ikut dakwah Rasulullah itu, hati mereka telah mati. Mereka tidak boleh melihat kebenaran lagi. Begitulah mereka yang tidak redha dengan Allah. Hati mereka seolah sudah mati. Hati mereka tidak mahu menerima hakikat yang mereka itu adalah hamba Allah dan Allah buat apa sahaja yang Allah kehendaki terhadap mereka.

 

وَلا تُسمِعُ الصُّمَّ الدُّعاءَ

dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, 

Dan kalau orang yang pekak, kita pun tidak dapat beri mereka dengar, bukan? Ini adalah isyarat kepada mereka yang telah ditutup telinga mereka dari mendengar kebenaran wahyu yang disampaikan kepada mereka.

Apabila orang sudah menolak kebenaran berkali-kali dan menentang kebenaran itu, maka Allah akan tutup pendengaran mereka. Mereka itu sudah tidak dapat mendengar kebenaran lagi. Apa pun ajaran wahyu yang sampai kepada mereka, hanya akan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri sahaja – tidak singgah ke dalam otak.

 

إِذا وَلَّوا مُدبِرينَ

apabila mereka itu berpaling membelakang.

Kalau orang pekak itu mengadap kita, bolehlah kita nak bercakap dengan beri baca isyarat, bukan? Tapi kalau mereka sudah berpaling dan tidak mahu lihat kita, apa lagi yang kita boleh buat? Ini adalah isyarat kepada mereka yang berpaling dari kebenaran wahyu tauhid yang disampaikan kepada mereka.

Allah hendak menekankan yang Nabi Muhammad atau sesiapa sahaja tidak akan mampu untuk memberi hidayah kepada manusia lain. Hanya Allah sahaja yang boleh.


 

Ayat 53:

وَما أَنتَ بِهٰدِ العُميِ عَن ضَلٰلَتِهِم ۖ إِن تُسمِعُ إِلّا مَن يُؤمِنُ بِئآيٰتِنا فَهُم مُّسلِمونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And you cannot guide the blind away from their error. You will only make hear those who believe in Our verses so they are Muslims [in submission to Allāh].

(MELAYU)

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).

 

وَما أَنتَ بِهٰدِ العُميِ عَن ضَلٰلَتِهِم

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya.

Sekarang Allah bercakap tentang orang yang buta, pula. Kalau orang buta depan kita, kita tunjuk apa pun mereka tidak akan dapat lihat. Ini adalah isyarat kepada manusia yang buta mata hati mereka. Kalau dah banyak hujah tapi masih buta hati, maka kita tidak boleh bagi hidayah lagi kepada mereka.

Allah hendak memberitahu Nabi Muhammad dan juga para pendakwah, kita hanya boleh sampaikan ajaran sahaja kepada manusia. Tapi kita tidak dapat memastikan mereka akan dapat dengar dan terima pengajaran dari kita. Kita serahkan kepada Allah sahaja samada mereka beriman atau tidak. Itu tidak menjadi penghalang untuk kita sampaikan dakwah.

Walaupun ada yang tidak dengar dakwah, tapi tentu ada juga yang dengar. Jadi siapa yang akan dengar?

 

إِن تُسمِعُ إِلّا مَن يُؤمِنُ بِئآيٰتِنا

hanya dapat memperdengarkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami,

Mereka yang ada keimanan dalam hati mereka itulah yang boleh mendengar wahyu yang disampaikan kepada mereka. Mereka yang membuka hati mereka untuk menerima kebenaran.

Dalam ramai-ramai yang kita dakwahkan itu, tentu ada dari kalangan mereka yang sebegini. Maka kita kenalah cari mereka. Kerana itu kita kena sampaikan sahaja, kerana kita tidak tahu siapakah yang ada iman dalam hati mereka.

 

فَهُم مُّسلِمونَ

mereka itulah orang-orang yang berserah diri 

Mereka yang ada iman dalam hati mereka, maka mereka akan senang untuk menerima ajaran dari wahyu. Kerana apa yang disampaikan dalam wahyu itu bersamaan dengan hati mereka. Maka setelah itu mereka yakin dengan wahyu itu. Hasilnya, mereka akan serahkan diri mereka kepada Allah. Itulah maksud ‘muslim’ – menyerah diri kepada Allah.


 

Ayat 54: Dalil aqli anfusi. Allah suruh kita lihat kepada diri kita.

۞ اللهُ الَّذي خَلَقَكُم مِّن ضَعفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعدِ ضَعفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعدِ قُوَّةٍ ضَعفًا وَشَيبَةً ۚ يَخلُقُ ما يَشاءُ ۖ وَهُوَ العَليمُ القَديرُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Allāh is the one who created you from weakness, then made after weakness strength, then made after strength weakness and white hair. He creates what He wills, and He is the Knowing, the Competent.

(MELAYU)

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

 

اللهُ الَّذي خَلَقَكُم مِّن ضَعفٍ

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah,

Kenanglah bagaimana asal kejadian kita semasa keluar dari perut ibu kita. Kita tidak ada kekuatan apa-apa waktu itu. Tahu menangis sahaja. Lemah segala-galanya. Tubuh kita pun lembik sahaja. Tulang pun lemah sampaikan ibu bapa kita nak pegang kita dulu pun takut. Sesiapa yang pegang bayi, mereka akan tampung kepala bayi itu kerana kalau pegang tak berhati-hati, boleh patah tengkuk bayi itu.

 

ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعدِ ضَعفٍ قُوَّةً

kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat,

Setelah kita membesar, lama kelamaan kita menjadi semakin kuat. Allah nak ingatkan yang menjadikan kita kuat itu adalah Allah.

 

ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعدِ قُوَّةٍ ضَعفًا

kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) 

Tapi apabila sudah semakin tua, akhirnya kita jadi lemah balik. Ianya jadi terbalik. Kita nak jalan nanti pun sudah payah. Nak makan pun kadang-kadang kena orang yang suapkan kerana kita jadi macam budak-budak balik.

 

وَشَيبَةً

dan beruban.

Dari asalnya kita tidak ada rambut, kemudian rambut kita lebat menghitam, akhirnya rambut dan kepala kita dipenuhi oleh uban. Sebelum ini telah disebut tumbuhan yang bertukar warna dari hijau jadi kuning. Maka penukaran warna rambut kita pun dah macam tumbuhan tukar warna.

Kalau tanaman jadi kuning, maka itu adalah tanda ianya akan reput dan musnah. Maka kalau rambut kita jadi putih beruban, maka tahulah kita yang itu adalah tanda kita nak mati dah tidak lama lagi. Maka kenalah beringat.

 

يَخلُقُ ما يَشاءُ

Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya 

Allah boleh jadikan apa sahaja. Sudahlah Dia yang asalnya menjadikan kita dan segala kehidupan, kemudian Allah boleh ubah segala kejadian itu.

 

وَهُوَ العَليمُ القَديرُ

dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

Allah tahu apa yang berlaku kepada kita semua dan Allah berkuasa untuk buat apa-apa sahaja.

Dalam ayat ini Allah hendak mengingatkan manusia betapa lemahnya mereka. Semuanya bergantung kepada kehendak Allah. Kena terima sahaja apa yang Allah telah tetapkan. Kerana kalau lawan pun, bukan boleh jadi apa pun. Maka kalau sudah terima ketentuan dari Allah dalam hal taqdir, maka kenalah terima ketentuan Allah dalam hukum hakam juga, bukan?


 

Ayat 55: Ayat takhwif ukhrawi. Selepas kita dah tua, kemudian mati, apakah yang kita akan hadapi nanti? Tentulah kiamat, bukan? Allah beritahu apa yang akan terjadi nanti di akhirat.

وَيَومَ تَقومُ السّاعَةُ يُقسِمُ المُجرِمونَ ما لَبِثوا غَيرَ ساعَةٍ ۚ كَذٰلِكَ كانوا يُؤفَكونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And the Day the Hour appears the criminals will swear they had remained but an hour. Thus they were deluded.

(MELAYU)

Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).

 

وَيَومَ تَقومُ السّاعَةُ يُقسِمُ المُجرِمونَ ما لَبِثوا غَيرَ ساعَةٍ

Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. 

Apabila hari akhirat sudah bermula, maka penyesalan kepada orang-orang yang berdosa terutama yang mengamalkan ajaran syirik itu akan berterusan. Mereka akan mengadu yang mereka rasa mereka tinggal sekejap sahaja semasa di dunia. Atau, mereka rasa mereka tinggal sekejap sangat di kubur. Tiba-tiba sudah jadi Kiamat.

Allah Swt. menceritakan perihal kebodohan orang-orang kafir di dunia dan akhirat. Di dunia mereka melakukan perbuatan yang biasa mereka kerjakan, yaitu menyembah berhala-berhala dan menyeru kepada selain Allah. Sedangkan di akhirat mereka melakukan kebodohan yang besar pula, antara lain ialah sumpah mereka dengan menyebut nama Allah, bahwa tidaklah mereka tinggal di dunia melainkan hanya sebentar saja. Tujuan utama mereka kata begitu adalah sebagai alasan agar hujah tidak dapat ditegakkan terhadap mereka, dan bahawa mereka tidak diberi kesempatan untuk beralasan.

 

كَذٰلِكَ كانوا يُؤفَكونَ

Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).

Sebab itulah mereka senang dipesongkan. Mereka dipesongkan kerana mereka rasa kehidupan mereka itu tidak lama. Mereka selalu salah anggapan kerana mereka pakai kepala mereka sendiri sahaja. Mereka tidak menggunakan ilmu yang Allah sampaikan dalam Qur’an. Mereka rasa yang kehidupan dunia itulah kehidupan yang sebenarnya, padahal tidak sama sekali. Oleh kerana mereka terpesona dan tertipu dengan dunia, maka mereka senang ditipu.

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya.

Tarikh: 27 Oktober 2017


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

Tafhim-ul-Qur’an, Abul A’la Maududi

Published by

CelikTafsir

Blog mentafsir Quran berdasarkan fahaman Sunnah dan salafussoleh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s